Friday, October 19, 2018

Wayang kulit Lakon Babad Hastinapura Versi Ki Manteb Soedarsono


Sumber Cerita : Punakawan

Kisah ini dipentaskan dalam rangka haul Ki Narto Sabdo Palon tanggal 13 Oktober 2018.
Suatu ketika di Kahyangan Suralaya sedang diadakan pertemuan agung. Bathara Guru atau SangHyang Jagad Giri Nata yang merupakan pemimpin para dewa pemimpin halamannya pertemuan besar itu. Bathara Narada yang merupakan Kakak dari Bathara Guru memulai laporannya. Bathara Narada berkata, "Wahai Paduka, Apakah engkau sudah menjatuhkan dosa kepada hamba?" Bathara Guru menjawab, "wahai kakakku Kaneka Putra, sesungguhnya aku tidak sedang menjatuhkan dosa atau siksa kepadamu?"
Bathara Narada yang mendengarkan pernyataan adiknya tersebut kemudian menjadi tenang. Bathara Narada kemudian berkata, "Wahai Bathara Guru, sesungguhnya di arcapada sedang terjadi huru-hara besar yang diakibatkan oleh sebuah hutan yang angker. Hutan yang disebut dengan nama hutan ingas/rengas itu sangat angker dan berbahaya. Tidak ada manusia ataupun Dewa yang berani ke sana. Jika musim kemarau, gatal yang timbul dari hutan tersebut sampai di Kahyangan Suralaya sehingga membuat para Dewata terganggu." 
Bathara Guru yang mendengar laporan dari Bathara Narada terdiam sejenak. Bathara Guru selanjutnya bersabda, "Jika kondisinya demikian, maka saya akan mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat menebang hutan tersebut maka akan dibangunkan sebuah kerajaan yang megah." Seluruh Dewa yang mengikuti pertemuan tersebut mendengarkan sabda Bathara Guru dengan seksama. 
Selang bebeerapa waktu dari penyampaian sayembara tersebut, datanglah Bathara Penyarikan yang menghadap pada Bathara Guru. Karena kedatangan Bathara Penyarikan tanpa dipanggil oleh Bathara Guru, maka Bathara Guru kemudian bertanya, "Wahai Penyarikan, kenapa engkau menghadap tanpa kuperintahkan?" Bathara Penyarikan kemudian menjawab, "Ampun Pukulan, saya menghadap karena diluar sedang ada Bathara Ganesha dan putranya yang bernama Bharata ingin menghadap."
Bathara Guru selanjutnya memperkenankan Bathara Ganesha dan putranya untuk menghadap. Bathara Guru kemudian bertanya, "Wahai Bathara Ganesha, mengapa engkau jauh jauh dari Arga Liman menghadap ke sini bersama putram tanpa Aku perintahkan?" Bathara Ganesha kemudian menjawab, "Wahai Paduka, hamba dan Putra hampa akan mengikuti sayembara yang Paduka sampaikan untuk menebang hutan Ingas." Bathara Guru berkata, "Apakah engkau benar-benar berani dengan segala resikonya?" Bathara Ganesha dan Bharata menjawab, "hamba siap menanggung segala resikonya, apapun dampaknya Akan saya usahakan." Bathara Guru kemudian berkata, "baiklah, jika demikian tekad kalian silakan berangkat dan semoga berhasil." Bathara Ganesha dan Bharata segera meninggalkan Kahyangan menuju hutan Ingas.
Setelah Bathara Ganesha dan Bharata meninggalkan Kahyangan, Bathara Guru kemudian berbincang-bincang dengan Bathara Narada. "wahai kakakku apakah kiranya yang menyebabkan Ganesha berani melakukan tindakan itu," tanya Bathara Guru. Bathara Narada menjawab, "Tidakkah engkau ingat bahwa Ganesha adalah dewa pengetahuan? Aku yakin Ganesha akan menggunakan seluruh pengetahuannya agar terhindar dari rasa gatal hutan tersebut." Bathara Guru kemudian memanggil kedua putranya yaitu Batara Wisnu dan Batara Brama. Bathara Guru memerintahkan keduanya untuk turun ke pertapaan Sapta Arga menemui Putra mereka yaitu Bermani. Segeralah berangkat mereka berdua menuju pertapaan tersebut. Mereka diutus untuk menyuruh Bermani untuk membantu Ganesha dan putranya.
Bathara Ganesha dan Bharata telah tiba di hutan angker tersebut. Dengan segala kekuatan dan kemampuannya, mereka berusaha merobohkan bangunan yang ada di hutan tersebut. Ajaibnya, setiap satu pohon berhasil ditumbangkan,, pohon tersebut selalu dapat tegak kembali. Proses ini berlangsung terus-menerus hingga membuat Ganesha dan putranya kebingungan.
Di tengah-tengah hutan angker tersebut, penghuni hutan yang berasal dari golongan raksasa dan makhluk halus menghadap pada Bathari Durga. Bathari Durga marah-marah ketika mengetahui Ganesha dan putranya mengobrak-abrik tempatnya. "Aku adalah istri Sanghyang Pramesthi dan telah ditempatkan di tempat ini, tapi mengapa tempat ini sekarang di rusak?", Teriak Bathari Durga. Bathari Durga kemudian menyuruh Jaramuka dan Kala Lindur Sengara untuk memimpin pasukan lelembut menghadang keinginan Ganesha dan putranya.
