Wednesday, November 29, 2017

RESENSI BUKU CULTURAL STUDIES TEORI & PRAKTIK

By : Teguh Kasiyanto

Penulis          : Chris Braker
Penerbit        : Kreasi Wacana
Tahun Terbit : 2015
Tebal             : XXVI+470 Halaman
Ukuran          : 16x24 cm
Harga             : Rp70.000,00


         Cultural studies adalah perkembangan teori-teori sosiologis. Cultural Studies sendiri muncul setelah postmodern. Dalam perkembangannya, sebenarnya sudah ada yang lebih baru daripada wacana cultural studies, yaitu wacana-wacana poskolonial. Secara lebih spesifik, cultural studies adalah penerus dari teori post-marxis. Sangat disarankan sebelum membaca buku ini, terlebih dahulu mempelajari teori teori Marxis terdahulu.
         Buku Cultural Studies ini, terbagi ke dalam tiga bagian besar. Bagian-bagian sel tersebut diawali dari landasan tentang cultural statis, perubahan konten pada cultural studies dan bagian yang terakhir membahas tentang situs-situs Cultural Studies. Secara umum pembagian buku ini ke dalam tiga bagian besar sangat menunjukkan akan padatnya konten buku ini.
         Bagian pertama dari buku ini terdiri atas tiga bab. Bab pertama membahas tentang pengantar menuju wacana-wacana cultural studies. Bab yang kedua membahas tentang pertanyaan-pertanyaan seputar kebudayaan dan ideologi. Sementara BAB yang ketiga, menyajikan tentang kebudayaan makna pengetahuan serta linguistik dalam cultural studies. Pada bagian awal ini, kita akan menumbuhkan betapa sebuah istilah lahir bukan tanpa adanya maksud, melainkan sebuah istilah dilahirkan untuk kepentingan-kepentingan kapitalisme global.
         Bagian kedua dari buku ini tak kalah menariknya untuk kita baca dan kita cermati. Dalam bagian kedua ini dibahas mengenai dua hal. Yang pertama tentang kekacauan baru di muka bumi. Dan yang kedua, pembahasannya fokus pada pasca modernisme. Negara, politik serta gerakan sosial baru juga menjadi bahasan dalam bagian kedua ini. Modernisme dan kebudayaan serta perkembangannya ke arah postmodern dibahas secara lugas pada bab kelima buku ini.

Baca juga : 
https://ilmubarokahmanfaat.blogspot.co.id/2017/11/resensi-buku-ki-ageng-suryo-mentaram.html

         Praktik-praktik cultural studies menjadi pokok bahasan dari bagian ketiga. Pada bagian ketiga buku ini yang secara spesifik membahas tentang situs-situs Cultural Studies, menjadi sajian yang cukup mampu membuat kita mengerti tentang cultural studies. Bagian ketiga ini terdiri dari 7 bab utama. Isu-isu tentang subjektivitas, ras, jenis kelamin, representasi, drama, opera sabun, tontonan televisi, serta pembahasan tentang anak-anak remaja ada di dalamnya. Bagian ketiga ini sangat rugi jika dilewatkan oleh para pembaca.
         Secara umum buku ini dapat dikatakan bagus dan menyeluruh dalam pembahasannya. Buku ini sangat membalas setiap babnya dengan subbab subbab yang lebih kecil sehingga menjadi terperinci pembahasannya. Meskipun demikian, karena terlalu kompleksnya pembagian sub bab, menjadikan buku ini memiliki kekurangan, yang salah satu diantaranya adalah kurang mendalamnya dari bahasan setiap sub bab. Buku ini direkomendasikan bagi Anda yang memiliki ketertarikan pada dunia sosial, filsafat, pertunjukkan dan politik.

Monday, November 27, 2017

LAUNCHING MAJALAH TEGALBOTO EDISI KE-18

Reporter : Teguh Kasiyanto, Qorib Sony Marta S,

Gerimis masih mengguyur di luar sana. Waktu sudah menunjukkan pukul jam 18.30 menit saat kami bersiap-siap untuk menghadiri peluncuran dari majalah Tegalboto yang ke-18. Sepeda motor pun sudah dinyalakan, kami pun siap untuk menuju tempat pelaksanaan acara tersebut. Kami segera berangkat, namun sebelum itu sejenak berhenti di fotokopian untuk mencetak sebuah jurnal.
Tak Butuh waktu lama untuk sampai ke pelaksanaan acara tersebut. Acara tersebut dilakukan oleh UKMP TEGALBOTO, acara tersebut termasuk dalam rangkaian diesnatalis Tegalboto yang ke-24. Saat kami tiba di lokasi, kami bertemu dengan salah seorang dari pembicara diskusi pada malam hari ini. Kami sejenak berdiskusi dengan beliau, sebelum Kemudian kami izin untuk terlebih dahulu masuk ke tempat acara..
Kami kami duduk di Paris terdepan saat itu segera mengisi presensi yang disediakan oleh panitia. Kami datang mewakili undangan yang ditujukan kepada Pengurus PMII rayon FISIP Universitas Jember. Sesampai di dalam kami segera duduk di karpet merah yang telah disediakan oleh panitia. Kami duduk di barisan terdepan saat itu. Ketika kami datang, undangan yang datang Belumlah terlalu banyak.
Tak lama setelah kami duduk, dua gelas kopi dan snack sedangkan pada kami. Pada bagian awal ini saya menilai mereka para panitia sangat positif. Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu ada penampilan dari UKM Akar. Sekitar pukul 19.30 WIB, acara pun dimulai. Dibuka dengan beberapa sambutan, dan acara tersebut akhirnya resmi dibuka oleh Salah satu kelebihan dari Rektorat.
Acara diskusi segera dimulai. Diskusi dipandu oleh seorang moderator dan tiga pembicara, salah seorang dari pembicara tersebut adalah berasal dari internal UKM Tegalboto. Sementara dua pembicara yang lain adalah berasal dari dosen program studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Diskusi tersebut berlangsung dengan cukup seru.


Tema dari majalah tegalboto tahun ini adalah The Anomaly Of Love. Tema tersebut sangat menarik. Karena majalah tersebut membahas dan mengulas berbagai macam dinamika Cinta yang terjadi dalam realitas sosial. Majalah tersebut juga menampilkan berbagai ekspresi orang-orang yang mengungkapkan cintanya. Dinamika kehidupan dan liku-liku cinta seseorang dalam berbagai keterbatasan juga tak luput dari sasaran majalah ini. Tim redaksi dari majalah ini cukup baik dalam menyajikan berbagai macam fenomena cinta.

Diskusi berjalan cukup lama. Secara keseluruhan diskusi tersebut menghabiskan waktu tak kurang dari dua jam setengah. Waktu yang cukup lama dengan acara yang hanya launching sebuah majalah. Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh pimpinan kegiatan mahasiswa tersebut. Namun yang cukup mengecewakan bagi kami, setelah pemotongan tumpeng, panitia cenderung sibuk mengkondisikan diri sendiri. Waktu itu hanya Ridwan salah satu orang yang kukenal di komunitas yang mengajak kami untuk ikut serta menikmati tumpeng. Kami menolaknya, karena kami juga memikirkan teman-teman yang lain yang juga harusnya diperlakukan secara baik di akhir akhir acara. Memang Ridwan adalah bagian dari kepanitiaan, namun bagi saya dia tidaklah mewakili himbauan dari seluruh kepanitiaan. Harusnya panitia menyiapkan sebuah mekanisme untuk mengajak seluruh yang hadir untuk menikmati tumpeng yang ada. Tapi sekali lagi, tak ada acara yang sempurna. Bukan berarti dengan tulisan ini kami pembenci panitia, akan tetapi kami berharap dengan adanya tulisan ini, kedepannya seluruh kegiatan UKM tegalboto yang melibatkan undangan dapat diperlakukan lebih baik lagi. Tulisan ini hanyalah sebuah kritik dan saran untuk evaluasi dan kebaikan bersama. Semoga kritik dan saran dari tulisan ini dapat benar-benar membangun UKM Tegalboto yang lebih maju baik di Kancah regional, nasional bahkan internasional.

