Wednesday, October 16, 2019

6 Rahasia Dibalik Tingkah Laku Kucing


Sumber Gambar : Resplash

Kucing adalah salah satu hewan jinak yang memiliki kedekatan dengan manusia. Setidaknya sejak zaman Mesir kuno kucing telah dianggap sebagai salah satu hewan yang sakral. Masyarakat Mesir kuno terkenal sangat mengistimewakan binatang ini. Pada zaman kemunculan agama Islam, salah satu sahabat bahkan sangat akrab dengan kucing. Saat ini, berbagai jenis kucing telah dipelihara manusia, baik untuk kegemaran atau hanya sekedar untuk mengusir tikus tikus yang merajalela. 
Tahukah Anda jika tingkah laku kucing dihadapan pemiliknya memiliki maksud maksud tertentu? Mungkin sebagian dari kita akan menganggap itu sebagai hal yang wajar. Atau bahkan dapat kita anggap biasa karena kedekatan yang telah terjalin. Akan tetapi, masyarakat Jawa yang letaknya jauh dari Mesir, pun juga memiliki kepercayaan tertentu berkaitan dengan tingkah laku kucing. 

Baca Juga :

Menurut orang Jawa, setidaknya ada enam perilaku kucing di hadapan pemiliknya. Namun sebelum kita membahas enam kebiasaan tersebut, kita perlu ingat bahwa orang Jawa memiliki kebiasaan untuk mengamati hal-hal yang terjadi di sekitarnya. sangat dimungkinkan jika rahasia di balik tingkah laku kucing di hadapan pemiliknya ini adalah hasil dari sebuah observasi yang sangat panjang. Kita tidak perlu meyakini hal ini secara berlebihan. Anggap saja ini sebagai salah satu kearifan masyarakat Jawa dalam menjalin kedekatan dengan kucing. Berikut adalah rahasia di balik 6 kebiasaan kucing di hadapan pemiliknya:
Pertama, jika kucing memandang kepada pemiliknya tanpa berkedip, hal ini menandakan bahwa pemiliknya akan memperoleh rezeki., 
Kedua, jika seekor kucing duduk terdiam tanpa bergerak di hadapan pemiliknya, maka pemiliknya akan memperoleh sebuah anugrah.,
Ketiga, jika seekor kucing tidur di atas ikat kepala, baju atau sarung milik si pemilik, maka si pemilik akan memperoleh uang yang halal.,
Keempat, seekor kucing berdiam di pojok rumah dan tidak berpindah-pindah dalam waktu yang relatif lama, maka pemiliknya akan menerima kebahagiaan. Sedangkan apabila kucing tersebut mendiami empat pojok rumah secara bergantian, maka pemiliknya akan memperoleh anugerah yang besar.,
Kelima, jika seekor kucing selalu bergulung-gulung di hadapan pemiliknya, hal tersebut menandakan pemiliknya akan memperoleh tipu daya dari orang lain.,
Keenam, jika seekor kucing menunjukkan kuku-kukunya yang tajam kepada pemiliknya, maka hal tersebut menandakan adanya durjana yang sedang mengintai kekayaan si pemilik kucing. 

Itulah rahasia dibalik tingkah laku kucing di hadapan pemiliknya. baik buruknya peristiwa yang terjadi di sekitar kita bukanlah karena daya dan upaya dari kucing tersebut. Semua yang buruk dan baik berasal dari ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Ada baiknya kita tidak menganggap berlebihan tanda-tanda tersebut. Yang perlu kita perhatikan adalah, kita harus bersikap baik kepada hewan hewan peliharaan kita. 

Referensi :
Kitab Betaljemur Adammakna, Hal, 194

Resensi Buku Eksistensiame Dan Humanisme


Penulis            : Jean Paul Sartre
Penyunting      : Kamdani
Penerbit           : pustaka Pelajar
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tahun Terbit   : Oktober 2002
Tebal               :  V+148 Halaman
Ukuran             : 12x19 cm
Harga               : Rp30.000,00 
ISBN                 : 979-9289-93-9

Buku ini sebenarnya adalah buku yang sudah lama terbit. Akan tetapi sangat sulit kita cari resensinya. Buku ini ditulis oleh seorang filosof asal Prancis yang sangat terkemuka. Eksistensialisme berkembang di Prancis hampir bersamaan dengan pesatnya filsafat dialektika di Jerman. Mungkin kata personal akan menjadi kata kunci yang baik untuk memahami eksistensialisme, sebagaimana dinyatakan oleh Philip Mairet pada pengantar buku ini 
Sartre mengawali bukunya dengan kritik yang disampaikan oleh berbagai kalangan terhadap eksistensialis. Diantara kritik itu adalah eksistensialisme hanya mengundang orang untuk tinggal dengan tenang bersama keputusasaan. Mereka orang-orang eksistensialis selanjutnya akan berkontemplasi atas kenyataan. Kaum Marxis mengkritik hal ini sebagai pekerjaan Borjuis semata. Hal tersebut cukup masuk akal, mengingat orang yang memiliki banyak waktu untuk berkontemplasi adalah orang-orang dengan harta yang mencukupi. Sedangkan bagi kelas buruh, kontemplasi hanya akan membuat mereka semakin mengalami masalah.

Baca Juga :

Bantahan demi bantahan terhadap pengkritik eksistensialis tersaji secara menarik pada buku ini. Perdebatan mana yang lebih dulu antara esensi dan eksistensi tersaji secara rapi. Pun demikian, anda perlu membaca buku ini secara langsung, guna mendapatkan penilaian subjektif masing-masing atas buku ini. Subjektif adalah sebagian dari eksistensi itu sendiri. Kita perlu memahami bahwa kita terlebih dahulu eksis baru kemudian memiliki esensi. 
Sartre membagi eksistensialis menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah golongan eksistensialis Kristen. Golongan ini diwakili oleh Jaspers dan Gabriel Marcel. Sedangkan golongan kedua adalah golongan eksistensialis atheis. Eksistensialis golongan kedua ini diwakili oleh Heidegger dan Sartre sendiri. Persamaan diantara keduanya adalah keyakinan bahwa eksistensi muncul lebih dahulu dari esensi. 
Buku ini diakhiri dengan catatan diskusi antara Sartre dan orang-orang yang tidak bersepakat mengenai eksistensialisme. Salah satu diskusi yang menarik adalah ketika muncul pertanyaan an-an tank dua buah pilihan. Jika seseorang diberi dua buah pilihan antara permen dan coklat, bukankah itu adalah hal yang menyiksa bagi orang yang memilih?  Pilihan-pilihan itu adalah bentuk nyata dari penyiksaan terhadap manusia itu sendiri. Eksistensi akan terwujud apabila kebebasan terlampaui. Silahkan membaca buku yang menarik tersebut lebih lanjut. 