Pertarungan yang sengit segera terjadi. Jaramuka menyerang Putra Ganesha. Sedangkan Kala Lindur Sengara melawan Ganesha. Pertarungan berlangsung sangat lama. mereka saling pukul saling tendang dan saling adu kesaktian satu sama lain. Penganut Durgaberusaha keras mengusir Ganesha dan putranya agar tidak mengganggu wilayah hutan tersebut. Dua pemimpin pasukan makhluk halus Durga berhasil dikalahkan. Meskipun demikian mereka tidak berhasil dibunuh oleh Ganesha dan putranya.
Bharata berkata, "Wahai Ayah, Tidakkah kita lebih baik menghabisi seluruh pasukan Durga?" Bathara Ganesha menjawab, "itu sangat sulit anakku, dan jika kita melanjutkan menebang pohon yang terus-menerus bangkit lagi, itu juga membuang-buang tenaga. sebaiknya kita menunggu waktu yang tepat dan bersemedi untuk menunggu waktu tersebut." Bharata menyemangati saran dari ayahnya tersebut.
Di tempat lain Bathara Indra juga turun ke dunia. Bathara Indra berkata, "Aku yakin jika tujuan Ganesha dan putranya pasti berhasil. Akan tetapi dalam keyakinan Bathara Indra, jika kerajaan tersebut dibangun di hutan Ingas, maka suatu ketika kerajaan tersebut akan menimbulkan pertikaian." Bathara Indra kemudian menuju hutan Wanamarta untuk menemui Wilawuk. Bathara Indra juga akan membuat kerajaan yang megah di hutan Wanamarta untuk menghindari pertikaian yang mungkin terjadi akibat kerajaan yang dibangun oleh Bathara Guru, atas keberhasilan Ganesha dan putranya.
Bathara Indra yang telah berada di Wanamarta mulai berbincang-bincang dengan Wilawuk. "Wahai Baginda, ada maksud apakah sehingga Paduka sampai di hutan ini?" Kata Wilawuk. Bathara Indra berkata, "Wahai Wilawuk, ketahuilah jika Dewata sekarang memiliki tujuan besar untuk membangun kerajaan di hutan Ingas. aku juga akan membangun sebuah kerajaan untuk menghindarkan konflik yang akan terjadi di kemudian hari. aku tahu jika di tengah hutan ini ada banyak harta yang terpendam. Oleh sebab itu, Aku mau minta bantuan kepada bangsa-bangsa Gandarwa untuk ikut serta dalam pembangunan kerajaan baru itu." Mendengar permohonan Bathara Indra, Wilawuk pun menyanggupinya. 
Bathara Wisnu dan Bathara Brama telah sampai di gunung Sapta Arga. Mereka berdua yang telah bertemu dengan Bermani dan Istrinya yaitu Dewi Srihunon serta Ki Lurah Semar Badranaya dan Panakawan yang lain. Bathara Wisnu dan Bathara Brama segera menjelaskan maksud dari kedatangan mereka. Bermani kemudian diminta segera membantu Ganesha dan putranya menebang hutan angker tersebut.
Bermani segera berangkat dengan disertai para Panakawan. Sesampainya di hutan Ingas, Bharatamasih terus menerus merobohkan pohon yang selalu dapat bangkit kembali. Bharata setelah Hampir Putus Asa menghadapi hal tersebut. Semar Badranaya segera memerintahkan Bermani untuk membantu Bharata, dengan cara setiap pohon yang akan bangkit kembali dilontarkan senjata Cakra. Usaha Bermani tersebut segera membuat hutan angker menjadi tempat yang lapang.
Bharata yang menyaksikan Robohnya pohon dan disusul terbakar oleh api, merasa tersinggung dengan kehadiran Bermani.  Bharatatidak mau mengucapkan terima kasih dan tidak bersedia menerima bantuan dari Bermani. Bharata menuduh Bermani pamer kesaktian. perselisihan diantara keturunan Dewa tersebut berlanjut hingga pertarungan sengit. Bharata yang terdesak oleh kemampuan perang luar biasa dari Bermani, segera merubah dirinya menjadi seekor gajah raksasa. Bermani yang terpancing, setelah mengeluarkan senjata Cakranya. Belum sempat cakra itu dihempaskan, Semar segera melarangnya dan mengajak Bermani pergi. Semar kemudian berkata, "Janganlah mudah menjadi orang yang gampang terkejut. Biarkanlah Bharata melakukan hal itu dan mendapatkan istana di hutan tersebut. Tapi Ingatlah jika suatu saat kerajaan tersebut hanya akan membuat konflik. Semoga hanya keturunanmulah kelak yang dapat mendamaikan kerajaan tersebut.". Bermani menjadi tenang mendengar perkataan Semar. 
Ganesha yang datang kembali, telah melihat hutan dalam keadaan bersih. Dia kemudian menguji keberhasilan anaknya tersebut dan segera meminta hadiah dari Bhatara Guru. Bathara Guru dan Bathara Narada segera turun dari kahyangan. Bathara Guru mengucapkan selamat atas keberhasilan Ganesha dan putranya. Bathara Guru dan Bathara Narada segera mengheningkan cipta dalam kesunyian. Mereka berdua meminta agar tercipta sebuah kerajaan yang megah.
Istana yangsangat megah segera turun dari atas dan menangkap tepat di tengah-tengah bekas hutan Ingas. Bathara Guru selanjutnya memberi nama kerajaan tersebut dengan nama Ngastina. Bathara Guru juga memakaikan baju kebesaran kepada Bharata. Bharata dinobatkan menjadi raja dengan gelar Prabu Anom Bharata atau Prabu Hesti Murti atau Prabu Gajah Gaya. Bathara Guru Tulis pesan kepada Bharata agar menjaga keadilan yang ada di kerajaan tersebut.