Saturday, November 25, 2017

RESENSI BUKU SEJARAH IDEOLOGI DUNIA

By : Teguh Kasiyanto

Penulis          : Nur Sayyid Santoso Kristeva
Penerbit        : Lentera
Tahun Terbit : 2015
Tebal              : xxvII+219 Halaman
Ukuran          : 14x21 cm
Harga             : Rp50.000,00
ISBN.              : 9786081090114


Ideologi adalah landasan berfikir dari setiap orang di dunia ini. Jika kita berbincang tentang ideologi, maka kita tidak akan lepas dari landasan berfikir dan landasan dari segala tindakan yang dilakukan. Sama halnya dengan negara-negara di dunia ini. Negara-negara tersebut juga memiliki ideologinya masing-masing. Setiap negara menggunakan ideologi sebagai landasan dari seluruh kebijakan dan peraturan yang dibuat dalam pemerintahan negara tersebut. Begitu besar pengaruh ideologi di dunia ini. Tentu hal tersebut tak lepas dari sejarah tentang ideologi itu sendiri. Berawal dari Yunani menghegemoni seluruh bumi.

Baca juga : 

Buku sejarah ideologi dunia ini, adalah sebuah buku yang menarik. Buku yang akan membawa anda ke alam berfikir dari masing-masing ideologi dunia. Jika anda membaca buku ini, maka anda akan menemukan prawacana ideologi di bagian awal nya. Pada bagian prawacana tersebut, Anda akan menemukan arti dari ideologi, sejarah singkatnya bahkan perkembangannya. Ideologi dalam ilmu sosial, logika dasar ideologi akar-akar dari sebuah ideologi.
Bab selanjutnya dari buku tersebut membahas tentang ideologi kapitalisme. Jika kita mendengar kata kapitalisme boleh jadi diantara anda menginginkan hal tersebut dengan pendapatan kapital. Kapitalisme sendiri adalah sebuah ideologi yang memacu setiap pengikutnya untuk memiliki kekayaan ataupun kepemilikan kapital setinggi-tingginya. Buku ini juga membahas perkembangan ideologi kapitalisme dari sekitar tahun 1500 hingga tahun 1915. Dan ideologi kapitalisme adalah ideologi yang menguasai tatanan dunia saat ini.
Ideologi sosialisme dan komunisme menjadi dua bab berikutnya. Sejarah dari kedua ideologi ini pun juga dibahas secara mendalam oleh penulis. Tokoh besar dari komunisme yaitu Karl Marx tak luput dari pembahasannya. Ide dasar dari kedua ideologi serta pembeda dari kedua ideologi tersebut. Kedua ideologi tersebut adalah ideologi yang memiliki kemiripan namun juga memiliki perbedaan.
Saat ideologi fasisme memperoleh zamannya, kerusakan pun tak dapat terelakkan. Fasisme yang pernah tersebar di Jerman yang cukup terkenal dengan Adolf Hitler, begitu menimbulkan banyak korban berjatuhan. Dalam buku tersebut fasisme dijelaskan sebagai campuran dari teori-teori yang paling radikal. Teori-teori tersebut disatukan dan terbentuk satu teori baru yang sangat radikal. Penulis buku ini juga menawarkan cara untuk melawan ideologi fasisme, sebagaimana yang ditawarkan oleh Leon Trotsky.
Anarkisme adalah bab berikutnya dari buku ini. Disusul dengan ideologi anarkisme dan marxisme dan ideologi konservatisme. Anarkisme adalah sebuah ideologi yang mendekati ideologi sosialisme. Ideologi tersebut tidak menghendaki adanya negara. Di bagian akhir buku ini ditambahkan beberapa lampiran yang membahas persebaran Ideologi dan penjelasan penjelasannya. 
Secara keseluruhan buku ini sangat baik dan direkomendasikan bagi setiap pembaca yang memiliki minat tinggi di bidang ilmu-ilmu sosial. Akan tetapi yang menjadi sedikit kekurangan dari buku ini adalah tidak adanya Bahasan tentang ideologi Pancasila. Padahal baik Indonesia maupun Pancasila merupakan bagian dari belahan dunia ini. Mungkin saja ideologi Pancasila memiliki kemiripan dengan ideologi sosialisme, akan tetapi bukan berarti ideologi Pancasila itu Sama persis dengan ideologi sosialisme. Semoga resensi ini bermanfaat bagi sahabat-sahabat semua. Terima kasih telah membaca tulisan ini.

SELAMAT MEMBACA.........

RESENSI BUKU KI AGENG SURYO MENTARAM SANG PLATO DARI JAWA

By : Teguh Kasiyanto

Penulis          : Ratih Sarwiyono
Penerbit        : Cemerlang Publishing
Tahun Terbit : 2017
Tebal             : VII+200 Halaman
Ukuran          : 14x21 cm
Harga             : Rp37.000,00



Ki Ageng Suryomentaram adalah salah seorang bangsawan dari Keraton Yogyakarta. Nama kecil dari Ki Ageng Suryomentaram adalah Raden Mas Kudiarmaji. Ayahandanya adalah Sultan Hamengkubuwono VII. Ibunya bernama Retnomandaya. Beliau terlahir dari keluarga yang cukup mapan lagi terpandang. Beliau dilahirkan pada tanggal 20 Mei 1892  tempat Menjelang Magrib. Beliau bukanlah anak pertama dari Sultan Hamengkubuwono VII, akan tetapi beliau adalah anak yang ke 55.
Ki Ageng Suryomentaram adalah sosok yang tidak terlena akan status sosialnya. Beliau memiliki kegelisahan kegelisahan yang tak dapat dipecahkan selama berada dalam kungkungan istana. Kegelisahan  kegelisahannya pun diceritakan pada Kyai Ahmad Dahlan. Beliau disarankan untuk menunaikan ibadah haji. Namun setelah menjalankan ibadah haji, beliau belum juga menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan nya. Sang pangeran melarikan diri dari istana. Sang pangeran pergi ke Cilacap untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Di Cilacap, dia berdagang kain bersama sahabatnya. Kepergiannya dari Kraton Yogyakarta, tak urung membuat lingkungan Kraton mencari-cari keberadaannya, dia  akhirnya dipanggil kembali ke dalam Kraton. Apakah yang terjadi selanjutnya.?