Friday, October 11, 2019

Perbedaan Antara Modal Manusia (Human Capital) Dan Modal Sosial (Social Capital)


Pada tulisan sebelumnya, Saya telah menguraikan tentang jenis-jenis modal yang dikenal dalam sosiologi. Pada tulisan tersebut masih menyisakan pertanyaan tentang perbedaan antara modal manusia dan modal sosial. Jika anda ingin membaca tentang jenis-jenis modal yang menjadi bahasan sebelumnya, silahkan klik Di Sini

Model manusia dan modal sosial adalah dua jenis modal yang sama-sama menitikberatkan pada manusia. Meskipun demikian keduanya sebenarnya berbeda. modal sosial berkaitan erat dengan pengalaman seseorang untuk mengelola perusahaan ataupun kemampuan khusus dalam memproduksi barang-barang tertentu. Kemampuan produksi di sini adalah kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh semua orang dan didapatkan dari pengalaman yang mendalam. Untuk dapat dikatakan sebagai modal manusia maka orang tersebut harus menginvestasikan kemampuannya untuk kemajuan perusahaan an-nahl taupun lembaga tertentu. (Usman, 2018:3-4).

Human capital dapat dicapai dengan berbagai hal. Misalnya saja orang-orang dengan pendidikan tinggi, orang-orang yang profesional serta orang-orang dengan kemampuan manajemen yang baik. Jika kemampuan kemampuan tersebut diterapkan, dapat pula disebut sebagai modal manusia. Akan tetapi, jika kemampuan itu tidak diterapkan kan, maka perusahaan atau lembaga yang memperkerjakan orang tersebut put dapat dianggap tidak memiliki modal manusia. 

Modal sosial adalah model yang berkaitan dengan relasi relasi sosial antara seseorang dengan orang yang lain. Seseorang yang memiliki banyak relasi sosial dan kemudian menggunakan relasi sosial tersebut untuk memajukan perusahaan ataupun lembaga tempat dia bekerja ja, maka dapat dikatakan orang tersebut memiliki modal sosial. Sebaliknya, apabila relasi sosial yang dimiliki oleh seseorang tidak digunakan ataupun tidak diinvestasikan untuk kemajuan, maka hal tersebut tidak termasuk modal sosial. 

modal sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk memperbesar suatu perusahaan ataupun lembaga masyarakat dalam waktu yang yang yang lebih singkat. hal ini dikarenakan telah adanya relasi-relasi sosial yang terjalin antara masing-masing aktor. Dengan modal sosial yang mempuni, penyebaran dari sebuah inovasi ataupun hal-hal baru lebih mudah dilakukan. Pada tulisan tulisan berikutnya, kita akan mengulas tentang teori-teori modal sosial menurut para pakar. 

salah satu perbedaan yang paling mencolok antara modal manusia dan modal sosial adalah tempat keberadaan keduanya. Model manusia seperti halnya tingkat pendidikan, keahlian khusus, kemampuan manajemen organisasi serta pengalaman dibidang tertentu berada di dalam diri seseorang. Sedangkan modal sosial, yang menitikberatkan pada relasi relasi sosial antara tokoh satu dengan yang lain, berada di luar dari diri manusia. Demikian pembahasan kali ini, semoga bermanfaat. Untuk keterangan lebih mendalam, silakan telusuri literatur yang tercantum pada daftar pustaka. 

Daftar Pustaka :
Usman, Sunyoto, 2018. Modal Sosial, Yogyakarta, Pustaka Pelajar

Thursday, October 10, 2019

Resensi Buku Sofis


Penulis            : Plato
Editor                : Muhammad Aswar
Penerbit           : Basabasi
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tahun Terbit   : Januari 2019
Tebal               :  136 Halaman
Ukuran             : 14x20 cm
Harga               : Rp54.000,00 

Pernahkah anda mempelajari filsafat? Jika sudah, mungkin buku ini akan menjadi penambah wacana filosofis yang menarik. Terutama tentang pemikiran-pemikiran filsafat Yunani klasik. Bagi Anda yang belum pernah mempelajari filsafat, buku ini akan membawa anda pada pemahaman mendasar tentang filsafat klasik. 

Sebagian orang menganggap bahwa mempelajari filsafat adalah hal yang sangat rumit. Hal tersebut tidaklah sepenuhnya salah, akan tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Buku ini akan mengantarkan Anda pada khazanah pengetahuan filosofis yang menarik dan mendalam. Buku Sofis adalah buku yang tepat bagi para pembaca filsafat di tahap pemula. 

Baca Juga :

Sofis adalah buku karya filsuf terkemuka Yunani yaitu Plato. Buku ini adalah hasil catatan Plato atas diskusi yang berlangsung antara Theaetetus dan orang asing. Theaetetus adalah salah satu murid socrates, sedangkan orang asing adalah murid dari Parmenides. Mereka berdua berdialektika tentang makna filsuf, negarawan dan Sofis. Sungguh pengantar filsafat yang menarik. 

Proses dialektika dalam buku tersebut dibuka dengan diskusi antara Socrates dan Theodorus. Dialektika dimulai antara Theaetetus dan orang asing dengan membahas perburuan hewan-hewan laut. Mereka selanjutnya membagi proses perburuan itu menjadi dua bagian. Dari pembagian tersebut muncul pembagian-pembagian berikutnya. Mereka juga membagi jenis-jenis seni. Serangkaian dialektika panjang terjadi untuk menemukan siapa sebenarnya Sofis. 

Dialektika antara kedua orang tersebut berlangsung sangat seru dan mendetail. Mereka menemukan Sofis di berbagai tempat. Mereka menemukan bahwa Sofis adalah pemburu, pedagang eceran, pedagang dalam jumlah besar, orang yang memproduksi pengetahuan,  seni berdialektika serta di tempat-tempat lain. Menariknya, mereka juga mendialektikakan tentang keberadaan dan ketiadaan. Berbagai pergumulan argumentasi tersaji dengan rapi dan menjanjikan. meskipun buku ini hanya berisi tentang catatan diskusi antara murid Socrates dan murid Parmenides, bukan berarti buku ini berisi hal yang sederhana. Buku ini padat akan pengetahuan filsafat yang sangat memadai untuk dibaca. 

Tuesday, September 24, 2019

Kemana Aku Harus Pergi?