Di Wanamarta Bathara Indra kembali menemui Wilawuk. Dia menanyakan perintahnya untuk membangun istana dari harta Terpendam Apakah sudah terlaksana? Wilawuk menjawab, perintah Paduka telah hamba laksanakan bersama bangsa gandarwa. Kerajaan yang Paduka minta, kami bangun dari berlian dan emas yang berada dalam hutan ini." Bathara Indra berkata, jika demikian adanya aku haturkan terima kasih. Tolong pertemukan Aku dengan teman-temanmu yang berperan dalam pembangunan.!" Bathara Indra dan Wilawuk segera masuk ke kerajaan baru tersebut. 
Mereka berdua segera sampai di istana yang baru dibangun. Mereka bertemu dengan lima orang yang berperan dalam pembangunan istana tersebut. Mereka berlima adalah Yudistira, Danduncana, Suparta, Nakula dan Sadewa. Mereka berlima adalah golongan Gandarwa. Bathara Indraselanjutnya mengucapkan terima kasih kepada mereka berlima. Bathara Indra selanjutnya menjelaskan tentang empat wilayah yang ada di kerajaan baru tersebut. Empat wilayah tersebut adalah: Jodipati, Madukara, Bumi Retawu dan Sawojajar dan pusatnya berada di tengah. Kerajaan baru tersebut diberi nama Indraprasta.
Bathara Indramenobatkan Yudistira sebagai raja sementara di Indraprasta. mereka berlima dipesan agar menjaga kerajaan tersebut dari siapapun yang akan memasuki nya Hingga waktunya tiba. Kelak Jika datang 5 ksatria yang berbudi luhur, itu adalah pertanda kekuasaan kaum gandarwa segera berakhir. Lima Ksatriaitulah yang akan menjadikan Indraprasta tempat yang penuh dengan kebaikan dan budi luhur. Wilawuk yang merupakan abdi setia Bathara Indra diganti namanya menjadi Resi Anggara Parna. Itulah pesan-pesan Bathara Indra kepada mereka semua. 
Di tempat lain bekas hutan Ingas, Bathari Durga marah marah. Dia berencana menggugat kepada Sang Hyang Jagatnata atau Bathara Guru. Dahulu ketika Durga Terusir dari Kahyangan,. Dia ditempatkan di hutan yang angker dan gatal. Surga yang dahulunya memiliki paras yang cantik, dikutuk oleh Sang Hyang Jagatnata menjadi buruk rupa dan berwujud raksasa. Durga yang merasa mendapat ketidakadilan segera menuju Kahyangan Suralaya. 
Di Kahyangan Suralaya Semar Badranaya telah menghadap adiknya Bathara Guru. Semar bertanya, "Mengapa engkau memanggilku melalui panggilan batin? pasti ada hal-hal yang rumit yang tidak mampu ku selesaikan." Bathara Guru menjawab, "Benar Kakak, aku minta tolong kepada Mu untuk menjadi wakil dan menempatkan Durga/Permoni di tempat yang tepat." Semar berkata, "Bukankah Durga itu istrimu? Kau yang dulu memulai dan seharusnya dapat mengakhiri. Mengapa ketika Durga menjadi jelek kemudian kau usir dengan seenaknya sendiri." Bathara Narada berkata, "Wahai kakang Semar, jadilah wakil dari Batara Guru untuk menemui Durga." Semar kemudian menjawab, "baiklah jika demikian, tapi aku butuh tempat untuk menempatkan Durga." Bathara Narada berkata, "Baiklah kakang, akulah yang akan menjadi saksimu."
Semar kemudian menemui Durga yang menghadap ke Kahyangan. Semar berkata, "akan bertemu Siapakah kau Durga ke Kahyangan?". Durga menjawab, "aku akan bertemu Bathara Guru, aku akan mengajukan keadilan. dahulu aku diusir dari Kahyangan dan ditempatkan di hutan yang sangat lebat dan berbisa. Kalau bukan Agung dan prajuritku mungkin sudah musnah di sana. tapi kenapa tempat itu sekarang menjadi sebuah istana megah dan ditempati oleh orang lain?"
Semar terdiam sejenak dan kemudian menjawab, "Ooo begitu. Kau tidak dapat bertemu dengan Sanghyang Jagatnata karena dia sedang sibuk. Dia telah mewakilkan urusan ini kepadaku. Bukankah kau membutuhkan tempat tinggal?" Durga menjawab, Benar kakang." Semar berkata, "kalau begitu Aku akan memberikanmu sebuah tempat. Tapi kau tidak boleh menggugat dan menolaknya. Apakah kau setuju?" Durga menjawab, "Baiklah kakang, aku setuju." 
Semar berkata, "Baiklah Durga, jika kau setujui, Aku akan menjelaskan tempatmu. Tempatmu bernama Krenda Wahana/ Setra Ganda Mayit. Krenda artinya wadah untuk orang meninggal,. wahana artinya kendaraan. Setra artinya padang atau tempat yang luas, ganda mayit artinya berbau mayat. hutan yang akan kamu tempati di bawahnya Terpendam mayat mayat orang meninggal."
Durga berkata, "Ke mana aku harus pergi?" Semar menjawab, "nanti jika telah ada burung gagak/dandang berwarna hitam, Ikutilah burung tersebut ke arah utara hingga dia berhenti dan hinggap. Burung gagak yang hinggap disebut juga dengan Dandang Mangore. Oleh sebab itu, tempat tinggalmu disebut juga Krenda Wahana / Setra Ganda Mayit / Dandang Mangore. itulah tempat tinggalmu, satu tempat dengan tiga nama berbeda." Durga berkata, "Durga, "Baiklah kakang, aku sampaikan banyak-banyak terima kasih kepadamu."  Semar beserta Narada kemudian menghadap pada Sanghyang Pramesti untuk melaporkan hasil dari pekerjaannya.

