Wednesday, October 16, 2019

6 Rahasia Dibalik Tingkah Laku Kucing


Sumber Gambar : Resplash

Kucing adalah salah satu hewan jinak yang memiliki kedekatan dengan manusia. Setidaknya sejak zaman Mesir kuno kucing telah dianggap sebagai salah satu hewan yang sakral. Masyarakat Mesir kuno terkenal sangat mengistimewakan binatang ini. Pada zaman kemunculan agama Islam, salah satu sahabat bahkan sangat akrab dengan kucing. Saat ini, berbagai jenis kucing telah dipelihara manusia, baik untuk kegemaran atau hanya sekedar untuk mengusir tikus tikus yang merajalela. 
Tahukah Anda jika tingkah laku kucing dihadapan pemiliknya memiliki maksud maksud tertentu? Mungkin sebagian dari kita akan menganggap itu sebagai hal yang wajar. Atau bahkan dapat kita anggap biasa karena kedekatan yang telah terjalin. Akan tetapi, masyarakat Jawa yang letaknya jauh dari Mesir, pun juga memiliki kepercayaan tertentu berkaitan dengan tingkah laku kucing. 

Baca Juga :

Menurut orang Jawa, setidaknya ada enam perilaku kucing di hadapan pemiliknya. Namun sebelum kita membahas enam kebiasaan tersebut, kita perlu ingat bahwa orang Jawa memiliki kebiasaan untuk mengamati hal-hal yang terjadi di sekitarnya. sangat dimungkinkan jika rahasia di balik tingkah laku kucing di hadapan pemiliknya ini adalah hasil dari sebuah observasi yang sangat panjang. Kita tidak perlu meyakini hal ini secara berlebihan. Anggap saja ini sebagai salah satu kearifan masyarakat Jawa dalam menjalin kedekatan dengan kucing. Berikut adalah rahasia di balik 6 kebiasaan kucing di hadapan pemiliknya:
Pertama, jika kucing memandang kepada pemiliknya tanpa berkedip, hal ini menandakan bahwa pemiliknya akan memperoleh rezeki., 
Kedua, jika seekor kucing duduk terdiam tanpa bergerak di hadapan pemiliknya, maka pemiliknya akan memperoleh sebuah anugrah.,
Ketiga, jika seekor kucing tidur di atas ikat kepala, baju atau sarung milik si pemilik, maka si pemilik akan memperoleh uang yang halal.,
Keempat, seekor kucing berdiam di pojok rumah dan tidak berpindah-pindah dalam waktu yang relatif lama, maka pemiliknya akan menerima kebahagiaan. Sedangkan apabila kucing tersebut mendiami empat pojok rumah secara bergantian, maka pemiliknya akan memperoleh anugerah yang besar.,
Kelima, jika seekor kucing selalu bergulung-gulung di hadapan pemiliknya, hal tersebut menandakan pemiliknya akan memperoleh tipu daya dari orang lain.,
Keenam, jika seekor kucing menunjukkan kuku-kukunya yang tajam kepada pemiliknya, maka hal tersebut menandakan adanya durjana yang sedang mengintai kekayaan si pemilik kucing. 

Itulah rahasia dibalik tingkah laku kucing di hadapan pemiliknya. baik buruknya peristiwa yang terjadi di sekitar kita bukanlah karena daya dan upaya dari kucing tersebut. Semua yang buruk dan baik berasal dari ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Ada baiknya kita tidak menganggap berlebihan tanda-tanda tersebut. Yang perlu kita perhatikan adalah, kita harus bersikap baik kepada hewan hewan peliharaan kita. 

Referensi :
Kitab Betaljemur Adammakna, Hal, 194

Resensi Buku Eksistensiame Dan Humanisme


Penulis            : Jean Paul Sartre
Penyunting      : Kamdani
Penerbit           : pustaka Pelajar
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tahun Terbit   : Oktober 2002
Tebal               :  V+148 Halaman
Ukuran             : 12x19 cm
Harga               : Rp30.000,00 
ISBN                 : 979-9289-93-9