Baca juga :
http://ilmubarokahmanfaat.blogspot.co.id/2017/11/resensi-buku-ensiklopedia-wayang.html

Buku yang tidak terlalu tebal ini cukup mudah dipahami. Penyusunan penulisan di dalamnya, tidak mengikat kita untuk membacanya secara urut dan runtut. Buku yang memiliki ketebalan tak kurang dari 200 halaman ini, terbagi ke dalam 7 bab. Ke pertamanya mengulas tentang sejarah pangeran Suryomentaram secara ringkas dan lugas. Sementara 6 bab berikutnya berisi tentang ajaran-ajaran dan konsep hidup yang diajarkan oleh Ki Ageng suryomentaram kepada kita semua.
Apa yang membedakan buku ini dengan buku-buku lain yang sama-sama membahas tentang Ki Ageng Suryomentaram.? Pada bab II hingga bab VII buku ini, secara spesifik membahas ajaran-ajaran Ki Ageng Suryomentaram. Dalam setiap poin ajarannya, penulis menyajikan kolom-kolom yang berisi pertanyaan yang dapat kita jawab secara Individual. Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, akan dapat membuat kita mudah untuk mengevaluasi diri sendiri. Yang cukup menarik pulang, pada bab terakhir buku ini ditawarkan tentang konsep tentang manusia merdeka. Mungkin karena inilah, penulis memberi judul buku ini dengan judul, Ki Ageng Suryomentaram Sang Plato dari Jawa.
Bagi Anda yang ingin mengevaluasi diri dan juga menginginkan hidup yang penuh filosofis, Tidak ada salahnya membaca buku ini. Karena, di dalam buku ini tertuang berbagai macam konsep kehidupan ala Ki Ageng Suryomentaram. Akan tetapi, Jika anda ingin menemukan biografi lengkap dari Ki Ageng Suryomentaram, buku ini bukanlah pilihan yang tepat. Karena dalam buku ini, hanya terdapat sebuah BAB yang menceritakan perjalanan hidup Ki Ageng Suryomentaram.


SELAMAT MEMBACA...........

KKL, PERJALAN PERTAMA KE PULAU DEWATA (Bagian 2)

Reporter : Teguh Kasiyanto

Hujan di luar masih turun dengan lebatnya. Kamis rombongan sudah menyelesaikan sholat dzuhur. Kami sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Suhu suhu di tempat ini sangatlah dingin, ditambah dengan kabut yang merayap di dahan dahan pepohonan membuat suasana semakin sejuk dan tenang.

Baca juga:
http://ilmubarokahmanfaat.blogspot.co.id/2017/11/kkl-perjalan-pertama-ke-pulau-dewata.html

Satu persatu dari kami mulai memasuki bus kembali. Karena hujan yang masih turun, kami pun bergantian menggunakan payung untuk sampai ke depan pintu bus. Nampaknya teman-teman sudah kekenyangan siang ini. Tak lama setelah bus melaju, suasana bus menjadi hening. Banyak di antara teman-teman yang sudah mengembara ke alam mimpinya masing-masing.
Bus melaju dengan kecepatan sedang. Tour guide yang menemani kami sesekali memberikan informasi yang menurutnya penting untuk diinformasikan. Akan tetapi Meskipun demikian, teman-teman lebih asyik mengembara ke alam mimpi daripada mendengarkan informasi. Maklumlah, perut kenyang ditambah suasana gerimis di luar bus memang adalah suasana yang cukup mendukung untuk melaksanakan tidur siang.
Bus melalui jalan yang terkadang berkelok-kelok. Tour gaet rombongan kami menginformasikan bahwa sebentar lagi kami akan sampai di tempat tujuan. Benar saja, Tak lama kemudian bus pun berhenti dan parkir. Teman-teman yang tadi minyak dalam tidur siangnya sudah mulai bangkit dari kursi peraduannya. Yang mereka cari pertama kali saat turun dari bus adalah toilet. Nampaknya Mereka banyak yang kebelet. Nampaknya Mereka banyak yang kebelet Entahlah kebelet apa. Yang pasti bukan kebelet nikah.
Suasana pedesaan yang masih Asri sangat terasa di sini. Meskipun cuaca di sore itu diselimuti mendung dan gerimis gerimis manja, namun tak membuat kami malas untuk menikmati nuansa Bali tempo dulu. Desa adat Penglipuran adalah salah satu desa yang terletak di Kabupaten Bangli Provinsi Bali. Kisah ini sangat unik. Mengapa demikian.? Meskipun serangan globalisasi dan pembangunan menggempur Bali semenjak lama, namun penduduk desa ini masih Memegang teguh adat istiadat leluhurnya. Arsitektur bangunan di desa ini, masih menggambarkan Bali di era klasik. Namun tentunya, dengan adanya aspal dan paving justru membuat daerah ini tak nampak klasik secara kualitas jalan.

Desa adat Penglipuran banyak didatangi oleh wisatawan. Dalam kondisi gerimis seperti ini pun, masih dijumpai wisatawan dari berbagai daerah baik nasional maupun internasional. Antara satu rumah dengan rumah yang lain memiliki keunikan yang sama, yakni bentuk gapura dan rumah yang sama-sama mempertahankan bentuk arsitektur Bali. Kami berjalan-jalan di desa ini. Meskipun tak cukup lama kami disini, akan tetapi bagi saya pribadi sudah cukup memberi gambaran tentang Suku Bali yang masih memegang culture Peninggalan nenek moyang.
Cahaya berkumpul dengan teman-teman. Ada yang foto bersama, Ada pula yang foto sendiri sendiri. Ya hitung-hitung biar tidak rugi. Bayar mahal mahal tapi tidak ada dokumentasi. Jadi, kita foto rame-rame. Kata istilah jaman now, no foto hoax. Lumayan, minimal dapat memenuhi akun medsos masing-masing.
Pukul 16.30 WITA kami berkumpul di dalam bus. Waktu satu setengah jam sudah cukup untuk memuaskan hasrat mereka yang hobi berselfie ria. Lanjut pir, teman-teman sudah berteriak. Bus yang beroda empat Inipun mulai merangkak di jalanan Pulau Dewata. Kontur jalan yang mendukung ditambah aspal yang bagus, membuat bus ini melaju dengan minim guncangan. Di antara teman-teman ada yang kembali terlelap. Teman-teman yang lain pun beramai-ramai banyak ikan lagu-lagu dangdut koplo sekaligus bercanda satu sama lain. Bus pun tak terlalu sepi. Karena teman-teman pun sedikit berteriak-teriak dalam bus.
Senja mulai meliputi Pulau Dewata. Matahari telah bersembunyi dalam liang peraduannya. Bus yang kami tumpangi sudah menapaki tepian kota Denpasar. Tujuan kami adalah Hotel Nirmala, malam ini kami akan beristirahat di hotel ini untuk mempersiapkan tenaga yang lebih besar di esok hari. Pukul 18.00 WITA kami telah memasuki area hotel. Selanjutnya kami diberikan kunci kamar masing-masing. Satu kamar berisikan 4 orang. Tentu saja 4 orang tersebut orang-orang yang sejenis bukan yang berlawanan jenis.
Kami pun menuju lantai dua. Aku sendiri satu kamar dengan Joko, Aam dan Hamid. Kami berempat masuk bersama-sama ke dalam kamar tersebut. Kami langsung mencoba merebahkan diri di atas kasur. Rasanya sangat luar biasa sekali. Mengingat tadi malam kami tertidur di atas bus. Satu persatu dari kami mandi bergantian. Aku pun mandi dengan menggunakan air hangat. Rasanya mandi dengan air hangat sangat menyegarkan tubuh yang merasakan penat. Selepas mandi dan berganti pakaian, kami bersama-sama menuju lantai lima untuk menikmati makan malam. Perut ini sudah meronta-ronta untuk diisi bahan-bahan makanan.