Sunday, October 7, 2018

First Impression To Ijen Crater


Sudah cukup lama saya ingin datang ke tempat itu. Namun baru pada kali ini kesempatan itu menghampiri saya. Kesempatan untuk mendaki Gunung Ijen. Saya diajak beberapa teman ke sana untuk sekedar menghilangkan beban-beban keseharian. 
Kami berangkat dari Jember pada hari Sabtu, 6 Oktober 2018 pukul 22.30. kami berangkat berlima dengan mengendarai mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Kami sempat beristirahat sebentar di daerah Sempol, tak jauh dari portal pertama. Kami tiba di tempat parkir kendaraan pukul 01.40 WIB. 
Kondisi di tempat itu sudah sangat ramai. Meskipun letaknya berada di lereng gunung, namun malam ini sedang sangat padat. Diperkirakan lebih dari 10000 orang akan mendaki Ijen malam ini. Kami beristirahat sejenak di sebuah warung untuk sekedar meminum teh hangat dan mencicipi pisang goreng yang khas. 
Pukul 02.15 kami menuju tempat pembelian tiket. Harga tiketnya cukup terjangkau, hanya Rp7.500,ⁿⁿ/orang. Setelah membeli tiket, pendakian pun dimulai. Suhu udara ketika kami baru sampai di tempat ini terasa dingin awalnya. Namun setelah pendakian dimulai, udara dingin tersebut tak terlalu menggigit kulit.
Bintang-bintang sedang bertaburan di atas langit. Langit sangat cerah meskipun angin bertiup lumayan kencang. Jalanan yang berpasir dan berdebu kami lalui. Sesekali jalanan mendatar dan mudah dilewati. Namun jalanan menanjak lebih dominan daripada mendatar.
Ratusan orang berjalan beriringan dengan menyalakan senter dan penerangan dari handphone. Beberapa orang harus diangkut dengan gerobak dengan mengeluarkan uang yang lumayan. Ya, bagi mereka yang tidak memiliki tenaga atau tidak ingin kelelahan sampai di puncak, mereka dapat menggunakan jasa naik semacam gerobak Yang didorong dan ditarik oleh 3 orang. Untuk jasa naik ke atas, penumpangnya akan dikenakan Rp600.000,ⁿⁿ. Sedangkan untuk perjalanan Kembali ke tempat parkir, mereka yang menggunakan jasa tersebut dikenakan biaya Rp200.000,ⁿⁿ/orang.
Perjalanan untuk mendaki memang sangat melelahkan. Namun karena didorong oleh keinginan yang kuat, saya tak terlalu menghiraukan rasa lelah. Lagi pula, pendakian saat itu bersama banyak orang. Sehingga suasana horor yang biasanya muncul di tempat-tempat gelap tak terasa mencekam. Suara angin yang menderu-deru seperti sapuan ombak di samudra Terdengar sangat merdu. Adanya angin itulah yang sedikit menghilangkan rasa lelah.


