Wednesday, April 25, 2018

JENUH


Semilir angin terus mendera.
Kabut pagi yang sejuk tak kurasa.
Petir yang menggelegar pun tak kuanggap ada.
Yang ada hanya penat di kepala.
Hari demi hari yang berlalu.
Bulan demi bulan yang melelahkanku.
Aktivitas-aktivitas murahan yang membeku.
Terus berulang dalam realitas semu.
Apakah aku sadar tentangnya.?
Ya, aku tak pernah menghiraukannya.
Kebosanan yang terakumulasi dalam masa.
Kebuntuan yang larut dalam jiwa.
Semua timbulkan jenuh tiada tara.
Terkutuklah wahai realita!
Angkara dan dusta berkuasa.
Si bijak terluka.
Si bodoh tertawa.
Dan Aku, terbungkam tanpa kata.
Hidup macam apa ini?
Intoleransi disana sini.
Ketidakadilan terus terjadi.
Aku jenuh dengan semua ini.
Yang pasti,
Aku ingin pergi dan lari.

Sumber gambar: google

Wednesday, April 18, 2018

JAMBORE GUSDURIAN JAWA TIMUR, UPAYA MENUJU KESETARAAN


Surabaya, 15 April 2018
Akhir-akhir ini, isu intoleransi dan hoax merajalela. Masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang suatu informasi, menjadi korban dari berita-berita yang tidak benar adanya. Selain itu, ketimpangan sosial dalam masyarakat indonesia masih terus terjadi. 
Gusdurian adalah komunitas bagi mereka yang mencintai dan berkeinginan untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur. Cita-cita besar Gus Dur untuk indonesia tidak boleh terhenti. Oleh sebab itu, dengan adanya komunitas Gusdurian, perjuangan dan gagasan-gagasan Gus Dur tersebut terus berlanjut.
Dalam rangka mempertemukan seluruh anggota komunitas jaringan Gusdurian se-jawa Timur, maka presidium wilayah Gusdurian Jawa Timur mengadakan jambore sekaligus rapat koordinasi wilayah. Rapat koordinasi wilayah tersebut dilaksanakan di Pura Segara Anakan Kenjeran, Surabaya pada 13-15 April 2018. 
Pada rapat koordinasi wilayah kali ini, dihadiri oleh perwakilan dari komunitas Gusdurian yang terdapat pada masing-masing kota dan kabupaten se-jawa timur. Pertemuan tersebut di mulai dengan istighosah bersama serta berkenalan antar anggota komunitas.


Baca juga : 


Pada hari Sabtu, komunitas Gusdurian bertemu dengan salah satu sahabat Gus Dur yaitu Kiyai Haji Imam Aziz. Beliau saat ini aktif pada organisasi Nahdlatul Ulama. Beliau termasuk salah satu ketua dalam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. KH Imam Aziz menyampaikan pengalaman-pengalamannya selama bertemu Gus Dur. Selain itu, beliau juga menyampaikan tentang syarat-syarat dari demokrasi. 

Setelah bertemu langsung dengan salah satu Sahabat Gus Dur, rapat koordinasi wilayah dilanjutkan dengan penyampaian perkembangan komunitas dari Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia, yang disampaikan oleh Sahabat Jay. Dalam kesempatan tersebut, disampaikan tentang isu-isu Nasional yang menjadi fokus gerakan dari Jaringan Gusdurian Indonesia. 
Dalam rapat koordinasi wilayah tersebut, forum dibagi menjadi tiga kelompok besar. Kelompok besar tersebut meliputi: bidang penggerak dan kaderisasi, bidang advokasi, serta bidang media sosial. Jalan tiga kelompok besar tersebut, dibahas tentang rencana kegiatan komunitas Gusdurian se-jawa timur selama satu tahun ke depan. Hasil dari rapat koordinasi wilayah tersebut diantaranya adalah:: 1) disampaikannya fokus kegiatan dari masing-masing komunitas di daerah., 2) berkomitmen untuk menangkal berita-berita kebohongan danu jaran kebencian., 3) sultan komitmen bersama untuk tidak membawa nama Gusdurian ke dalam praktek politik praktis. 