Pukul 20.00 WITA kami sudah melaksanakan makan malam. Agenda malam ini adalah bersantai menikmati suasana Pulau Dewata. Akan tetapi teman-teman nampaknya sudah benar-benar dicekam oleh rasa lelah dan kantuk luar biasa. Mereka tidur di kamar masing-masing dengan sangat lelapnya. Malam Kini aku sendiri akan bertemu dengan salah seorang alumni FISIP Universitas Jember yang kebetulan bekerja di Denpasar.


Hari ini aku belum ngopi. Jadi, aku mengajak Joko untuk turun ke bawah. Joko yang biasanya hobby dengan asap rokok, nampaknya juga sedang membutuhkan rokok. Kami pun keluar dari hotel. Kami pun menuju sebelah kiri hotel, di sana terdapat sebuah minimarket. Waktu itu, Aku membeli beberapa snack, kopi dan Sprite. Joko pun juga membeli bungkus rokok untuk menemani malamnya. Setelah itu, kamipun masuk ke hotel dan duduk di kursi yang ada di dekat resepsionis. Sembari menikmati sebotol kopi, kami duduk bersantai, mencoba menghilangkan rasa penat yang menggerogoti kesadaran kami.

Pukul 22.00 WITA, saya sudah ditunggu oleh orang tersebut. Segeralah aku turun menggunakan lift hotel menuju lantai dasar. Kami ngobrol bersama di depan Hotel sembari menikmati segelas kopi. Tak lama kemudian seorang alumni yang lain pun juga datang, dia adalah sahabat Haris. Dia membawa sebungkus gorengan yang masih sangat hangat. Jadilah Kami mengobrol semakin asyik. Apalagi kami juga ditemani oleh kopi yang menghilangkan rasa kantuk. Pukul 2330 WITA, mereka berpamitan untuk kembali ke kos. Aku pun mengucapkan terima kasih karena mereka sudah sudi menyempatkan diri untuk bertemu. Begitulah agenda di hari itu. Selanjutnya aku kembali ke kamar untuk beristirahat sembari menonton berita di televisi. Karena wifi id Hotel ini sangat lemot, jadi tidak dapat digunakan untuk beryoutube ria

BERSAMBUNG.........

Thursday, November 23, 2017

KKL, PERJALAN PERTAMA KE PULAU DEWATA (Bagian 1)

Reporter : Teguh Kasiyanto


Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 siang. Awan masih nampak menggelayut di angkasa. Di luar, nampak hujan masih turun. Hujan itu menghasilkan suara yang membuat hati tenang. Aku masih mondar-mandir untuk mencari setrika. Padahal sebenarnya, aku bukanlah orang yang terbiasa menyetrika baju. Tapi, mengingat pentingnya acara yang akan ku ikuti, akhirnya aku menyetrika.
Hujan masih menyirami hati yang kering. Aku sudah selesai menyetrika baju-bajuku. Aku segera mandi untuk bersiap-siap. Hari ini aku akan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) ke Pulau Dewata. Kegiatan ini dilakukan oleh mereka mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Jember saat sudah berada di semester ke-7. Ini adalah kegiatan ilmiah sekaligus rekreasi yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, selama enam semester selalu bergulat dengan kuliah tanpa ada momentum untuk berekreasi dengan teman satu angkatan.
Kami telah bersepakat untuk berkumpul pada pukul 15.00.. Akan tetapi, hujan masih terus melanda.  Percakapan di grup WhatsApp kelas terus berjalan. Grup itulah media untuk berkoordinasi antar teman satu angkatan. Satu persatu mulai datang ke kampus. Tapi, aku menunggu hujan agak reda untuk ke kampus. Aku terus menunggu hujan reda setelah melaksanakan shalat ashar.
Waktu sudah menapaki pukul 16.10. Perkembangan di grup WhatsApp kelas mengabarkan jika bus belum datang. Jelang setengah lima sore, bus pun datang. Lantas akupun menuju kampus. Sesampainya dikamous, teman-teman sudah berkumpul di bawah aula FISIP. Kaprodi memberikan sambutan dan wejangan sebelum kami berangkat. Setelah selesai doa, kamipun menuju kedalam bus. 
Aku sudah didalam bus. Aku duduk di deretan kanan nomor 4 dari belakang. Kami masih menunggu Roni dan Rosiadi yang belum merapat. Setelah mereka berdua datang, bus pun siap melaju di jalanan. Pukul 17.00 Kami menuju Bali.  Bus terus melaju. 
Pukul 17.45 bus sumber sampai di Sempolan. Bus berhenti sejenak. Muslim salah satu teman kami sudah menunggu disana. Dia segera naik bus. Bus kembali melaju, dan berhenti sejenak di minimarket di Garahan. Sebagian dari kami melaksanakan shalat Maghrib dan ada juga yang membeli makanan ringan.
Waktu menunjukkan pukul 18.45, bus kembali melaju. Setengah jam kemudian perbukitan Gumitir telah dilalui. Bus sudah masuk daerah Kalibaru. Ya, Kalibaru, ooo Kalibaru, Hmmm Kalibaru. Daerah ini sangat tak asing bagiku. Mungkin karena aku sering melintasi daerah ini, atau mungkin karena daerah ini adalah gerbang memasuki bumi Blambangan. Tapi entahlah, rasanya baik berkeeeta maupun bersepeda, rasanya daerah ini tak asing.
Roda-roda bus terus berputar meninggalkan Kalibaru dengan berbagai keunikan dan ceritanya. Tanpa sadar bus sudah sampai di Genteng. Teman-teman masih ramai saling bercanda. Sesekali aku ikut bercanda, sesekali merenung dan sesekali mengingat reading course yang sedang kutempuh. Satu lagi temanku naik bus dari Genteng, dia adalah Nova Larasati.  Seingatku dia gampang mabuk. Tapi semoga dia tidak mabuk sampai perjalanan pulang. Sampai di Banyuwangi kota, Erma juga Bergabung, genap lah semua satu kelas satu angkatan sebanyak 48 orang.
Pelabuhan sudah tak jauh lagi. Sekitar pukul 21.00, bus sudah memasuki area pelabuhan. Bus melaju perlahan. Sedikit demi sedikit bus masuk kedalam kapal. Bus pun berhenti. Kami keluar satu persatu menuju kapal bagian atas. Selat Bali sedang gerimis malam itu. Ditambah dengan adanya embusan angin yang dingin, membuat suasana kapal tersebut sangat tenang. Jangkar pun kemudian dilepaskan, pertanda kapal sudah siap untuk berlayar. Kapal berlayar dengan perlahan namun pasti menyebrangi Selat Bali. Ombak Selat Bali malam itu tak begitu besar namun juga tak begitu tenang. Kapal terus melaju hingga kurang lebih satu jam kemudian, kapal pun bersandar di dermaga Gilimanuk. 
         Pelabuhan Gilimanuk malam itu tak begitu ramai. Padahal dalam beberapa kesempatan, Pelabuhan ini begitu padat kendaraan-kendaraan yang akan menyeberang ke pulau Jawa. Pukul 23.30 waktu Indonesia tengah kami perlahan meninggalkan Pelabuhan Gilimanuk. Lima menit bus melaju, Bus berhenti di tepi jalan. Di seberang jalan sana terdapat sebuah masjid yang cukup megah. Masjid itu masuk ke dalam wilayah Kabupaten Jembrana Bali. Stasiun dari kami turun dari bus untuk menuju ke masjid itu. Kami melaksanakan salat Isya secara berjamaah namun pergantian. Sungguh di tanah para Dewata ini toleransi sangat tergambar dengan kuat.
00 30 WITA , bus kembali melaju ke arah Tenggara. Bus melalui jalan yang berkelok-kelok untuk sampai di kota Denpasar. Aku sudah cukup mengantuk saat itu. Karena memang dari pagi hingga sampai di masjid tadi, aku belum sempat tidur. Hal ini menyebabkan rasanya mata ini mengajakku terpejam. Tak lama kemudian aku pun terlelap dalam sebuah tidur yang terguncang-guncang oleh laju bus tersebut.
Pukul 06.00 WITA, tahu tahu aku aku terbangun. Ternyata aku sudah berhenti sejak dua jam yang lalu. Teman-teman sudah menikmati sarapan dan juga mandi pagi. Tapi ada pula diantara mereka yang belum mandi dan sarapan. Aku pun kemudian turun dan mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi aku pun mengambil jatah sarapan. Tempat saat ini kami berhenti adalah Desa Kertalangu, Denpasar. Aku pun mulai membuka kotak jatah sarapan pagi ini. Akan tetapi, karena didalamnya terdapat aroma ikan laut yang cukup menyengat, akhirnya aku menghentikan sarapanku. Maklumlah aku tidak mengkonsumsi ikan laut dan ikan ikan perairan lainnya. Jadi, Kurelakan sarapan pagi ku hanya dengan menyantap beberapa sendok nasi. Tapi, hal tersebut tak begitu penting bagiku.
Sekitar pukul 07.00 WITA, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan. Tujuan pertama kami adalah Trunyan. Kami akan sedikit melakukan penelitian disana. Penelitian ini adalah tugas utama dari Kuliah Kerja Lapangan ini. Tugas itu dikerjakan secara berkelompok. Setiap kelompok mendapatkan tema sendiri-sendiri. Kebetulan kelompokku kebagian tema yang berkaitan dengan ekonomi.
Bus mulai melaju. Pagi ini kami ditemani seorang tour guide yang merupakan orang Bali asli. Nama tour guide tersebut adalah I Made Suasa.  Dia memperkenalkan diri dengan ramah. Nampaknya dia adalah orang yang berpengetahuan luas. Dia menjelaskan perbedaan-perbedaan bahasa dan makna antara di Jawa dan di Bali. Dia menjelaskan setiap sudut Bali yang dilewati bus kami pagi itu. Tentang tanah Bulan dan pentas tarinya, Ubud dengan keunikannya hingga Cerita tentang istana Tampaksiring tak luput dituturkan. Made Suasa juga bercerita tentang Bung Karno dan sisi magisnya di Bali.