Baca Juga : 


Pukul 04.08 WIB kami tiba di atas. Namun fenomena blue fire yang katanya bisa dilihat dari atas pagi ini tak terlalu terlihat. Kita masih harus menuruni bebatuan terjal menuju dekat kawah. Dengan dibantu teman saya berusaha menuruni bebatuan yang sulit. Pukul 04.35 kami telah menempuh lebih dari setengah perjalanan untuk turun ke kawah. Namun kami berpapasan dengan pendaki pendakian sudah kembali untuk turun. Mereka menyampaikan bahwa fenomena blue fire pagi ini cukup kecil dan telah hilang. Lagi pula matahari yang terbit lebih awal juga sudah hampir menampakan dirinya.



Bau asap belerang yang tercium sangat kuat. Beberapa orang yang bekerja untuk mengangkut belerang dari kawah telah memulai rutinitasnya. Kami mengabadikan beberapa momen di beberapa spot di tempat ini. Kami memulai untuk naik kembali hingga ke tempat yang cukup datar. Di sana banyak orang berkumpul bersama teman-temannya, tak hanya orang-orang Indonesia bahkan banyak di antara mereka dari mancanegara. Pagi itu sungguh hiruk-pikuk telah terjadi di tempat yang jauh dari pusat Kota dan keramaian.
Angin bertiup dengan sangat kencang pagi ini. Debu dan kerikil berhamburan kesana dan kemari terbawa tiupan angin. Angin yang cukup kencang ini seakan-akan hendak menerbangkan dan menghempaskan pendaki yang sedang berada di tempat itu. Pukul 05.40 WIB, kami segera turun kembali ke lokasi parkir. 
Perjalanan kembali memang tak sesulit mendaki. Namun kencangnya hembusan angin berkali-kali membuat mata kelilipan. Angin itu juga menebarkan aroma belerang yang menyengat. Jalanan yang berdebu membuat jalan sangat licin. Setiap yang turun harus benar-benar berhati-hati agar tidak terpeleset.
Perjalanan turun memerlukan waktu yang lebih pendek. Pukul 07.00 WIB kami tiba di tempat parkir kendaraan. Kami kemudian beristirahat sejenak. Warung-warung begitu ramai dikunjungi wisatawan. Diantara mereka ada yang makan, ada pula yang sekedar ngopi. Yaah. Begitulah Kawah Ijen. Tuhan begitu hebatnya menciptakan tempat yang demikian indah. Kita patut bersyukur bahwa tempat indah ciptaan Tuhan itu ada di Indonesia.

Friday, October 5, 2018

Thomas Hobbes : Negara Monster (Bagian 3)

<
Sumber : Resplash

Kritik Atas Leviathan
           Leviathan mengajarkan kita untuk patuh sepenuhnya pada negara. Kepatuhan ini tidak dapat ditawar-tawar.  Negara adalah satu-satunya kontrol dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Setiap tata kehidupan diatur oleh kekuasaan negara. Apapun aktivitas kita, baik berupa peribadatan maupun aktivitas sosial semuanya telah ditentukan oleh negara.
          Salah satu pendapat Thomas Hobbes tentang kebebasan adalah tiadanya rintangan eksternal untuk bergerak. Pada awalnya manusia hidup bebas dengan hukum alamiah. Kemudian manusia manusia yang hidup bebas tersebut tiba-tiba memiliki peraturan yang mengikat. manusia kemudian patuh kepada otoritas tertinggi yang mereka nunjuk dan sepakati. (Syam, 2010:119-120)
           Dengan definisi kebebasan yang diberikan oleh Hobbes tersebut, sesungguhnya sistem monarki adalah melanggar definisi tersebut. dia juga pernah berkata bahwa perjanjian dengan kata-kata lebih baik daripada menggunakan senjata dan peperangan. Akan tetapi yang terjadi justru serangkaian pertumpahan darah pada pemerintahan monarki Inggris.
           Sistem monarki diminati oleh Hobbes karena dapat membatasi hasrat hasrat manusia. Pembatasan Hasanah sel tersebut untuk mencapai perdamaian. Namun dengan sistem monarki dan raja yang absolut, sangat dimungkinkan raja tersebut bertindak atas kehendak dan kepentingan pribadinya. Kemungkinan ini juga akan muncul jika sebuah negara dipimpin oleh dewan tertinggi. Berbagai kemungkinan yang terjadi terhadap Raja dengan kepentingan pribadinya, adalah sebagian celah dari sistem monarki absolut.