Yaa Rabb,
Entah berapa kali aku mencari,
Entah berapa lama aku telah menyendiri,
Entah sejak kapan aku menanti,
Dan entah dimana aku akan berhenti,
Wahai Sang Penguasa Hati,
Aku mencari arahku pergi,
Aku telah berteman dengan sepi,
Jalan pergi tak kunjung kutemui,
Apakah semua ini akan pasti.
Yaa Rabb
Terkadang aku ingin segera melangkah,
Melangkah menuju satu arah,
Namun datang bayang-bayang salah,
Hingga aku terduduk lesu dalam pasrah,
Yaa Rabb,
Kemana aku harus pergi?
Bagiku masih belum ada yang pasti,
Langkahku masih terhenti,
Pintu keluarku masih terkunci.,
Arahku masih terhalang kondisi.
Tuhan,
Kepada siapa aku harus bertanya?
Kemana aku akan bahagia?
Dimana aku menemukan arah yang terbuka?
Dengan cara apa aku meraihnya?
Tuhan
Tidakkah Engkau tahu segalanya?
Atas hamba serta atas isi dunia,
Bukankah mudah bagiMu menunjukkan segalanya?
Tuhan,
Tunjukkanlah padaku arah kepastian yang Engkau kehendaki.


Jember, 24 September 2019

Monday, September 23, 2019

Paradigma Dalam Ilmu Sosiologi


Istilah paradigma mulai dipopulerkan oleh Thomas S, Kuhn pada tahun 1970 (Turner, 2010:400). Thomas S, Kuhn mulai memperkenalkan istilah tersebut pada bukunya yang tak terlalu tebal dengan judul "The Structure Scientific Revolution". Kuhn menganggap bahwa ilmuwan bekerja pada lingkup paradigma-paradigma tertentu. Sejarah mudahnya, paradigma dapat diartikan sebagai sudut pandang tertentu terhadap sebuah fenomena sosial.  Thomas S, Kuhn memiliki sebuah tujuan besar dalam penulisan buku tersebut. dia ingin memberikan penentangan terhadap pandangan orang-orang awam atas terjadinya perubahan pada ilmu pengetahuan. Menurut orang-orang awam ilmu pengetahuan berkembang secara kumulatif dan dibangun diatas ilmu pengetahuan sebelumnya yang telah matang. Anggapan tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan terus bertumpuk-tumpuk dan mengarah pada munculnya pengetahuan pengetahuan baru di atasnya. (Ritzer, 2014:135-137)
Kuhn tidak sepenuhnya menyalahkan pendapat orang awam ataupun ilmuwan sebelumnya tentang perubahan ilmu pengetahuan. Akan tetapi dia juga tidak membenarkannya secara keseluruhan. Kuhn menganggap bahwa munculnya pengetahuan-pengetahuan baru sebagai dampak adanya revolusi yang terjadi dalam masyarakat. Revolusi tersebut secara perlahan namun pasti memunculkan paradigma paradigma baru ilmu pengetahuan.
Thomas S, Kuhn berusaha memberi gambaran yang ringkas atas terjadinya perubahan pada ilmu pengetahuan. Proses perubahan tersebut meliputi tahap-tahap sebagai berikut: Paradigma I - Normal Science - Anomali - Krisis - Revolusi - Paradigma II (Ritzer, 2012:1150). Kita dapat mencontohkan proses terjadinya perubahan tersebut sebagai berikut: Paradigma I, handphone dianggap sebagai alat komunikasi yang paling efektif. Selanjutnya ketika masyarakat mulai menerima handphone, maka terjadilah normal science. pada perkembangannya ternyata handphone masih menyisakan masalah yang perlu diatasi. Sehingga masalah masa menyimpulkan anomali bagi penggunanya. semakin lama masalah-masalah yang dialami oleh pengguna handphone ternyata semakin kompleks. Hal ini memunculkan krisis pada penggunanya. muncullah terobosan-terobosan teknologi untuk memperbaiki dan mengurangi masalah pada handphone. Pada akhirnya smartphone muncul sebagai jawaban atas kekurangan dari paradigma I. Dalam hal ini smartphone menjadi paradigma II.
George Ritzer salah seorang sosiolog pada tahun 1970-an, menulis sebuah buku yang spesifik membahas tentang paradigma dalam sosiologi. Dia mengadopsi istilah paradigma yang digunakan oleh Kuhn ke dalam ilmu sosiologi. Buku yang ditulis oleh George Ritzer ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul, "Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda". Ritzer selanjutnya membagi paradigma dalam sosiologi menjadi tiga bagian, yaitu: fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial.


Baca juga :
Jenis-Jenis Modal Dalam Sosiologi

Fakta Sosial
Paradigma fakta sosial didasarkan pada tokoh sentral sosiologi yaitu Emile Durkheim. Emile Durkheim adalah salah satu sosiolog Prancis yang hidup pada gurun 1858 hingga 1917. Setidaknya ada dua hal utama yang menjadi sorotan dalam karya-karya Durkheim, yaitu: hal-hal yang bersifat sosial di atas hal-hal individual, dan yang kedua adalah pendapat tentang masyarakat yang dapat diteliti secara ilmiah (Ritzer, 2012:129). 
Paradigma fakta sosial menjauhkan kajian sosiologi dari kajian filsafat dan psikologi. Hal ini dikarenakan kajian sosiologi yang menjadi lebih terarah dan terukur. Emile Durkhelm berusaha menjadikan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang mandiri dari ilmu pengetahuan yang lain (Langer dalam Beilharz, 2005:101). Fakta sosial secara mudahnya dapat dipahami sebagai sesuatu yang berada disekitar manusia. Fakta sosial juga dapat diartikan sebagai benda-benda yang berada di sekitar kita. Karena sifatnya yang faktual, maka paradigma fakta sosial memungkinkan peneliti untuk melakukan penelitiannya dengan menggunakan kuesioner ataupun wawancara untuk membandingkan sejarah sebuah peristiwa. Salah satu penulis dari teori fakta sosial adalah teori struktural fungsional.
Emile Durkheim membagi fakta sosial menjadi dua bagian utama, yaitu: material dan nonmaterial. fakta sosial material adalah faktor yang berada di sekitar kita dan dapat diamati secara jelas. Contoh dari fakta, sosial material adalah: gaya arsitektur, gaya berbusana, teknologi dan lainnya. Sedangkan fakta sosial non material adalah fakta sosial yang tidak tampak secara langsung namun eksis keberadaannya. Durkheim membagi fakta sosial non material menjadi beberapa bagian yaitu: moralitas, norma kolektif, representasi kolektif dan arus sosial. 
Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia, baik individu ataupun kelompok pasti terdapat fakta sosial yang meliputinya. Hal tersebut dikarenakan fakta sosial mengikat masyarakat dalam sebuah tatanan yang kuat. Sehingg,a sebelum masyarakat melakukan suatu hal, dia akan terlebih dahulu mempertimbangkan hal tersebut secara moralitas, norma yang berlaku ataupun kedudukan yang ditempatinya saat itu. Durkhelm percaya bahwa masyarakat dibentuk oleh kultur dan struktur yang berada disekitarnya (Langer dalam Beilharz, 2005:103)