Sekitar pukul 08.30 WITA, kami tiba di tempat pemberhentian. Kami kemudian diangkut menggunakan kendaraan yang lebih kecil. Hal ini dikarenakan jalan yang harus ditempuh sempit dan berkelok-kelok. Kami pun berangkat. Jalan yang dilalui berkelok-kelok dan terjal di beberapa tempat. Lima belas menit kemudian, kami sudah tiba di tepi danau Batur. Selanjutnya kami harus menaiki perahu motor unenuju pura dan makam Trunyan.
Suasana di danau Batur sangat sejuk. Perahu yang kami tumpangi perlahan membelah danau Batur. Pagi itu, matahari seakan malu untuk menampakkan wajahnya yang cerah. Awan nampak berayun-ayun di atas sana. Beberapa saat kemudian kami menepi di pemukiman masyarakat Bali Aga. Disini kami disambut dengan sangat ramah. Kami diterima di sebuah pendapa. Disana kami bertanya jawab dengan salah satu dari petugas desa Trunyan. Kami tak lama bertanya jawab. Kemudian kami naik untuk melihat Pura, tempat masyarakat setempat beribadah pada sang pencipta. 
Lepas itu perjalanan dilanjutkan kembali. Kami kembali menaiki perahu motor yang dinaiki tadi. Kami menuju makam Trunyan. Kami menyaksikan sebuah Kearifan Lokal yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Yang khas dari pemakaman disini adalah jenazah-jenazah ditempatkan di sekitar pohon menyan. Di Trunyan sendiri, terdapat tiga majam, yang pertama adalah makam yang dikhususkan bagi mereka yang meninggal dalam keadaan yang wajar dan sudah menikah. Yang kedua adalah makam bagi mereka yang belum menikah maupun bayi dan anak-anak. Dan yang ketiga adalah makam bagi mereka yang meninggal karena kecelakaan.



Sungguh Trunyan adalah daerah yang menarik. Aura magis sangat terasa disekitar makam. Aku tak habis pikir, berapa magisnya tempat ini di malam hari. Pepohonan disekitar makam masih sangat banyak. Semakin menambah magis dan angker tempat ini. Beberapa saat kemudian kami harus kembali. Kami menaiki perahu untuk kembali ke dermaga. Kami kembali menaiki mobil yang tadi untuk sampai di tempat pemberhentian bus. 
Pukul 12.00 WITA, kami sudah didalam bus. Kami siap menuju restoran untuk makan siang. Awan diatas sana makin gulita saja. Nampaknya sang hujan akan segera membasahi arcapada. Bus mulai merayap. Gerimis mulai turun. Tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya. Pukul 13.00 WITA kami sudah sampai di rumah makan. Makan siang kami nikmati dengan lahapnya. Dilanjut dengan shalat Dluhur, membuat hati ini tenang kembali.

BERSAMBUNG......

RESENSI BUKU ENSIKLOPEDIA WAYANG

By : Teguh Kasiyanto

Penulis          : Drs, R Soetarno AK
Penerbit        : Dahana Prize
Tebal             : 312 Halaman
Ukuran          : 14x21 cm
Harga             : Rp70.000,00




         Buku Ensiklopedia wayang ini merupakan salah satu buku yang membahas luasnya Jagad pewayangan. Buku Ensiklopedia ini berisi tokoh-tokoh pewayangan terutama wayang kulit atau yang lebih dikenal sebagai Ringgit Purwa. Seperti penulisan pada ensiklopedia umumnya, buku ini mengurutkan nama dari tokoh-tokoh pewayangan dari A hingga Y. Buku ini juga adalah salah satu buku yang langka. 
         Buku ini adalah buku yang unik. Buku ini adalah buku yang unik. Buku ini menyajikan setiap tokoh-tokoh dalam pewayangan dengan urutan yang teliti dan terinci. Pembaca dapat secara mudah menemukan keterangan tentang tokoh pewayangan yang dicari ataupun difavoritkan. Pembaca hanya perlu membaca petunjuk penggunaan ensiklopedia tersebut yang terdapat di bagian awal.
         Buku ini sangat mudah dibaca dan dipahami. Setiap tokoh yang disajikan diberikan juga gambar dari tokoh pewayangan tersebut. Selain itu, setiap tokoh yang disajikan juga dijelaskan di lakon-lakon apa saja tokoh ini dominan dan dipertunjukkan dalam pertunjukan wayang.
         Buku ini memang membahas banyak sekali tokoh pewayangan. Akan tetapi, keterangan yang disajikan dari masing-masing tokoh pewayangan, masih sangat minim. Apalagi jika kita bandingkan dengan salah satu karya dari Benedict Anderson yang membahas tentang mitologi Jawa. Data yang disajikan masih sangat minim. Sapi, di balik kekurangan dari buku ini, dapat saya nyatakan jika buku ini sebenarnya sangat layak dibaca. Keterangan-keterangan yang ada di dalamnya cukup lengkap, meskipun kurang mendalam. Bagi Anda yang memiliki kecintaan pada budaya dan pelestariannya, buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca.

