Monday, April 29, 2019

Resensi Buku Sultan Agung Menelusuri Jejak-jejak Puncak Kekuasaan Mataram


Penulis            : Krisna Bayu Adji & Sri Wintala Achmad
Penerbit           : Araska
Tahun Terbit   : 2019
Tebal               :  296 Halaman
Ukuran             : 14x20,5 cm
Harga               : Rp50.000,00 
ISBN.              : 978-602-5805-80-6

Buku yang ditulis oleh penulis buku buku sejarah ini adalah sebuah buku yang menarik. Selama ini telah banyak buku-buku sejarah terutama tentang sejarah jawa. Akan tetapi, buku-buku sejarah tentang Jawa tersebut sangat minim mengungkap latar belakang seorang tokoh secara mendalam. Buku ini adalah sebuah buku yang khusus membahas tentang perjalanan hidup seorang raja besar Kerajaan Mataram Islam yang fenomenal. 
Buku ini diawali dengan pembahasan sejarah leluhur Sultan Agung. Meskipun pembahasannya tidak terlalu mendalam, namun bagian awal ini cukup memberikan kita informasi-informasi yang penting mengenai leluhurnya. Kisah tentang perselisihan antara Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Sebuah perselisihan di antara keduanya dikarenakan Ki Ageng Pemanahan an setelah meminum air kelapa keramat milik Ki Ageng Giring.

Buku ini sangat bagus dalam menyusun narasi sejarah Sultan Agung. Akan tetapi, buku ini hanya memuat sedikit sekali informasi mengenai masa muda Sultan Agung. Sebagian pembahasan pada buku ini adalah sejak Sultan Agung naik tahta. Di tengah kontestasi perebutan wilayah-wilayah di pulau Jawa oleh kerajaan bercorak Islam, Sultan Agung mampu membawa Mataram ke atas puncak kejayaan terbaiknya. Mataram berkembang dengan pesat dalam 32 tahun kepemimpinan Sultan Agung. 
Kerajaan Mataram Islam sebagai salah satu kekuatan besar di tanah Jawa tidak didapatkan secara mudah oleh Sultan Agung. serangkaian penaklukan dan pergolakan pemberontakan terjadi pada masa kepemimpinannya. Perlawanan berdarah Surabaya adalah salah satu perjuangan paling berdarah dalam proses penaklukan. Lebih dari setengah pulau Jawa dikuasai oleh kerajaan Mataram kala itu. Namun, Mataram dibawah kepemimpinan Sultan Agung masih gagal untuk menyingkirkan VOC dari Batavia. Selain kegagalan tersebut, Sultan Agung berhasil memadamkan pemberontakan Pragola II, Dipati Ukur dan pemberontakan Pajang. 
Sebagai salah satu pemimpin terbesar kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung telah banyak meninggalkan perubahan besar bagi masyarakat Jawa. Pada masa Sultan Agung berkuasa, di susunlah sebuah kalender Jawa yang didasarkan pada kalender Hijriyah. Pada masa Sultan Agung filsafat Jawa sangat hidup dan berkembang dengan pesat. Perkembangan filsafat Jawa tersebut diiringi dengan perkembangan sastra gending Jawa wa. Para pembaca yang budiman, akan lebih baik lagi jika Anda membaca buku tersebut hingga bagian akhir, karena kita akan menemukan berbagai hal hal menarik di dalam perjalanan kepemimpinan Sultan Agung.