Definisi Sosial
Paradigma definisi sosial didasarkan pada tokoh sosiologi klasik dari Jerman yaitu Max Weber. teori max Weber yang berkaitan dengan paradigma definisi sosial adalah Teori tindakan sosial dan verstehen. paradigma definisi sosial memungkinkan kita mengetahui motif dari suatu tindakan secara mendalam. Namun demikian, kelemahan dari paradigma definisi sosial adalah tidak dapat membahas fenomena dengan ruang lingkup yang luas.
Ketika kita melakukan sesuatu hal, Pernahkah kita memikirkan alasan mengapa kita melakukan hal tersebut? Apakah setiap tindakan yang kita lakukan, kita selalu mengetahui sebab dan akibat dari tindakan tersebut? Setidaknya dua pertanyaan tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan dasar bagi kita baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memanglah sederhana. Akan tetapi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita akan mengetahui tentang motif atau tujuan dari tindakan tindakan yang telah kita lakukan.
Teori tentang tindakan sosial adalah salah satu teori yang cukup dikenal dan sangat identik dengan Max Weber. Dengan teori tindakan sosial ini, Max Weber berusaha mengetahui alasan dari setiap tindakan individu yang berada di sekitarnya. Tindakan rasional yang diperkenalkan oleh Max Weber ini, didasarkan atas alasan alasan rasional dari seseorang dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya. Max Weber membagi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu menjadi empat tipologi. Berikut pembagian tindakan sosial menurut Max Weber:
  • Tindakan rasional instrumental adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dikarenakan individu tersebut memiliki tujuan tujuan yang ingin dicapainya, sehingga individu tersebut melakukan serangkaian upaya-upaya untuk mewujudkan apa yang ia inginkan. Sebagai contoh, seorang remaja bercita-cita menjadi prajurit TNI. Karena keinginannya tersebut, ia setiap hari berolahraga dan melatih kekuatan tubuhnya. Setiap hari dia berlari secepat mungkin untuk dapat mencapai target. Seluruh yang dilakukan oleh remaja tersebut adalah serangkaian tindakan dalam langkah usaha menggapai cita-citanya.
  • Tindakan rasional berbasis nilai adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh individu dikarenakan kepercayaan terhadap suatu agama. Tindakan tersebut dilakukan bukan hanya karena sebuah kebiasaan, akan tetapi individu tersebut memiliki kesadaran bahwa yang dia lakukan adalah ajaran dari kepercayaan yang dia yakini. Sebagai contoh dari tindakan ini adalah seorang individu yang beribadah secara tekun karena dia meyakini apa yang dia lakukan akan membawa sebuah kebaikan.
  • Tindakan afektif adalah tindakan yang dilakukan oleh individu karena didasari oleh perasaan emosional atau juga karena dilandasi sikap berpura-pura. Tindakan semacam ini sangat sulit dipahami karena terkadang berjalan di luar kebiasaan atau juga di luar pikiran rasional.
  • Tindakan tradisional adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh individu karena sudah berlaku sebagai sebuah kebiasaan atau sebuah tradisi yang sudah berlangsung secara turun-temurun. Orang yang melakukan tindakan tradisional ini, tidak mempertanyakan ulang alasan-alasannya melakukan tindakan tersebut. Mereka menganggap tindakan tersebut wajar karena sudah dialami secara berulang-ulang.


Baca juga :
Max Weber Teori Dan Aplikasi

Perilaku Sosial
Paradigma perilaku sosial adalah paradigma dalam sosiologi yang memiliki hubungan erat dengan psikologi. Tokoh utama dari paradigma perilaku sosial adalah B.F Skinner. paradigma perilaku sosial memiliki metode khusus dalam penelitiannya yaitu metode eksperimen. paradigma ini khusus mengamati perilaku manusia yang cenderung tidak dipikirkan terlebih dahulu. Ada dua teori yang memiliki hubungan erat dengan paradigma ini yaitu: behaviorisme dan teori pertukaran.
Sosiologi behaviorisme memandang berbagai perilaku manusia dan dampaknya. Orang yang melakukan suatu hal cenderung bertindak dengan pikiran pendek. Hal ini memang lebih dondong pada psikologi jika kita tinjau dari perilaku nya saja. akan tetapi tentu dapat kita lihat dari segi sosiologis nya. Kita dapat meneliti sebab-sebab mengapa orang tersebut menjadi bertindak ke gegabah. Contoh nyata dari perilaku ini adalah orang-orang yang terdorong membeli barang tertentu karena adanya iming-iming hadiah ataupun diskon dalam jumlah tertentu.
Teori pertukaran sosial mengajarkan kepada kita tentang adanya hal-hal yang dipertukarkan dalam sebuah tindakan. hal tersebut dapat berupa keuntungan ekonomi ataupun status sosial. di sisi lain teori pertukaran sosial juga mencerminkan ketergantungan. Contoh dari perilaku yang didasarkan pada teori pertukaran sosial adalah: 1). Seseorang yang dekat dengan pejabat pemerintahan. Orang tersebut memiliki keinginan untuk naik jabatan. Sedangkan pejabat tersebut membutuhkan orang yang dapat meringankan beban kerjanya. 2). Hubungan antara petani dengan pedagang padi.


Referensi :
Abercrombie, Nicholas, dkk. 2010. Kamus Sosiologi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
Beilharz, Peter, 2005. Teori-Teori Sosial Observasi Kritis Terhadap Filosof Terkemuka, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Edisi ke-8. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern. Edisi ke-7. Yogyakarta. Kencana
Ritzer, George. 2014. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Cetakan ke-11. Depok. RajaGrafindo Persada
Weber, Max. 2009. Sosiologi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Jenis-Jenis Modal Dalam Sosiologi