Baca Juga :
Thomas Hobbes : Negara Monster (Bagian 2)

           Penggunaan leviathan untuk menggambarkan negara masih sangat abstrak. negara-negara yang mempunyai kontrol ketat terhadap penduduknya juga dapat disebut sebagai leviathan. Pada lingkup yang lebih kecil bahkan leviathan dapat disematkan pada organisasi kemasyarakatan. Leviathan menjadi Sangat terbuka terhadap Semua sistem. Penggunaan contoh yang kurang tepat ini justru semakin melemah kan argumentasi Hobbes tentang monarki absolut.
Agama Dalam Cengkraman
          Dalam Leviathan negara digambarkan sebagai makhluk yang sangat besar dan luas serta ditakuti oleh masyarakat. Masyarakat akan patuh terhadap negara karena ketakutannya terhadap kekuasaan yang besar. negara yang memiliki kekuatan besar disebut hukum dan menelan Siapa saja yang melanggar peraturan dan kontrak sosial yang disepakati.
           Dalam negara monster segala sendi kehidupan diatur secara detail dan mengikat oleh negara. negara juga mengatur agama yang berlaku dan full dianut masyarakatnya. Negara juga berkuasa mengatur bagaimana seharusnya orang dapat melakukan peribadatan. Pada satu sisi kita dapat menyatakan hal ini sebagai kebaikan untuk mencegah konflik. Akan tetapi, masyarakat menjadi tidak memiliki kebebasan untuk memeluk agama bagaimana definisi kebebasan yang dilontarkan oleh Hobbes.
           Sebenarnya Leviathan tidak hanya dapat muncul pada negara monarki.  Leviathan dapat muncul pada setiap negara dengan sistem apapun dan di manapun. Leviathan bukan hanya dapat terjadi di Inggris, akan tetapi di semua negara yang mengekang kebebasan.
           Di Indonesia dengan sistem politik yang demokratis, bukan berarti tak ada Leviathan. Tidakkah ketakutan ketakutan terhadap penggusuran dan pengusiran serta penertiban sering terjadi di negara ini? Bukankah masih dapat kita temukan orang-orang yang kesulitan mencantumkan agamanya pada kartu identitasnya?
           Pemerintah Indonesia menetapkan enam agama yang diakui oleh negara. Orang-orang yang mengaku yg memiliki agama selain enam agama tersebut, dianggap sebagai pemeluk aliran kepercayaan. Bukankah ketika pemeluknya menganggap kepercayaannya sebagai sebuah agama, negara harus hadir untuk mengakui dan melindunginya? Setidaknya negara kita masih cukup menakutkan bagi Penganut Agama yang belum diakui dalam undang-undang.

Thomas Hobbes : Negara Monster (Bagian 2)



Sumber : Resplash

 Leviathan
          Leviathan adalah karya utama dari Thomas Hobbes. karya inilah yang membuat nama Thomas Hobbes masih cukup dikenal hingga saat ini. Kata "Leviathan" muncul pada kitab perjanjian lama. Leviathan digambarkan sebagai seekor monster ular. Namun menurut Russell dalam bukunya menyebut jika Leviathan adalah sejenis monster laut. Secara umum Leviathan adalah upaya Hobbes untuk menyusun argumen dasar kewajiban berpolitik. (Heywood, 2014:103).
            Thomas Hobbes sedikit banyak juga terpengaruh oleh pemikiran pemikiran Aristoteles. Aristoteles 384-322 SM) yang hidup pada masa Yunani kuno menyatakan jika sistem politik yang baik adalah sistem yang tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri. Dalam hal ini Palnquis 2007, 342-344) mengartikan terlalu ke kanan sebagai sistem demokrasi, dan terlalu ke kiri sebagai sistem monarki absolut.
           Aristoteles memilih sistem politik yang di tengah-tengah. dalam hal ini negara tidak dipimpin oleh seorang raja sebagaimana sistem monarki absolut, tetapi juga tidak dipimpin oleh seorang presiden sebagaimana sistem demokrasi. Aristoteles mengusulkan kaum bangsawan yang terdidiklah yang patut menjadi Pemimpin sebuah negara.


Baca Juga :
Thomas Hobbes : Negara Monster (Bagian 1)