Buku ini sebenarnya adalah buku yang sudah lama terbit. Akan tetapi sangat sulit kita cari resensinya. Buku ini ditulis oleh seorang filosof asal Prancis yang sangat terkemuka. Eksistensialisme berkembang di Prancis hampir bersamaan dengan pesatnya filsafat dialektika di Jerman. Mungkin kata personal akan menjadi kata kunci yang baik untuk memahami eksistensialisme, sebagaimana dinyatakan oleh Philip Mairet pada pengantar buku ini 
Sartre mengawali bukunya dengan kritik yang disampaikan oleh berbagai kalangan terhadap eksistensialis. Diantara kritik itu adalah eksistensialisme hanya mengundang orang untuk tinggal dengan tenang bersama keputusasaan. Mereka orang-orang eksistensialis selanjutnya akan berkontemplasi atas kenyataan. Kaum Marxis mengkritik hal ini sebagai pekerjaan Borjuis semata. Hal tersebut cukup masuk akal, mengingat orang yang memiliki banyak waktu untuk berkontemplasi adalah orang-orang dengan harta yang mencukupi. Sedangkan bagi kelas buruh, kontemplasi hanya akan membuat mereka semakin mengalami masalah.

Baca Juga :

Bantahan demi bantahan terhadap pengkritik eksistensialis tersaji secara menarik pada buku ini. Perdebatan mana yang lebih dulu antara esensi dan eksistensi tersaji secara rapi. Pun demikian, anda perlu membaca buku ini secara langsung, guna mendapatkan penilaian subjektif masing-masing atas buku ini. Subjektif adalah sebagian dari eksistensi itu sendiri. Kita perlu memahami bahwa kita terlebih dahulu eksis baru kemudian memiliki esensi. 
Sartre membagi eksistensialis menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah golongan eksistensialis Kristen. Golongan ini diwakili oleh Jaspers dan Gabriel Marcel. Sedangkan golongan kedua adalah golongan eksistensialis atheis. Eksistensialis golongan kedua ini diwakili oleh Heidegger dan Sartre sendiri. Persamaan diantara keduanya adalah keyakinan bahwa eksistensi muncul lebih dahulu dari esensi. 
Buku ini diakhiri dengan catatan diskusi antara Sartre dan orang-orang yang tidak bersepakat mengenai eksistensialisme. Salah satu diskusi yang menarik adalah ketika muncul pertanyaan an-an tank dua buah pilihan. Jika seseorang diberi dua buah pilihan antara permen dan coklat, bukankah itu adalah hal yang menyiksa bagi orang yang memilih?  Pilihan-pilihan itu adalah bentuk nyata dari penyiksaan terhadap manusia itu sendiri. Eksistensi akan terwujud apabila kebebasan terlampaui. Silahkan membaca buku yang menarik tersebut lebih lanjut. 

Friday, October 11, 2019

Perbedaan Antara Modal Manusia (Human Capital) Dan Modal Sosial (Social Capital)


Pada tulisan sebelumnya, Saya telah menguraikan tentang jenis-jenis modal yang dikenal dalam sosiologi. Pada tulisan tersebut masih menyisakan pertanyaan tentang perbedaan antara modal manusia dan modal sosial. Jika anda ingin membaca tentang jenis-jenis modal yang menjadi bahasan sebelumnya, silahkan klik Di Sini

Model manusia dan modal sosial adalah dua jenis modal yang sama-sama menitikberatkan pada manusia. Meskipun demikian keduanya sebenarnya berbeda. modal sosial berkaitan erat dengan pengalaman seseorang untuk mengelola perusahaan ataupun kemampuan khusus dalam memproduksi barang-barang tertentu. Kemampuan produksi di sini adalah kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh semua orang dan didapatkan dari pengalaman yang mendalam. Untuk dapat dikatakan sebagai modal manusia maka orang tersebut harus menginvestasikan kemampuannya untuk kemajuan perusahaan an-nahl taupun lembaga tertentu. (Usman, 2018:3-4).

Human capital dapat dicapai dengan berbagai hal. Misalnya saja orang-orang dengan pendidikan tinggi, orang-orang yang profesional serta orang-orang dengan kemampuan manajemen yang baik. Jika kemampuan kemampuan tersebut diterapkan, dapat pula disebut sebagai modal manusia. Akan tetapi, jika kemampuan itu tidak diterapkan kan, maka perusahaan atau lembaga yang memperkerjakan orang tersebut put dapat dianggap tidak memiliki modal manusia. 