Seberapa seringkah Anda mendengar kata "modal"?  Jika kita mendengar kata modal mungkin ingatan pertama yang muncul dalam benak kita adalah perusahaan ataupun bisnis. Ingatan tersebut sangatlah tidak salah. Namun istilah modal dalam perusahaan ataupun perdagangan berkaitan dengan modal dalam pendekatan ilmu ekonomi. 
Istilah modal sendiri sangat dikenal dalam kajian ilmu sosiologi. Sebelum kita lebih lanjut membahas modal dalam cakupan ilmu sosiologi, sangat baik untuk mengetahui definisi modal menurut kamus besar bahasa Indonesia. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata "modal" diartikan sebagai berikut: 1, uang yang dipakai sebagai bagai (induk) untuk berdagang, melepas uang dan sebagainya; harta benda (uang, barang, dsb) yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan sesuatu yang menambah kekayaan. Modal juga diartikan sebagai barang yang dipergunakan sebagai dasar atau bekal untuk bekerja atau berjuang. 
Modal dalam kajian sosiologi biasa disebut dengan modal sosial atau kapital sosial. Menurut Prof Syamsul Maarif (2011:7) kajian mengenai modal sosial sangat berkembang pesat pada masa modern. namun pembahasan secara rinci mengenai perkembangan teori modal sosial akan kita bahas pada tulisan-tulisan mendatang. Tulisan kali ini hanya akan terfokus pada pengenalan jenis-jenis modal. 
Menurut Profesor Sunyoto Usman dalam bukunya yang berjudul "Modal Sosial", dia membagi jenis-jenis modal menjadi empat. Jenis-jenis modal tersebut adalah : modal finansial (financial capital)  financial capital) financial capital), modal fisik (physical capital), modal manusia (human capital) dan modal sosial (social capital). (Usman, 2018:2-4). Berikut adalah penjelasan dari masing-masing modal.
Modal finansial atau financial capital adalah modal yang berupa uang. Akan tetapi tidak semua uang dapat kita kategorikan sebagai modal finansial. jika uang tersebut berada dirumah dan tidak dipergunakan sama sekali, ataupun hanya dipergunakan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, maka uang tersebut tidak dapat disebut sebagai modal finansial. Jika uang tersebut diinvestasikan dalam bentuk saham atau  uang pokok untuk pendirian usaha yang menguntungkan, maka uang tersebut dapat dinamakan sebagai modal finansial. 
Modal fisik atau physical capital adalah modal yang berupa alat-alat produksi. Alat produksi tersebut dapat berupa mesin ataupun kendaraan perusahaan. Selain mesin, bangunan tempat produksi juga dapat dikategorikan sebagai modal fisik. Sedangkan bahan baku produksi tidak dapat disebut modal fisik. sebuah negara dapat saja memiliki kekayaan sumber daya alam ataupun bahan baku produksi, namun ketika tidak memiliki modal fisik yang cukup, negara tersebut dapat dinyatakan miskin modal fisik. Ada pula negara yang memiliki sedikit bahan baku produksi namun kaya modal fisik. Model fisik akan bertahan dalam jangka waktu yang relatif lama untuk kegiatan produksi yang menghasilkan keuntungan berkali-kali. Sedangkan bahan baku produksi hanya dapat digunakan sekali pakai. 
Modal manusia atau human capital adalah modal dalam bentuk tenaga kerja. Model manusia disini dapat berupa tenaga kerja produksi atau juga tenaga kerja dengan keahlian khusus, misalnya saja kemampuan mengorganisir perusahaan. Orang-orang dengan pendidikan tinggi dan pengalaman kerja yang mumpuni juga dapat dikategorikan sebagai modal manusia. Pada tulisan mendatang, saya akan mengulas perbedaan antara modal manusia dan modal sosial secara lebih terperinci. 
Modal sosial atau social capital adalah modal yang berada pada relasi-relasi sosial dalam masyarakat. Jika kita mempunyai relasi dengan banyak tokoh masyarakat, hal tersebut tidak dapat disebut sebagai modal sosial. Yang perlu kita ingat dari modal sosial adalah kata investasi. Artinya, setiap relasi sosial harus mendatangkan keuntungan ataupun dampak positif di masa mendatang. Keuntungan tersebut dapat bersifat personal ataupun sosial. Contoh sederhananya adalah sebagai berikut: jika seorang tokoh masyarakat memerintahkan masyarakatnya untuk bersih desa, tokoh masyarakat tersebut kemudian menghubungi orang orang berpengaruh di tempat tersebut, orang-orang tersebut kemudian memerintah masyarakat yang lebih banyak lagi, dan masyarakat kemudian mengikutinya, yang perlu kita tahu adalah motif dari tokoh masyarakat tersebut. Jika motifnya semata-mata karena tugas jabatannyanya, maka kasus tersebut tidak menunjukkan adanya modal sosial. Jika motifnya adalah agar di masa mendatang masyarakat bebas dari penyakit, maka hal ini dapat dinyatakan sebagai modal sosial. Atau jika tokoh masyarakat pertama bertujuan memerintah kegiatan bersih-bersih tersebut untuk menarik simpati rakyat dalam pemilihan kepala desa, maka hal tersebut juga dapat disebut sebagai modal sosial. 


Referensi :
Depdiknas, 2008. Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta, Pusat Bahasa.
Ma'arif, Syamsul, 2011. Kapital Sosial, Yogyakarta, Gress Publishing
Usman, Sunyoto, 2018. Modal Sosial, Yogyakarta, Pustaka Pelajar