Sementara itu, sepanjang hari minggu, dilaksanakan sesi dialog bersama Mbak Alissa Wahid. Yang tidak kalah pentingnya adalah, adanya pemetaan empat dimensi terhadap situasi dan kondisi dalam masyarakat indonesia saat ini. Dari pemetaan tersebut, diketahui jika kondisi sosial masyarakat indonesia saat ini, masih belum ideal. Selain itu, kegiatan jambore Jaringan Gusdurian se-jawa timur tahun ini ditutup dengan seminar media serta pengenalan platform kabarkan.org. platform tersebut bertujuan untuk mengabarkan adanya ujaran kebencian ataupun diskriminasi yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Thursday, April 12, 2018

PASAR MODERN DAN PENEBANGAN HUTAN LIAR DALAM JANGKA JAYABAYA


Apa kabarnya para pembaca. Semoga senantiasa mendapatkan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa. Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan pembahasan tentang tafsir atas poin-poin dari jangka jayabaya. Pada pembahasan sebelumnya, telah dibahas tiga poin awal dari jangka jayabaya, yang salah satu isinya mengisyaratkan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baca Juga: 


Pada kesempatan kali ini, kita akan melakukan pembahasan poin keempat hingga keenam jangka jayabaya. Namun sebelum pembahasan saya uraikan lebih lanjut, tidak bosan bosan saya mengingatkan jika tulisan ini dibuat untuk memperkaya khasanah pengetahuan. Tulisan ini tidak bermaksud mencela atau bahkan merusak keyakinan pembacanya. Jadilah membaca yang cerdas di seluruh bacaan yang anda temukan. Nah, poin keempat hingga keenam dari jangka jayabaya adalah sebagai berikut: 
  • Kali ilang kedhunge, (Sungai kehilangan mata air)
  • Pasar ilang kumandang, (pasar keuangan suara).,
  • Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak, (itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat).,
Nah, itulah ketika poin dari jangka jayabaya yang akan saya bahas kali ini. Jika terdapat penafsiran yang menurut anda kurang tepat, silahkan tulis di kolom komentar beserta argumentasinya.


Hilangnya Mata Air. 
Sungai adalah jalan bagi mengalirnya air dari hulu menuju ke hilir. Bagi masyarakat pertanian seperti halnya masyarakat jawa, air sangat penting untuk menjaga pertumbuhan tanaman pangan. Jika ketersediaan air menipis, dampak yang ditimbulkan akan sangat luas. 
Pada jangka jayabaya disebutkan, "Kali ilang kedhunge, (Sungai kehilangan mata air)." Hilangnya mata air yang menjadi sumber pengairan bagi lahan pertanian, disebabkan oleh semakin maraknya penebangan hutan secara liar. Penerbangan hutan secara liar tersebut mengakibatkan tanah juga tidak mampu menyerap air lebih banyak saat musim hujan. Akibat yang ditimbulkan selanjutnya adalah adanya bencana banjir bandang serta tanah longsor. 
Saat musim kemarau datang, yang terjadi adalah kekeringan panjang. Sungai-sungai mengering tak lagi ada airnya. Sumber mata air di hulu sungai telah lenyap karena maraknya pembalakan hutan. Jika hal ini dibiarkan, maka pulau jawa akan mengalami kekeringan dan kegagalan panen. Akan tetapi, kita tidak boleh menggunakan poin keempat dari jangka jayabaya ini sebagai legitimasi untuk menjarah hutan.

Mundurnya Pasar Tradisional, Pesatnya Pasar Modern
Pada saat kita masih berusia 5-7 tahun, terutama bagi yang lahir sebelum tahun 2000, mungkin salah satu diantara anda pernah diajak ke pasar tradisional. Lazimnya di pasar tradisional terjadi tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Proses bertransaksi antara perdagangan dan pembeli disertai proses tawar menawar tersebut, telah terjadi jauh sebelum indonesia memeluk kemerdekaan. 
Semenjak tahun 2000, lagu perkembangan pasar modern semakin menjadi-jadi. Yang menjadi perbedaan yang mencolok antara pasar tradisional dan pasar modern adalah tidak adanya proses tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Sebaliknya, pembeli bebas menentukan barang-barang yang akan dibeli olehnya. Keramaian yang dulu terjadi di pasar tradisional antara pedagang dan pembeli, tidak lagi terjadi pada pasr modern. "Pasar ilang kumandang" begitu kata jangka jayabaya. Menurut data yang dirilis pada tahun 2017, pasar modern yang berbentuk minimarket berkembang sangat pesat.