Modal sosial adalah model yang berkaitan dengan relasi relasi sosial antara seseorang dengan orang yang lain. Seseorang yang memiliki banyak relasi sosial dan kemudian menggunakan relasi sosial tersebut untuk memajukan perusahaan ataupun lembaga tempat dia bekerja ja, maka dapat dikatakan orang tersebut memiliki modal sosial. Sebaliknya, apabila relasi sosial yang dimiliki oleh seseorang tidak digunakan ataupun tidak diinvestasikan untuk kemajuan, maka hal tersebut tidak termasuk modal sosial. 

modal sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk memperbesar suatu perusahaan ataupun lembaga masyarakat dalam waktu yang yang yang lebih singkat. hal ini dikarenakan telah adanya relasi-relasi sosial yang terjalin antara masing-masing aktor. Dengan modal sosial yang mempuni, penyebaran dari sebuah inovasi ataupun hal-hal baru lebih mudah dilakukan. Pada tulisan tulisan berikutnya, kita akan mengulas tentang teori-teori modal sosial menurut para pakar. 

salah satu perbedaan yang paling mencolok antara modal manusia dan modal sosial adalah tempat keberadaan keduanya. Model manusia seperti halnya tingkat pendidikan, keahlian khusus, kemampuan manajemen organisasi serta pengalaman dibidang tertentu berada di dalam diri seseorang. Sedangkan modal sosial, yang menitikberatkan pada relasi relasi sosial antara tokoh satu dengan yang lain, berada di luar dari diri manusia. Demikian pembahasan kali ini, semoga bermanfaat. Untuk keterangan lebih mendalam, silakan telusuri literatur yang tercantum pada daftar pustaka. 

Daftar Pustaka :
Usman, Sunyoto, 2018. Modal Sosial, Yogyakarta, Pustaka Pelajar

Thursday, October 10, 2019

Resensi Buku Sofis


Penulis            : Plato
Editor                : Muhammad Aswar
Penerbit           : Basabasi
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tahun Terbit   : Januari 2019
Tebal               :  136 Halaman
Ukuran             : 14x20 cm
Harga               : Rp54.000,00 

Pernahkah anda mempelajari filsafat? Jika sudah, mungkin buku ini akan menjadi penambah wacana filosofis yang menarik. Terutama tentang pemikiran-pemikiran filsafat Yunani klasik. Bagi Anda yang belum pernah mempelajari filsafat, buku ini akan membawa anda pada pemahaman mendasar tentang filsafat klasik. 

Sebagian orang menganggap bahwa mempelajari filsafat adalah hal yang sangat rumit. Hal tersebut tidaklah sepenuhnya salah, akan tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Buku ini akan mengantarkan Anda pada khazanah pengetahuan filosofis yang menarik dan mendalam. Buku Sofis adalah buku yang tepat bagi para pembaca filsafat di tahap pemula. 

Baca Juga :

Sofis adalah buku karya filsuf terkemuka Yunani yaitu Plato. Buku ini adalah hasil catatan Plato atas diskusi yang berlangsung antara Theaetetus dan orang asing. Theaetetus adalah salah satu murid socrates, sedangkan orang asing adalah murid dari Parmenides. Mereka berdua berdialektika tentang makna filsuf, negarawan dan Sofis. Sungguh pengantar filsafat yang menarik. 

Proses dialektika dalam buku tersebut dibuka dengan diskusi antara Socrates dan Theodorus. Dialektika dimulai antara Theaetetus dan orang asing dengan membahas perburuan hewan-hewan laut. Mereka selanjutnya membagi proses perburuan itu menjadi dua bagian. Dari pembagian tersebut muncul pembagian-pembagian berikutnya. Mereka juga membagi jenis-jenis seni. Serangkaian dialektika panjang terjadi untuk menemukan siapa sebenarnya Sofis. 

Dialektika antara kedua orang tersebut berlangsung sangat seru dan mendetail. Mereka menemukan Sofis di berbagai tempat. Mereka menemukan bahwa Sofis adalah pemburu, pedagang eceran, pedagang dalam jumlah besar, orang yang memproduksi pengetahuan,  seni berdialektika serta di tempat-tempat lain. Menariknya, mereka juga mendialektikakan tentang keberadaan dan ketiadaan. Berbagai pergumulan argumentasi tersaji dengan rapi dan menjanjikan. meskipun buku ini hanya berisi tentang catatan diskusi antara murid Socrates dan murid Parmenides, bukan berarti buku ini berisi hal yang sederhana. Buku ini padat akan pengetahuan filsafat yang sangat memadai untuk dibaca.