Monday, November 20, 2017

RESENSI BUKU MEMBACA WAYANG DENGAN KACAMATA ISLAM

By : Teguh Kasiyanto

Penulis          : Subur Widadi
Penerbit        : CV Farishma Indonesia
Tahun terbit : Mei 2016
Tebal             : XVIII+440 Halaman
Ukuran          : 16x24 cm
Harga             : Rp80.000,00

         Kata pertama yang patut diberikan pada buku ini adalah bagus. Kata ini agaknya tidak berlebihan diberikan kepada buku ini. Buku setebal 440 halaman ini membahas berbagai hal dalam dunia perwayangkulitan.  Penulis mampu menjelaskan berbagai macam makna filosofis dari setiap bagian bagian dalam sebuah pertunjukan wayang kulit. Hal ini mungkin disebabkan karena keterlibatan penulis sendiri di dalam dunia pedalangan. Sehingga dia mampu menjelaskan makna dari setiap sudut wayang kulit dengan sangat baik dan sangat jeli. Di dalam buku ini juga disajikan dalil-dalil dari setiap filosofis yang disajikan. Dalil-dalil tersebut diambil dari Alquran dan as-sunnah. Sehingga nuansa Islami sangat tergambar jelas saat anda mulai membaca buku ini dari bagian awal.
         Buku ini terdiri dari 11 bab utama. Di dalam setiap bab dalam buku ini terdapat subbab-subbab yang memperjelas isi dari masing-masing bab. Bab pertama dari buku ini adalah pendahuluan. Di dalam Bab tersebut, penulis lepas seputar hal-hal yang umum dalam pewayangan. Misalnya, lakon, arena pewayangan, dan beberapa makna dari arena pewayangan tersebut. Bab pertama ini, sudah sangat cukup memberi gambaran umum tentang wayang kulit dan proses pertunjukannya.

         Hal yang masih umum pada bab pertama, diperjelas pada bab-bab berikutnya. Pada bab kedua hingga keempat dari buku ini, membahas tentang urutan dari pertunjukan wayang kulit. Penulis menyajikan urut-urutan pertunjukan wayang kulit dari Jejeran hingga paripurna. Penulis juga memberikan makna filosofis dari masing-masing urutan pertunjukan tersebut. Jadi, jika anda membaca buku ini, maka anda akan mengetahui makna makna yang terkandung dalam urutan pementasan wayang kulit.
         Hal yang tak kalah penting disajikan pada bab berikutnya. Pada abad ke-5 dan ke-6 dari buku ini, Anda akan menemukan pelengkap dari sebuah pertunjukan wayang kulit. Bagian pelengkap tersebut meliputi berbagai macam gamelan yang ada dalam pementasan wayang kulit serta berbagai macam Tembang yang ada di dalamnya. Gamelan-gamelan tersebut memiliki makna makna filosofi yang menarik untuk diulik. Tembang-tembang yang ada pun melambangkan ajakan-ajakan dakwah dari ajaran Islam yang damai dan ramah.
         Mistik adalah hal yang tak dapat dipisahkan dari wayang kulit. Oleh sebab itu bab ke-7 dari buku ini akan membahas beberapa mistik dalam pewayangan. Namun mistik disini bukan berarti mistik kepercayaan orang-orang Awam, akan tetapi mistik yang dialami oleh penulis buku ini sendiri. Beberapa perdebatan tentang sesajen dalam pementasan wayang tak luput menjadi sorotan dari bab jetujuh dalam buku ini.
         Berbicara tentang wayang maka tak lepas dari sejarah dan peran para penyebar Islam terdahulu. Dalam Bab ke-8 hingga Bab ke-10 cari buku ini mengulas tentang Walisongo dan wayang kulit, sejarah pembanding pewayangan, dan fragmen-fragmen pelengkap ornamen. Walisongo sendiri merupakan penyebar Islam di tanah Jawa yang Mansyur pada akhir Kerajaan Majapahit dan kebangkitan Demak Bintoro. Kebijaksanaan para wali dalam berdakwah kepada masyarakat Jawa, membuat rakyat jelata tak lagu beralih agama. Wayang kulit sebenarnya bukanlah hal baru. Karena pada masa kerajaan Majapahit, wayang telah dikenal. Sejarah inilah yang perlu kita ketahui dan kita cermati bersama. Dalam wayang kulit juga tak lepas dari fragmen-fragmen di dalamnya. Mulai dari Jamus Kalimasada hingga cantik janaka.

Baca juga : 

         Identitas dari buku ini sangat tergambar pada bagian akhir. Pada abad ke-11, penulis menyajikan beberapa contoh lampahan dalam sebuah pertunjukan wayang dakwah. Wayang dakwah sendiri adalah pertunjukan yang mulai ramai dipertontonkan akhir-akhir ini. Contoh saja, Ki Enthus Susmono sering mempertunjukkan beberapa pementasan wayang kulit sesuai kreasinya. Yang di dalamnya wayang wayang sangat jauh berbeda dari wayang kulit yang kita kenal selama ini.
       Apakah buku ini benar-benar sempurna.? Tentu saja tidak, kita tidak mengenal kesempurnaan yang mutlak di dunia ini. Buku ini sangat terasa nuansa Islam perkotaan nya. Meskipun buku ini juga mangkat mistik di dalamnya, namun ada upaya penjelasan penjelasan secara ilmiah untuk membantah mistik tersebut. Selain itu, pemberian dalil-dalil Al-Qur'an dan as-sunnah dari setiap makna filosofis dari wayang kulit dalam buku ini, terkesan hanya mengaitkan saja. Seakan tidak pernah ada problem yang terjadi dalam penyesuaian ayat dan makna filosofis dari wayang kulit. Akan tetapi terlepas dari kekurangan kekurangan tersebut, bagi anda para pecinta wayang dan kebudayaan, saya sangat merekomendasikan untuk membaca buku ini.

Thursday, November 16, 2017

PERHITUNGAN MEMBUAT ATAU BERPINDAH RUMAH (Bagian 2)

 By : Teguh Kasiyanto
Wilujeng Sedere' Primbon
Ini adalah bagian kedua dari cara mencari hari baik'untuk berpindah rumah atau memulai mendirikan rumah. Jika ada sudah membaca bagian 1 dari tulisan ini, anda boleh langsung membaca bagian pembahasan utamanya. Bagi anda belum membaca bagian 1, ada baiknya membaca dari awal. Agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi. Bagian 2 ini akan membahas tentang cara mencari desa yang baik untuk dijadikan tempat tinggal dan menentukan arah yang baik dalam membuat rumah.

Apakah anda sedang berencana membuat rumah.? Apakah anda berencana berpindah ke Rumah baru.? Jika iya, saya kira anda perlu untuk membaca tulisan ini. Jika tidak, semoga tulisan ini dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi anda.