Disamping berkembangnya pasar modern berubah minimarket, hadirnya tuku online sebagai dampak dari kemajuan teknologi, semakin membuat pernyataan pada jangka jayabaya tersebut makin nyata. Dalam transaksi jual beli online, tidak ada suara dalam pengertian lisan yang dikeluarkan baik oleh penjual maupun pembeli. Dalam proses transaksi jual beli dilakukan secara senyap tanpa adanya hiruk pikuk nanoe lalang sebagaimana yang terjadi pada pasar tradisional. Berikut adalah 10 besar tuku online terbaik di indonesia yang bersumber dari liputan6.com .

Perubahan yang terjadi pada pola berbelanja masyarakat, secara umum dapat menunjukkan adanya dinamika dalam kehidupan masyarakat jawa. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut terutama dalam proses jual beli, menunjukkan adanya pergeseran gaya hidup dari masyarakat jawa,  yang awalnya sangat komunal, menjadi sangat individual. 

Datangnya Zaman Jayabaya
Ramalan jayabaya dibuat untuk memprediksi sejak rasain kediri pinggang akhir dari kehidupan di tanah jawa. Jika merujuk pada pernyataan tersebut, maka kita dapat menyimpulkan bahwa datangnya zaman jayabaya adalah akhir dari kehidupan di tanah jawa. 
Untuk memahami point keenam ini, kita harus memahami 5 poin sebelumnya. Jika diurutkan dari awal, maka 5 poin sebelumnya menggambarkan urut-urutan zaman yang berlangsung di tanah jawa. Urut-urutan zaman tersebut berlangsung sejak zaman penjajahan, kemajuan dalam bidang transportasi, terjadinya kerusakan alam hingga perubahan pola hidup pada masyarakat.  Jika merujuk pada urutan-urutan tersebut, maka seharusnya, poin keenam ini menggambarkan detik-detik akhir tanah jawa.

Demikianlah pembahasan pada kali ini. Semoga dapat menambah wawasan dan khazanah pengetahuan anda semua. Semoga dengan adanya tulisan ini, anda dapat semakin menyadari betapa ilmu dari Tuhan Yang Maha Esa lebih sempurna dari pengetahuan manusia dengan segala akal budinya.

Sumber gambar: Bayu Wicaksono
Sumber Buku: Babad Tanah Jawi karya Soedjipto Abimanyu, Penerbit : Laksana
Sumber Internet :

Friday, April 6, 2018

AL KINDI, BAPAK FILSAFAT ISLAM. (Bagian 4, Dalil Adanya Tuhan)

By : Teguh Kasiyanto

Al Kindi mengajukan beberapa argumen untuk membuktikan tentang adanya Tuhan. Argumen-argumen tersebut terdiri dari argumen filosofis dan argumen teologis. Pertama, menurut hukum sebab akibat yang telah dikemukakan di bagian sebelumnya, dinyatakan bahwa alam semesta ini berawal dari ketiadaan. Alam semesta ini juga terbatas dan tidak abadi. Karena alam Berawal dari sebuah ketiadaan, maka berdasarkan hukum sebab akibat sudah tentu alam semesta ini ada yang mengadakan. Yang mengadakan alam semesta inilah yang menciptakannya. Yang menciptakan alam semesta disini adalah Tuhan. Ketika Tuhan sebagai pencipta dan karya ciptanya yang berubah semesta ini ada, maka Dia (Tuhan) berarti ada. Kedua, berdasarkan prinsip bahwa segala sesuatu tidak dapat menjadi sebab atas dirinya sendiri, karena agar dapat menjadi Sebab bagi dirinya sendiri sesuatu itu harus ada sebelum dirinya. Apa yang dimaksud sebagai "sesuatu" disini adalah semesta. Artinya Jika sesuatu tersebut tidak dapat memunculkan dirinya sendiri, maka sesuatu tersebut membutuhkan sesuatu yang berada di luar dirinya untuk menyebabkan dia dapat berwujud. Nah, yang mewujudkan alam semesta ini adalah Tuhan. Secara sederhana dapat kita analogikan alam semesta ini sebagai sebuah kue. Bagaimana mungkin sepotong kue dapat mewujudkan dirinya sendiri tanpa adanya peran manusia untuk membuatnya.?