           Leviathan terdiri dari empat bagian. Bagian pertama tentang manusia (Of Man), bagian kedua tentang persemakmuran (Of Common Wealth), bagian ketiga tentang persemakmuran Kristen (Of a Christian Common Wealth) dan bagian keempat tentang kerajaan kegelapan (Of .the Kingdom of Darkness). Dua bagian yang awal mungkin masih relevan didiskusikan oleh mahasiswa masa kini. Sedangkan dua bagian terakhir dari karya tersebut hanya cocok diketahui pada masa itu saja. (Losco & William, 2005:74)
           Thomas Hobbes dapat dikatakan sebagai perintis materialisme modern. (Hardiman, 2011:59). Dia hidup menurutnya tidak lain kecuali sebuah gerakan anggota badan, dan makanya mesin otomatis mempunyai sebuah kehidupan tiruan (artificial life). Persemakmuran adalah bentuk dari monster Leviathan. Leviathan adalah monster raksasa yang diciptakan oleh manusia. Leviathan adalah makhluk tiruan manusia (artificial man). Sedangkan sebuah kedaulatan adalah jiwa dari manusia tiruan itu. proses berkumpulnya manusia untuk membentuk persemakmuran/leviathan, ibarat Sabda Tuhan tak Allah menciptakan manusia. (Russell, 2007:720)
           Pada bagian awal Leviathan, Thomas Hobbes menyatakan bahwa perasaan berasal dari adanya tekanan dari objek-objek. Selain perasaan, warna bunyi dan yang lainnya tidak ada dalam objek. Sifat-sifat dalam objek yang berkaitan dengan perasaan adalah berasal dari gerakan. Pikiran manusia tidak akan berubah dengan sewenang-wenang. pikiran tersebut dapat berubah dengan adanya dalil-dalil yang dapat menekan keyakinan ataupun kepercayaan sebelumnya. (Russell, 2007:721).
          Manusia adalah makhluk yang hidup dengan dorongan gairah. salah satu hasrat yang dapat menimbulkan konflik adalah hasil untuk selalu mendapat pandangan baik dari orang lain. Gairah tersebut hanya akan berhenti ketika kematian telah menemui manusia. Meskipun demikian juga ada hasrat untuk menimbulkan perdamaian bersama. akan tetapi hasrat kedamaian tersebut tak lebih sebagai wujud dari ketakutan manusia akan kematian. (Losco & William, 2005:74-75)
           Thomas Hobbes juga pernah menyanggah Plato. Plato berpendapat Jika akar adalah bawaan sejak lahir. Sedangkan Hobbes berpendapat jika akal dapat berkembang sesuai dengan perkembangan industri. Pendapat kedua ini tampak lebih terbukti kebenarannya saat ini. Ada banyak hal dan pengetahuan yang dulu tidak ada namun dengan teknologi, ilmu dan pengetahuan tersebut sekarang ada di sekitar kita.
           Dahulu sebelum adanya kerajaan dan sistem pemerintahan, manusia hidup secara individual dan dapat bertindak bebas. Namun karena adanya ketakutan dan sebagai upaya melindungi dirinya, manusia kemudian menaklukkan manusia-manusia lain dengan jalan kekerasan. Untuk menghindari pola kehidupan yang kasar dan keras, manusia kemudian berkelompok atau hidup secara berkomunitas. Kesepakatan untuk hidup berkomunitas Inilah yang disebut dengan kontrak sosial.
           mereka yang hidup secara berkoloni tas kemudian taat kepada pemimpin otoritas tertinggi. Mereka mengakhiri masa masa perang sesama manusia untuk saling bersatu. Hobbes menyatakan bahwa alasan manusia saling berkumpul adalah untuk menyelamatkan manusia dari perang dunia. Karena manusia memiliki kecenderungan untuk menikmati kebebasan dirinya dan berkuasa atas orang lain.
           manusia tidak dapat bekerja sama sebagaimana lebah dan semut dalam membangun komunitasnya. Menurut Hobbes, Hal ini dikarenakan adanya perbedaan sifat perjanjian yang terjadi. Perjanjian yang terjadi di antara lebah dan semut semut bersifat alami. sedangkan perjanjian yang terjadi di antara manusia bersifat semu. tentu hal tersebut tergantung pada kebutuhan dan kepentingan kelompok manusia saat membentuk komunitas/leviathan. (Russell, 2007:723-724).
           Hobbes sangat menyukai sistem pemerintahan monarki. Namun penjelasannya yang abstrak tentang leviathan, mengakibatkan setiap sistem pemerintahan yang dipimpin oleh seorang pemimpin atau dewan dapat dikatakan sebagai leviathan. Jika ada pembagian kekuasaan, maka tidak dapat dinyatakan sebagai leviathan. Pembagian kekuasaan inilah yang menurut Hobbes menjadi pangkal terjadinya perang di Inggris saat itu. Kekuasaan dibagi atas raja, kaum bangsawan dan rakyat. Bersambung!!!

Referensi:
Hardiman, F. Budi, 2011, Pemikiran-pemikiran Yang Membentuk Dunia Modern, Jakarta, Erlangg
Heywood, Andrew, 2014, Politik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Losco, Joseph & Williams, Leonard, 2005, Political Theory Kajian Klasik dan Kontemporer, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada
Palnquis, Stephen, 2007, Pohon Filsafat, Edisi ke-2, Terj, Muhammad Shodiq, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Russell, Bertrand, 2007, Sejarah Filsafat Barat, Cet Ke-3, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Syam, Firdaus, 2010, Pemikiran Politik Barat, Jakarta, PT Bumi Aksara.

Thomas Hobbes : Negara Monster (Bagian 1)