Sunday, August 18, 2019

Max Weber, Teori Dan Aplikasi

Oleh : Teguh Kasiyanto



Sumber gambar : google

Sejarah Singkat
Max Weber sebuah nama yang lazim didengar di kalangan akademisi teori sosial. Ia adalah orang yang teori-teorinya banyak digunakan di berbagai cabang ilmu sosial. Sebagai contoh salah satu teori Weber yaitu teori birokrasi, dibahas dalam rumpun teori administrasi. Selain teori birokrasi, masih banyak pemikiran pemikiran Max Weber yang digunakan dalam berbagai rumpun teori sosial.
Max Weber adalah salah satu Sosiolog Jerman. Max Weber dilahirkan pada 21 April 1864 di kota Erfurt Jerman. Dia dilahirkan dari kalangan keluarga kelas menengah Jerman. Max Weber berasal dari keluarga pedagang linen dan tekstil di Jerman Barat. Ayahnya adalah seorang ahli hukum sekaligus seorang birokrat yang cemerlang pada saat itu. Ibu Max Weber sendiri adalah seorang penganut Calvinis yang taat. Berbeda dengan ayahnya, ibunya lebih memiliki perhatian pada dunia lain atau dunia spiritual. Di kemudian hari. Kedua latar belakang dari orangtuanya ini sangat berpengaruh pada orientasi intelektual dari Max Weber.
Ketika Max Weber berusia 5 tahun. Keluarganya memutuskan untuk pindah ke Berlin. Di kota yang kini menjadi ibukota negara Jerman inilah Ayah Max Weber menjadi politisi yang sangat dikenal. Saat Weber berusia 4 tahun, Dia terkena penyakit meningitis. Weber kecil lebih suka membaca daripada berolahraga. Karena tumbuh di kalangan keluarga yang sangat terdidik, membuat Max Weber matang Dalam usia yang cukup muda.
Saat Max Weber berusia 13 tahun, dia mulai menulis esai. Salah satu esainya membahas tentang sejarah Jerman. Weber muda memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap buku-buku sejarah. Sehingga Saat usianya memasuki 15 tahun, Dia sudah terbiasa membuat tulisan dan catatan catatan panjang atas buku-buku yang dibacanya. Dia juga mengkritik teman-temannya yang memiliki selera yang rendah.
Di musim semi pada tahun 1882, Max Weber menyelesaikan pra universitasnya. Dia dikenal oleh guru-gurunya sebagai seorang pemuda yang tidak terlalu tekun dalam belajar. Kematangan mentalnya pun dipertanyakan oleh guru-gurunya. Setidaknya kesan negatif itulah yang diterima oleh guru Max Weber. Namun demikian, tidak susah bagi orang seperti Max Weber untuk memperoleh keinginannya. Setelah lulus, dia melanjutkan pendidikannya ke Heidelberg. Sebuah tempat di mana nama besar ayahnya dibentuk. Di Heidelberg, sebagaimana ayahnya Weber mempelajari hukum. Selain itu, Weber juga mempelajari pengetahuan lain seperti budaya, sejarah, ekonomi, dan filsafat. Karena pengaruh ayahnya yang kuat membuat max level mempelajari hukum. Dan dari pengaruh ibunya, dia mempelajari filsafat dan teologis yang berkembang pada waktu itu.
Semasa menjadi mahasiswa, Weber selalu bangun di pagi hari. Dia mengawali paginya dengan mengikuti perkuliahan pagi. Selepas kuliah, Dia menghabiskan satu jam waktunya untuk berada di aula duel. Pukul 12.30 dia melakukan makan siang dan kadang-kadang disertai dengan minum anggur. Aktivitas surinya sangat beragam, mulai dari jalan-jalan, berdiskusi hingga permainan kartu yang berat. Sedangkan aktivitasnya di malam hari Mulai dari makan malam di restoran hingga memeriksa catatan-catatan perkuliahan.
Di usianya yang ke-19, dia mengikuti semacam kegiatan wajib militer. Sebenarnya dia tidak terlalu menyukai kegiatan ini. Dia tidak cukup kuat untuk mengikuti latihan latihan militer yang diwajibkan. Bahkan sepulang dari latihan militer di jam 09.00 malam. rasa lelah tidak cukup membuatnya dapat tertidur. Hal tersebut dikarenakan dalam kehidupan militer sangat jauh berbeda dengan kehidupan akademis yang dia tekuni.
Pada tahun 1884, Max Weber menyelesaikan program latihan militernya. Pasca menyelesaikan latihan militer, dia melanjutkan proses perkuliahannya di Berlin dan Gottingen. Dua tahun kemudian untuk pertama kalinya Max Weber menjalankan ujiannya dalam bidang hukum. Akan tetapi di tahun 1885 dan 1887 Weber kembali mengikuti kegiatan kemiliteran. Bahkan pada tahun 1888 dia ikut serta dalam kegiatan militer di perbatasan Jerman.
Seusai menjalani masa perkuliahannya, Weber bekerja di sebuah pengadilan Berlin. Dia memiliki minat yang sangat besar dalam kajian hukum dan ekonomi yang saling melengkapi. Beberapa tahun berikutnya, Weber menyelesaikan tesis dan disertasinya yang memiliki fokus pada hukum dagang serta sejarah kongsi dagang abad pertengahan.
Max Weber menikah dengan seorang temannya yang bernama Marianne. Namun Jauh sebelum itu, Weber pernah mencintai salah satu putri dari saudari ibunya. Gadis yang dicintainya tersebut sempat masuk ke rumah sakit jiwa. Hingga Weber memutuskan hubungan dengannya karena perhatiannya yang cukup besar pada gadis itu. Pada tahun 1894, Weber memperoleh jabatan profesornya dalam bidang ekonomi pada Universitas Freiburg. Pada tahun 1895, dia menyampaikan pidato pengukuhan gelar profesornya dengan judul "Negara Nasional dan Kebijakan Ekonomi" di Freiburg.
Pada 1897, ayah Weber meninggal dunia. Sebuah pertengkaran hebat antara Weber dan ayahnya sempat terjadi sebelum 1897. Dalam hal ini Weber membela ibunya. Pertengkaran yang terjadi ini di kemudian hari membuat Weber sangat menyesal dan depresi. Pada 1898 hingga awal abad ke 20. Serangkaian penyakit menyerang Max Weber. Bahkan dia sempat dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa untuk beberapa waktu.
Setelah serangan penyakit yang sangat kronis, Weber akhirnya dapat kembali ke dunia akademis yang dia geluti. Pada tahun 1904. Dia sempat pergi ke Amerika untuk menjelaskan struktur sosial masyarakat Jerman. Setidaknya Pada kurun 1904-1918 Weber aktif dalam berbagai kegiatan akademis, baik berupa diskusi-diskusi maupun penelitian yang mendalam. Pada akhir 1918. Weber kembali diserang sakit. Tahun 1920, sang prata dasar teori tindakan rasional ini menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Max Weber dikenal sebagai salah satu dari tokoh sosiologi klasik. Namun demikian, ada pula anggapan bahwa dia adalah peletak dasar teori sosiologi modern. Menurut Abercrombie dkk (2010:611), ada lima alasan mengapa Weber disebut sebagai peta dasar bagi sosiologi modern. (1). Dia telah menyediakan suatu pernyataan sistematis tentang landasan konsep perspektif sosiologi. (2). Dia telah mengembangkan sebuah filsafat ilmu sosial yang koheren, yang mampu mengenali permasalahan mendasar dalam menjalankan tindakan sosial. (3). Dalam berbagai bidang penting dia telah memahami karakteristik dasar peradaban industri modern. (4). Melalui kajian-kajian empirisnya tentang masyarakat modern tersebut, dia telah mengidentifikasi sejumlah isu kunci yang telah menjadi fokus perdebatan penting dalam disiplin ini. (5). Perjalanan hidupnya sendiri dalam banyak hal menyediakan contoh kuat tentang Bagaimana sosiologi sebagai sebuah pekerjaan yang patut ditekuni dengan sepenuh hati.