Tuesday, April 23, 2019

KRL, Ruang Aktual Masyarakat Organik

Stasiun Gondang Dia

KRL atau yang lebih kita kenal dengan Kereta Rel Listrik adalah salah satu moda transportasi terpadu yang beroperasi di DKI Jakarta peserta daerah penyangganya. Kereta Rel Listrik tersebut menghubungkan daerah-daerah di kawasan Jabodetabek.  Moda transportasi terpadu ini dalam sehari dapat mengangkut lebih dari satu juta orang. 
Penumpang dari moda transportasi ini didominasi oleh orang-orang yang bekerja di kawasan ibu kota maupun mahasiswa yang sedang melaksanakan studi di daerah Depok dan sekitarnya. Pada jam-jam tertentu, terutama jam keberangkatan kerja dan pulang kerja, penumpang moda transportasi ini sangat membludak dan berdesak-desakan. Pada jam-jam sibuk kerja, akan sangat sulit menemukan tempat duduk bagi penumpang KRL. Sebagian besardiantara mereka berdiri dan berpegang pada tempat pegangan yang telah disediakan. 
Penumpang KRL mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan penumpang kereta api pada umumnya. Pada saat kita menumpang kereta api, kita akan dengan mudah menemukan orang-orang yang saling sapa meskipun mereka tidak saling kenal sebelumnya. Penumpang kereta api terutama tujuan jarak jauh, sangat dimungkinkan bagi mereka untuk berkenalan dengan orang-orang baru sebagai teman mengobrol di perjalanan. 
Namun, hal yang jauh berbeda terjadi pada penumpang KRL. Mereka adalah orang-orang dengan jadwal teratur dan tujuan yang relatif tidak terlampau jauh. Saat di stasiun misalnya, mereka akan cenderung diam sembari duduk ataupun berdiri. mereka hanya akan mengobrol dengan orang-orang yang telah mereka kenal sebelumnya. Belum lagi, ketika di stasiun, mereka dituntut mendengarkan setiap pengumuman yang diberikan oleh petugas. Jika mereka sampai salah mendengarkan informasi tentang keberangkatan kereta, sangat dimungkinkan akan salah mengambil jurusan. 
Saat KRL tujuan telah datang, mereka yang telah dari tadi menunggu akan saling berebut untuk masuk. Tak sampai beberapa lama, pintu KRL akan segera tertutup dan mulai melaju. Di dalam KRL yang penuh sesak ketika jam efektif kerja, gerbong penuh sesak dengan manusia. Saling berdesakan satu sama lain untuk mendapatkan tempat yang nyaman. Masing-masing dari mereka ada yang sekedar terdiam dan ada pula yang membuka ponsel masing-masing. Sangat sedikit terdengar obrolan di antara mereka. Sesekali mereka yang membuka ponsel memainkan game game online seperti halnya PUBG mobile. hanya suara tembak-tembakan dari game tersebutlah yang lebih sering muncul di atas gerbong KRL. Hal yang demikian membuat mereka layak disebut sebagai masyarakat organik.
Emile Durkheim (1858-1917) salah satu sosiolog Prancis membagi masyarakat menjadi dua bagian, yaitu: masyarakat mekanik dan masyarakat organik. Pada masyarakat mekanik masyarakat yang memiliki ciri-ciri yaitu: volume masyarakat yang penuh, memiliki intensitas perjumpaan yang tinggi, masyarakatnya kaku dan terdiri dari kelompok religius yang taat serta adat istiadat. Sedangkan masyarakat organik memiliki ciri-ciri berkebalikan dari masyarakat mekanik (Ritzer, 2012:145-151). Masyarakat organik cenderung individualis, memiliki pembagian kerja yang spesifik, hubungannya bersifat kepentingan serta lebih luwes dalam pergaulan. Luwes di sini dalam artian dapat bergaul dengan suku bangsa manapun serta golongan apapun asalkan sejalan dengan kepentingan.
kondisi yang muncul pada penumpang KRL tidak jauh berbeda dengan apa yang telah diungkapkan Durkheim tentang masyarakat organik. sesekali obrolan hanya terdengar antara ibu-ibu yang telah saling kenal. sementara pada penumpang lain semua sibuk membuka handphone masing-masing, baik untuk bersosial media ataupun hanya sekedar bermain game online. Sangat wajar memang hal tersebut terjadi, karena mereka memiliki kesibukan dan pekerjaan yang berbeda-beda.

Referensi :
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Edisi ke-8. Yogyakarta. Pustaka Pelajar