Memiliki rumah sendiri mungkin menjadi keinginan bagi sebagian orang. Oleh karena itu, mereka menabung dan merencanakan keinginannya tersebut sebaik mungkin. Mereka mulai memerinci berbagai keperluan hingga rumah tersebut benar-benar terwujud. Apa yang kurang dari rencana mereka.? Mereka masih kurang mempersiapkan hari yang baik untuk mulai membangun rumah.

Apakah di dunia ini ada hari yang buruk.? Bukankah semua hari itu baik.? Semua hari memang baik. Hanya saja terdapat hari yang lebih utama dan lebih baik untuk mengawali membuat rumah. Rujukan yang saya gunakan adalah kitab yang disusun oleh Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Oleh sebab itu, boleh jadi ada perbedaan antara satu orang dengan orang yang lain. Boleh jadi hitungan antara yang digunakan oleh orang Jawa, Madura, Sunda dan lainya berbeda-beda. Namun pada hakikatnya, tujuan dari hitungan-hitungan tersebut adalah untuk mencapai kehidupan yang tenang, sentosa serta kebahagiaan dunia dan akhirat.

Perhitungan Mencari Desa Yang Cocok Untuk Tempat Tinggal
Nama diri sendiri dan nama desa diambil huruf depan dan huruf belakangnya, jumlahkan Neptu hurufnya, kemudian dibagi 5. 
  • Jika bersisa 1 Sonya, artinya tidak memiliki rejeki.,
  • Jika bersisa 2 Antaka, artinya sering mendapatkan kesusahan.,
  • Jika bersisa 3 Donya, artinya banyak rejeki.,
  • Jika bersisa 4 Pandhita, artinya tentram.,
  • Jika bersisa 5 Ratu, artinya terhormat dan segala perintahnya terlaksana.

Baca juga :

https://ilmubarokahmanfaat.blogspot.co.id/2017/10/perhitungan-membuat-atau-berpindah.html

Berikut Neptu dari masing-masing huruf yang harus dijumlahkan
Ha =1       Pa  =11
Na =2       Dha =12
Ca =3       Ja  =13
Ra =4       Ya  =14
Ka =5       Nya =15
Da =6       Ma  =16
Ta =7       Ga  =17
Sa =8       Ba  =18
Wa =9      Tha =19
La =10     Nga =20

Contoh :
Misalnya saya bernama Teguh Kasiyanto, kemudian saya berencana untuk berpindah rumah atau membuat rumah di Desa Sukmo Mulyo. Maka dijumlahkan huruf depan dari dan huruf terakhir dari nama saya dan nama desa tersebut. Berarti huruf T+T+S+Y= 7+7+16+14=44. Kemudian hasilnya dibagi 5. Maka 44÷5=8 sisa 4. Nah angka 4 inilah yang digunakan. Sisa 4 artikel jatuh pada hitungan pandhita. Maknanya saya akan hidup dengan damai dan tentram di desa itu.
Ilustrator : Andre Sempu


Arah Menghadap Rumah

Berikut cara mengetahui arah Menghadap rumah yang baik menurut Neptu hari kelahiran anda. Jumlahkan Neptu hari dan pasaran dari hari kelahiran anda. Jika berjumlah seperti dibawah ini:
  • 7 yang baik jika menghadap ke Utara atau ke arah timur.,
  • 8 yang baik jika menghadap ke Utara atau kearah timur.,
  • 9 yang baik jika menghadap ke selatan atau kearah timur.,
  • 10 yang baik jika menghadap ke selatan atau kearah barat.,
  • 11 yang baik jika menghadap ke barat.,
  • 12 yang baik jika menghadap ke Utara atau kearah barat
  • 13 yang baik jika menghadap ke Utara atau kearah timur.,
  • 14 yang baik jika menghadap ke selatan atau kearah timur.,
  • 15 yang baik jika menghadap ke barat.,
  • 16 yang baik jika menghadap ke barat.,
  • 17 yang baik jika menghadap ke Utara atau kearah barat.,
  • 18 yang baik jika menghadap ke Utara atau kearah timur.


Contoh :
Misalnya anda dilahirkan pada hari Jum'at Kliwon. Maka dijumlahkan antara Neptu hari dan pasaran. Yaitu 6+8=14. yang baik jika menghadap ke selatan atau kearah timur.,

Perhatian...!!!
Tulisan ini tidak bermaksud menyebarkan ajaran atau konten-konten menyesatkan. Akan tetapi sudah mulai hilangnya kepedulian generasi muda pada sekian banyaknya budaya dan sistem perhitungan Jawa, maka tulisan ini menjadi penting. Yakni menjaga kelestarian ilmu dan pengetahuan Jawa yang sangat luas dan tak terkira. Semoga bermanfaat.

Sumber :
Sumber : Kitab Primbon Betaljemur Adammakna No 167&172 (Edisi Bahasa Indonesia)
Penulis : Kanjeng Pangeran Haryo Tjakraningrat
Penerbit : CV BUANA RAYA 

Sunday, November 12, 2017

HARI UNTUK MEMBELI HEWAN TERNAK DAN PRHITUNGANYA

By : Teguh Kasiyanto

Wilujeng Sedere'Primbon
Pada tulisan kali ini, kita akan mengulas tentang hitungan-hitungan dalam membeli seekor ternak. Membeli ternak yang dimaksud disini adalah sejenis sapi, kambing, kuda, domba dan yang lainnya. Kalau kita pergi ke pasar hewan, pasti transaksi jual beli binatang ternak tersebut selalu terjadi, tanpa harus mencari tahu apakah hari baik ataukah kurang baik. Sehingga banyak pula orang-orang yang membeli ternak tanpa memperhitungkan dampak dan kemungkinan yang akan terjadi.

Apakah hal tersebut buruk.? Tentu saja tidak. Setiap orang mempunyai alasannya masing-masing dalam melakukan berbagai aktivitasnya. Akan tetapi, perlu diketahui jika sebenarnya dalam membeli ternak pun ada perhitungannya. Perhitungan tersebut melambangkan mana ya hari baik untuk memberi ternak juga dampak yang akan muncul dari membeli sebuah ternak di hari tertentu.

Dalam membeli seekor ternak, ada baiknya memperhitungkan dengan matang segala kemungkinannya. Karena, kita tahu jika orang yang membeli seekor ternak, pasti dia berniat merawat dan mencari keuntungan dari ternak yang dibelinya. Maka sebelum berbagai dampak buruk muncul, ada baiknya berusaha untuk melakukan yang terbaik. Hitungan dalam memberi ternak adalah sebagai berikut:
  1. Suku,
  2. Watu, 
  3. Gajah,
  4. Buto,
  5. Ratu
Kelima hitungan tersebut adalah hitungan untuk membeli ternak. Cara untuk menghitungnya adalah dengan menjumlahkan isi hari dan pasaran. Misalnya, kita akan membeli sapi di hari Ahad Wage. Maka terlebih dahulu kita hitung jumlah antara ahad dan Wage yaitu 5 dan 4 totalnya 9. Kemudian mulailah dihitung dari hitungan pertama hingga terakhir dan kembali lagi dari awal hingga sampai pada angka 9. Berdasarkan hitungan tersebut maka yang jatuh di angka sembilan adalah Buto. Ini berarti baik bagi ternak tersebut. Hitungan yang baik untuk memberi ternak jatuh pada Buto dan Ratu.

Baca juga:

Perhatian...!!!