Baca juga :
http://ilmubarokahmanfaat.blogspot.co.id/2018/01/al-kindi-bapak-filsafat-islam-bagian-3.html

Argumentasi ketiga, berdasarkan analogi antara alam makrokosmos (semesta) dan alam mikrokosmos (manusia). Al-kindi menggunakan analogi kaum Stoik. Kaum  Stoik adalah salah satu aliran filsafat Yunani kuno yang berkembang setelah masa Aristoteles. Menurut argumen ini, persis sebagaimana tubuh manusia yang bergerak dan berfungsi secara tertib dan mulus yang menunjukkan adanya sang pengatur yang cerdas dan tidak kelihatan, yaitu jiwa, demikian juga dengan alam. Alam semesta ini berjalan sesuai dengan keteraturannya sendiri. Oleh sebab itu, keteraturan tersebut pastilah ada yang mengatur. Tuhanlah yang mengatur keteraturan alam semesta, sebagaimana jiwa mengatur segenap anggota tubuh manusia. Meskipun analogi yang digunakan adalah analogi yang biasa dipakai oleh kaum stoicisme yang berkembang dimasa Yunani kuno, Namun bukan berarti Al-Kindi sepakat sepenuhnya dengan ajaran mereka. Al-kindi adalah seorang muktazilah yang taat. Sehingga keyakinan dan senternya terhadap Tuhan sangat kuat. Penggunaan analogi yang dipakai oleh Al-Kindi bukan berarti mendukung metafisika umum stoicisme. Akan tetapi dia hanya menyepakati aspek metodologisnya.
Argumen ke-4 adalah argumen teologis yaitu dalil Inayah. Dalil ini menyatakan bahwa semua gejala alam yang tertib, teratur, dan menakjubkan tidak mungkin terjadi secara kebetulan, melainkan pasti karena adanya tujuan dan maksud tertentu sekaligus menunjukkan adanya Zat Yang Maha Mengatur, yang merupakan pembangkit dari semua pembangkit, yang pertama dari semua yang pertama, dan yang menjadi sebab dari semua sebab. Al-kindi menyatakan:
"Susunan alam dan keteraturannya yang mengagumkan dimana setiap bagian selaras dengan bagian lainnya, beberapa bagian tunduk pada pengaturan bagian lainnya, juga pengaturannya yang sempurna, di mana yang terbaik selalu terpelihara dan yang terpuruk senantiasa ter binasakan, semua adalah penunjuk yang paling baik dan jelas tentang adanya sistem pengaturan yang sangat cerdas, yang dengan demikian menunjukkan adanya Sang Maha pengatur yang sangat cerdas."
"Keteraturan, ketertiban, dan keselarasan alam raya ini adalah wujud dari pengaturan-Nya yang bijak dan sempurna. Sungguh kehidupan alam yang serba teratur dan bijak telah cukup {sebagai bukti tentang ada-Nya) bagi mereka yang mampu melihat dengan pikiran jernih."
Argumentasi yang diajukan oleh al-kindi di bagian akhir tersebut, sering digunakan sebagai landasan para filosof muslim generasi berikutnya. Hal tersebut sudah dapat menunjukkan sekaligus membuktikan jika alam semesta ini diciptakan dari sebuah ketiadaan. Alam semesta ini juga diatur oleh Zat yang Maha Pengatur yaitu Tuhan Yang Maha Esa.




Referensi

Aizid, Rizem, 2013, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap Periode Klasik, Pertengahan dan Modern, Yogyakarta, Diva Press.
Asy-Syahrastani, 2009, Terjemah Al-Milal Wa Al Nihal, Surabaya, Bina Ilmu
Khudori Soleh A., 2016, Filsafat Islam Dari Klasik Hingga Kontemporer, Yogyakarta, AR-RUZZ MEDIA.