Sumber : Resplash

Latar Belakang Thomas Hobbes
         Thomas Hobbes adalah seorang filosof besar yang hidup di Britania Raya. Dia lahir pada 5 April 1588 M. "Hobbes adalah seorang filosof yang sulit diklasifikasikan kedalam kelompok tertentu." (Russell, 2007:717). Thomas Hobbes adalah orang yang mengagumi matematika. Akan tetapi Hobbes tidak hanya mengagumi matematika murni, melainkan juga matematika terapan. Kekagumannya terhadap matematika dipengaruhi oleh Galileo Galilei.
          Ayah dari Thomas Hobbes adalah seorang vikaris (seorang Pastur yang mewakili beberapa tugas dalam Keuskupan). Ayah Hobbes adalah orang yang berwatak keras dan tak berpendidikan. Ayahnya kehilangan pekerjaannya sebagai vikaris karena bertengkar dengan sesama vikaris di pintu gereja. Hobbes selanjutnya dididik dan dibesarkan oleh pamannya. Meskipun dibesarkan oleh pamannya, namun sikap semangat dan kasarnya tak jauh dari ayahnya. 
           Thomas Hobbes menguasai pengetahuan klasik di usia empat tahun. Perjalanan intelektual Hobbes berlanjut di Oxford. Pada usianya yang kelima belas dia belajar logika di universitas tersebut. Namun, hasil belajar bertahun-tahun tentang logika tidak terlalu bermanfaat bagi Hobbes pada waktu-waktu berikutnya. 
           Pada usianya yang ke 22 tahun, Thomas Hobbes menjadi guru dari Lord Hardwick. Dengan Lord Hardwick-lah dia berkelana mendalamin karya-karya Galileo dan Kepler. pemikiran kedua tokoh tersebutlah yang mendominasi Hobbes. Hobbes tinggal di Prancis untuk beberapa waktu bersama muridnya. Pada 1636, dia pergi ke Italia dan bertemu Galileo. Setahun kemudian, Hobbes kembali ke Inggris.
           Thomas Hobbes belajar metode resoluto-compositive dari Galilea. Menurut metode ini, "fenomena iompleks dapat diuraikan menjadi gerakan-gerakan dan komponen-komponennya yang paling sederhana". (Losco & William, 2005:73). Setelah elemen-elemennya dapat diketahui, maka dengan mudah juga akan diketahui cara kerjanya. Untuk membuat sebuah kajian yang sistematis, menurut Hobbes sebuah studi sistematis ada dalam tiga bagian. Bagian-bagian tersebut dimulai dari gerakan Gerakan benda (De Corpore), selanjutnya berkembang pada gerakan-gerakan manusia (De Homine) dan gerakan politik (De Cite). setiap kajian pada tingkatan tertentu didasarkan pada analisis pada tingkatan yang lebih rendah.

Baca Juga :

AL KINDI, BAPAK FILSAFAT ISLAM   (Bagian 5, Sifat Tuhan dan Relevansi Pemikiran Di Zaman Now)

          Pada setiap karya karya nya, Thomas Hobbes selalu menuliskan kisah kisah ataupun gagasan tentang absolutisme monarki. Pada tahun 1640 dia membagikan naskahnya yang belum selesai yaitu The elements of law. Dua tahun kemudian tepatnya pada tahun 1642, Hobbes kembali membagikan edisi terbatasnya yang berjudul De Cite (On The Citizen). Atas keberpihakannya terhadap sistem monarki, Hobbes tidak cukup dikenal di kalangan masyarakat Inggris saat itu. Dia kemudian melarikan diri ke Perancis karena khawatir dengan keselamatannya. Di Prancis dia menjadi guru pribadi dari Prince of Wales yang sedang diasingkan oleh raja Charles II. 
           Hobbes melontarkan karyanya yang fenomenal pada tahun 1651. Leviathan muncul di tengah Gejolak yang terjadi di Inggris. Raja Charles I dieksekusi dan digantikan oleh Cromwell sebagai Lord Protector. Hobbes kembali ke Inggris pada tahun 1652. Dia mulai mendapatkan perhatian dari karangan luas karena pemikirannya tentang kedaulatan, agama dan monarki. dia juga terlibat perdebatan dengan Profesor geometri dari Oxford yaitu John Walis.  
           Pada 1668 Hobbes menyelesaikan sebuah karya tentang Catatan sejarah 1640-1660 yang berjudul Behemouth. Saat itu Hobbes mulai banyak mendapatkan kritik dari berbagai kalangan. Charles yang merupakan anak didik Hobbes mencoba melindungi gurunya tersebut. Dia menyarankan agar gurunya tidak lagi menerbitkan tulisan tulisan yang kontroversial. 
           Thomas Hobbes meninggal pada tahun 1679. Dia meninggal pada usia 91 tahun. Sebelum dia meninggal, dia sempat menyelesaikan sebuah karya terjemahan. karya-karya yang sebelumnya dilarang diterbitkan oleh kerajaan Inggris, mulai diterbitkan setelah Hobbes meninggal dunia. Meskipun tidak semua dari kita menyetujui sistem pemerintahannya monarki, akan tetapi Hobbes menawarkan pemikiran baru tentang absolutisme monarki.
Bersambung!!!


Referensi:
Hardiman, F. Budi, 2011, Pemikiran-pemikiran Yang Membentuk Dunia Modern, Jakarta, Erlangg
Heywood, Andrew, 2014, Politik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Losco, Joseph & Williams, Leonard, 2005, Political Theory Kajian Klasik dan Kontemporer, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada
Palnquis, Stephen, 2007, Pohon Filsafat, Edisi ke-2, Terj, Muhammad Shodiq, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Russell, Bertrand, 2007, Sejarah Filsafat Barat, Cet Ke-3, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Syam, Firdaus, 2010, Pemikiran Politik Barat, Jakarta, PT Bumi Aksara.