Tulisan ini tidak bermaksud menyebarkan ajaran atau konten-konten menyesatkan. Akan tetapi sudah mulai hilangnya kepedulian generasi muda pada sekian banyaknya budaya dan sistem perhitungan Jawa, maka tulisan ini menjadi penting. Yakni menjaga kelestarian ilmu dan pengetahuan Jawa yang sangat luas dan tak terkira. Semoga bermanfaat.


Sumber :

Sumber : Kitab Primbon Betaljemur Adammakna No 302 (Edisi Bahasa Indonesia)
Penulis : Kanjeng Pangeran Haryo Tjakraningrat
Penerbit : CV BUANA RAYA

Thursday, November 9, 2017

AL KINDI, BAPAK FILSAFAT ISLAM (Bagian 1, Riwayat Hidup)

By : Teguh Kasiyanto

Al Kindi adalah tokoh pelopor filsafat Islam. Nama lengkap beliau adalah Abu Yusuf Ya'qub Bin Ishaq Ash-Shobbah Al Kindi. Ada juga yang menyebut silsilah Al Kindi sebagai berikut, Abu Yusuf Ya'qub ibn Ishaq ibn Sabbah Ibn Imran Ibn Ismail Al-Ash'ats Ibn Qois Al Kindi. Masa hidupnya antara 801-873 M. Dia dilahirkan di Kufah Iraq sekitar tahun 801 pada masa kekhalifahan Harun al-Rasyid (786-809) Masehi. Ibn Qois buyutnya adalah salah satu dari Sahabat Nabi. Ibn Qois kemudian Berpindah ke Kufah. Ayah Al Kindi menjadi gubernur Kufah dari tiga kekhalifahan dinasti Abbasiyah, yaitu : Al Mahdi, Al Hadi dan Harun Rasyid.

Baca juga :
https://ilmubarokahmanfaat.blogspot.co.id/2017/03/oleh-teguh-kasiyanto-bidang-penalaran.html

Dinasti Abbasiyah adalah salah satu dinasti Islam yang mencapai masa keemasan. OKhalifah Al Makmun adalah salah satu Khalifah yang memiliki pencapaian tertinggi. Al Kindi pun dapat mengembangkan
pengetahuanya hingga menduduki tempat strategis di Baghdad. Al Ma'mun memerintah dinasti Abbasiyah antara tahun 813-833 Masehi. Semasa pemerintahanua, Al Ma'mun berusaha melakukan perbaikan-perbaikan dalam berbagai bidang. Diantara perbaikan yang dilakukan adalah:
  • Menghentikan berbagai gerakan pemberontakan demi menciptakan stabilitas dalam negeri.,
  • Penertiban administrasi negara untuk penataan kembali sistem pemerintahan.,
  • Pembentukan badan negara.,
  • Pembentukan Baitul Hikmah dan majelis Munazaroh Baitul Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan !dauroh kutub) yang didalamnya turut aktif para guru dan ilmuwan yang aktivitasnya serupa penerjemahan, penulisan dan penjilidan.

Dari pencapaian tersebut, dapat kita ketahui jika kekhalifahan Al Ma'mun memiliki perhatian yang lebih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Selain itu keamanan dan kedaulatan negara menjadi point penting yang dijaga oleh kekhalifahan Al Ma'mun.

Ilustrator: Andre Sempu

Al Kindi mendapatkan berbagai macam Pendidikan sejak masa kecilnya. Dia mempelajari Al Qur'an, tata bahasa Arab, kesusastraan, ilmu hitung, fiqih dan teologi. Pada masa itu Kufah adalah salah satu kota pusat ilmu pengetahuan di samping kota Bashrah. Kufah menjadi kota pusat pengetahuan rasional {Aql} berkembang. Hal inilah yang kemudian membawa Al Kindi mendalami filsafat di masa-masa berikutnya.
Setelah memiliki pengetahuan yang cukup, Al-Kindi kemudian berpindah ke kota Baghdad. Kota Baghdad adalah pusat pemerintahan dari Dinasti Abbasiyah. Di Baghdad Al-Kindi vl memusatkan perhatiannya pada serangkaian penerjemahan ilmu-ilmu rasional dan berbagai macam keilmuan lainnya. Menurut Al Qifthi (1171-1248), Al-Kindi banyak menerjemahkan buku filsafat, menjelaskan hal-hal yang pelik dan meningkatkan secara canggih teori-teorinya. Al-kindi diyakini menguasai berbagai macam bahasa, termasuk bahasa Yunani dan bahasa Syria yang menjadi bahasa pokok buku buku filsafat generasi sebelum Islam. Dengan pemahaman bahasanya pula, dia dapat memperbaiki terjemahan terjemahan terdahulu yang kurang relevan.
Al-kindi kemudian berteman baik dengan Khalifah Al-Ma'mun. Seperti yang telah kita Uraikan di awal, khalifah ini sangat mencintai ilmu pengetahuan. Al-Ma'mun adalah salah satu khalifah dari kekhalifahan Dinasti Abbasiyah yang memiliki kecintaan pada rasionalitas dan filsafat. Al-kindi kemudian diangkat sebagai penasehat dan guru istana pada masa kekhalifahan Al-Mu'tashim (833-842M) dan Al Watsiq (842-847M). Posisi tersebut bahkan tetap dipegangnya di awal kepemimpinan Khalifah Al Mutawakkil 847-861M), sebelum pada akhirnya dia dipecat. Al-kindi dipecat dikarenakan adanya hasutan hasutan dari kelompok yang iri terhadap berbagai macam prestasi akademik dan filsafat yang diraihnya. Akan tetapi George N Atiyeh meragukan adanya pendapat dipecatnya Al-Kindi. Menurutnya lawan-lawan yang membenci tidak dapat melakukan sesuatu kecuali juga ikut serta memuji pencapaian Al-Kindi. Ada beberapa informasi yang menyatakan kejelekan kejelekan Al-Kindi. Akan tetapi di sisi lain, ada banyak informasi yang menjelaskan ketulusan dan sifat-sifatnya yang terpuji. Wallahu A'lam Bishshawab.
Al-kindi wafat pada usia 72 tahun. Dia meninggal di kota Baghdad pada tahun 873 Masehi. Setidaknya hingga dia wafat, dia tercatat menulis sebanyak 270 buah karya yang teridentifikasi. Karya-karya tersebut terdiri dari 17 kelompok keilmuan, yaitu: 1) filsafat, 2) logika, 3) ilmu hitung, 4) globular, 5) musik, 6) astronomi, 7) geometri, 8) sperikal 9) medis, 10) astrologi, 11) dialektika, 12) psikologi, 13) politik 14) metereologi, 15) besaran, 16) ramalan, 17) logam dan kimia. Dari karya-karyanya tersebut, kita dapat mengetahui akan keluasan ilmunya. Karya-karyanya sebagian telah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa. Karya-karya Al-Kindi menurut salah seorang Mistikus Italia sangat berpengaruh pada masa perkembangan Eropa di abad pertengahan.

BERSAMBUNG.....!!!!!!!


Referensi

Aizid, Rizem, 2013, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap Periode Klasik, Pertengahan dan Modern, Yogyakarta, Diva Press.
Asy-Syahrastani, 2009, Terjemah Al-Milal Wa Al Nihal, Surabaya, Bina Ilmu
Khudori Soleh A., 2016, Filsafat Islam Dari Klasik Hingga Kontemporer, Yogyakarta, AR-RUZZ MEDIA.