Verstehen
Menurut Weber, ilmuwan sosial memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh ilmuwan alam. Ilmuwan sosial dapat menjelaskan berbagai fenomena sosial yang terjadi di sekitar. Hal tersebut tentu tidak ditemukan di kalangan ilmuwan alam yang mengkaji atom, karena fenomena sosial berbeda dengan fenomena alam.
Istilah verstehen dikenal sebagai interpretatif. Istilah tersebut dalam kalangan sejarawan Jerman dikenal juga dengan istilah hermeneutik. (Ritzer, 2012:1999). Verstehen adalah salah satu upaya Max Weber untuk menunjukkan jika Setiap tindakan yang dilakukan oleh individu memiliki dasar atau interpretasi yang unik. Dia berupaya menjelaskan jika verstehen adalah sebuah metode yang ilmiah. Secara umum, verstehen adalah upaya untuk mengetahui motif dari tindakan seseorang secara lebih mendalam.

Tipe Ideal
Tipe ideal adalah salah satu sumbangan intelektual Max Weber kepada dunia birokrasi. Weber percaya jika seorang sosiolog memiliki tanggung jawab untuk membangun kerangka konseptual. Kerangka konseptual tersebut kemudian diwujudkan dengan adanya tipe ideal.
"Suatu tipe ideal dibentuk oleh penekanan bersisi satu sudut pandang atau lebih. Dan oleh sintesis segudang fenomena individual konkrit yang tersebar, yang berlainan, yang kurang atau lebih hadir dan kadang-kadang absen, yang disusun menurut sudut sudut pandang bersisi satu itu menjadi suatu konstruksi analitis terpadu. Di dalam kemurniaan konseptualnya, konstruksi mental itu, tidak dapat ditentukan di mana pun secara empiris di dalam realitas." (Weber dalam Ritzer. 2012:202).
Tipe ideal tidak serta merta disusun oleh ilmuwan secara serampangan. Akan tetapi sebuah tipe ideal disusun secara sistematis dengan cara mengumpulkan seluruh unsur-unsur yang berkaitan dengan suatu hal yang kemudian dipilah. Dalam perspektif Weber, tipe ideal disusun secara induktif.
Tipe ideal disusun untuk mengetahui apa saja yang seharusnya ada. Misalnya, kita akan menggambarkan pemerintahan yang ideal. Maka yang kita lakukan adalah mengumpulkan hal-hal yang menggambarkan pemerintahan yang baik atau bahkan berkeadilan. Dengan adanya tipe ideal, kita akan mengetahui hal-hal yang tidak ideal atau tidak seharusnya terjadi. Dalam birokrasi, terdapat alasan untuk terjadinya sebuah penyimpangan sehingga tidak tercipta tipe ideal. Alasan-alasan tersebut (Ritzer, 2012:204) adalah:

  • Tindakan-tindakan para birokrat yang dimotivasi oleh informasi yang salah.
  • Kesalahan-kesalahan strategis terutama oleh para pemimpin birokratis.
  • Kesalahan-kesalahan logis yang mendasari tindakan-tindakan para pemimpin dan pengikut.
  • Keputusan-keputusan yang dibuat di dalam birokrasi berdasarkan emosi.
  • Setiap irasionalitas di dalam tindakan para pemimpin dan pengikut birokratis.
Tipe ideal bukanlah gambaran terbalik dari kenyataan. Akan tetapi adalah pembesaran sudut pandang yang dilakukan oleh peneliti terhadap objek kajiannya. Menurut Ritzer, setidaknya ada empat tipe ideal yang diperkenalkan oleh Max Weber yaitu:

  1. Tipe tipe ideal historis. Tipe ini berhubungan dengan fenomena yang ditemukan di dalam epos khusus.
  2. Tipe tipe ideal sosiologis umum. Tipe ini berhubungan dengan fenomena yang melintasi sejumlah periode historis dan masyarakat.
  3. Tipe tipe ideal tindakan. Tipe ini adalah tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi dalam pelaksanaannya.,
  4. Tipe tipe ideal struktural, tipe ini adalah bentuk yang diambil oleh sebab-sebab dan konsekuensi-konsekuensi tindakan sosial. Contohnya dominasi kaum modernis.

Tipologi Otoritas
Max Weber memiliki perhatian yang cukup besar pada struktur sosial terutama berkaitan dengan otoritas. Sebuah otoritas sangat berkaitan dengan kegiatan-kegiatan birokratis. Secara mudahnya otoritas dapat berarti sebagai sebuah kekuasaan atau alasan bagi seseorang memberikan kuasa terhadap orang yang lain. Menurut Max Weber, ada tiga tipe otoritas:

  • Otoritas legal rasional, adalah otoritas yang dihasilkan melalui proses proses rasional. Proses-proses rasional tersebut dapat berupa pemilihan umum atau juga proses-proses lain yang demokratis. Otoritas jenis ini memiliki kekuatan hukum legal yang tetap dan kuat.
  • Otoritas kharismatik adalah jenis otoritas yang didasarkan pada kekuatan atau kemampuan batin dari seseorang. Orang yang memiliki kharisma akan mudah mempengaruhi orang-orang di sekitarnya serta memiliki kemampuan untuk menggerakkan mereka dengan pengaruh pengaruhnya. Orang yang memiliki kharisma akan dihormati dalam masyarakat tanpa diminta atau juga tanpa adanya peraturan khusus yang mengaturnya.
  • Otoritas tradisional, adalah jenis otoritas yang berlangsung secara turun-temurun baik melalui adat-istiadat maupun melalui bentuk-bentuk kebudayaan dan pembiasaan yang terus berlangsung. Karena sifatnya yang tradisional, otoritas jenis ini sangat tergantung pada setiap suku atau bangsa yang menerapkannya. Sebagai contoh, pergantian kepala suku dari suatu suku sangat bergantung pada cara ataupun keyakinan yang mereka miliki dalam memilih pemimpin. Cara tersebut bukanlah cara-cara rasional, melainkan merupakan endapan proses berulang-ulang yang berlangsung dalam jangka waktu panjang.

Tindakan Sosial
Ketika kita melakukan sesuatu hal, Pernahkah kita memikirkan alasan mengapa kita melakukan hal tersebut? Apakah setiap tindakan yang kita lakukan, kita selalu mengetahui sebab dan akibat dari tindakan tersebut? Setidaknya dua pertanyaan tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan dasar bagi kita baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan tersebut Memanglah sederhana. Akan tetapi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita akan mengetahui tentang motif atau tujuan dari tindakan tindakan yang telah kita lakukan.
Teori tentang tindakan sosial adalah salah satu teori yang cukup dikenal dan sangat identik dengan Max Weber. Dengan teori tindakan sosial ini, Max Weber berusaha mengetahui alasan dari setiap tindakan individu yang berada di sekitarnya. Tindakan rasional yang diperkenalkan oleh Max Weber ini, didasarkan atas alasan alasan rasional dari seseorang dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya. Max Weber membagi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu menjadi empat tipologi. Berikut pembagian tindakan sosial menurut Max Weber:

  • Tindakan rasional instrumental adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dikarenakan individu tersebut memiliki tujuan tujuan yang ingin dicapainya, sehingga individu tersebut melakukan serangkaian upaya-upaya untuk mewujudkan apa yang ia inginkan. Sebagai contoh, seorang remaja bercita-cita menjadi prajurit TNI. Karena keinginannya tersebut, ia setiap hari berolahraga dan melatih kekuatan tubuhnya. Setiap hari dia berlari secepat mungkin untuk dapat mencapai target. Seluruh yang dilakukan oleh remaja tersebut adalah serangkaian tindakan dalam langkah usaha menggapai cita-citanya.
  • Tindakan rasional berbasis nilai adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh individu dikarenakan kepercayaan terhadap suatu agama. Tindakan tersebut dilakukan bukan hanya karena sebuah kebiasaan, akan tetapi individu tersebut memiliki kesadaran bahwa yang dia lakukan adalah ajaran dari kepercayaan yang dia yakini. Sebagai contoh dari tindakan ini adalah seorang individu yang beribadah secara tekun karena dia meyakini apa yang dia lakukan akan membawa sebuah kebaikan.
  • Tindakan afektif adalah tindakan yang dilakukan oleh individu karena didasari oleh perasaan emosional atau juga karena dilandasi sikap berpura-pura. Tindakan semacam ini sangat sulit dipahami karena terkadang berjalan di luar kebiasaan atau juga di luar pikiran rasional.
  • Tindakan tradisional adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh individu karena sudah berlaku sebagai sebuah kebiasaan atau sebuah tradisi yang sudah berlangsung secara turun-temurun. Orang yang melakukan tindakan tradisional ini, tidak mempertanyakan ulang alasan-alasannya melakukan tindakan tersebut. Mereka menganggap tindakan tersebut wajar karena sudah dialami secara berulang-ulang.

Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme
Karena pengaruh dari ibunya yang begitu kuat, Weber juga sempat meneliti tentang masyarakat Protestan. Yang membuat dia tertarik adalah orang-orang Protestan lebih banyak yang kaya dan mapan kehidupan ekonominya. Rasa penasarannya tersebut memuncak hingga lahirlah karya besarnya yang berjudul "The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalisme" .
Ibu dari Max Weber adalah seorang pengikut calvinisme. Calvinisme sendiri adalah merupakan salah satu sekte dari Protestan. Weber menyatakan bahwa yang membuat kaum Protestan lebih kaya daripada yang lain adalah perpindahan sekte calvinisme ini. Doktrin tersebut kiranya berbunyi "hanya orang kaya lah yang akan bertemu Tuhan di surga nanti". Hal ini menimbulkan pengikut sekte calvinisme saling berlomba-lomba memperkaya diri guna mencapai kecepatan pada Tuhan.
Di sisi seberang, doktrin kaum Katolik jauh berbeda dengan sekte calvinisme. Para penganut Katolik melakukan serangkaian ibadah ibadah di gereja gereja dan menghabiskan waktu mereka untuk melakukan pengakuan atas dosa dosa dihadapan pastor. Perbedaan doktrin ini kemudian menyebabkan kaum Katolik menjadi sangat pasrah dan menerima apa adanya nasib kehidupan mereka.

Referensi:

  • Abercrombie, Nicholas, dkk. 2010. Kamus Sosiologi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
  • Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Edisi ke-8. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
  • Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern. Edisi ke-7. Yogyakarta. Kencana
  • Ritzer, George. 2014. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Cetakan ke-11. Depok. RajaGrafindo Persada
  • Weber, Max. 2009. Sosiologi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
  • Weber, Max. 2010. Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme. Yogyakarta. Pustaka Pelajar


Saturday, August 3, 2019

Makna Simbolik Wayangan Di Istana Negara (Sebuah Opini)

Pada Jum'at tertanggal 2 Agustus 2019, digelar sebuah pertunjukan wayang kulit di Istana Negara. Pertunjukan ini mengambil lakon "Kresno Jumenengan Ratu" dan disiarkan langsung di channel YouTube NU CHANNEL. Sebagai orang Jawa, saya menganggap hal tersebut memiliki pesan pesan tersembunyi. Mengapa demikian? Dalam pertunjukan wayang kulit, terdapat banyak lakon Jumenengan, yaitu dari Jumenengan Dasamuka hingga Jumenengan Parikesit. Dari banyaknya lakon Jumenengan, masing-masing lakon memiliki makna tertentu. Oleh sebab itu, saya akan terlebih dahulu menuliskan jalannya cerita dan kemudian menunjukkan sisi cerita yang dapat ditafsirkan.
Kisah diawali dari Raja Dwarawati yang bernama Prabu Yudha Kala Kresna memanggil mahapatihnya Patih Kresnengkara. Prabu Yudha Kala Kresna adalah seorang raja yang telah menaklukan banyak kerajaan. Namun demikian, kali ini sang prabu berencana menaklukkan kahyangan suralaya agar namanya semakin terkenal di dunia. dia kemudian mengutus mahapatihnya untuk menggempur kahyangan disertai dengan angkatan perang Kerajaan Dwarawati. 
Angkatan perang Kerajaan Dwarawati yang dipimpin langsung oleh Prabu Yudha Kala Kresna dengan cepat mengobrak-abrik kahyangan suralaya. Barisan dewa-dewa kahyangan dengan mudah dapat mereka taklukkan. Dengan memerintahkan Batara Narada, Batara Guru memerintahkan agar Batara Narada mencari keturunan kerajaan Mandura (Madras). Karena hanya merekalah yang dapat menyelesaikan prahara ini.
Dengan sesegera mungkin Batara Narada menemui Prabu baladewa Raja Mandura. Batara Narada selanjutnya memerintahkan agar Baladewa membantu kahyangan. Namun, Baladewa ternyata memanggil adiknya terlebih dahulu yaitu Narayana. Narayana yang memiliki kegemaran mengembara itu diperintahkan untuk turut serta membantu kahyangan. Akan tetapi Narayana menolak dengan alasan bahwa yang dimintai pertolongan adalah Baladewa sebagai Raja Mandura. Alhasil, Baladewa mengusir Narayana dan Demang Udawa yang memiliki pemikiran sama dengan Narayana. Baladewa selanjutnya mengajak Werkudara untuk melawan Prabu Yudha Kala Kresna yang tengah merusak kahyangan. 
Prabu Baladewa dan Werkudara kemudian berangkat ke kahyangan. Di sana mereka menghadapi prajurit dari Kerajaan Dwarawati. Prajurit dari Kerajaan Dwarawati banyak yang gugur. Baladewa dan Werkudara mengamuk dengan sejadi-jadinya. Namun mereka berdua harus kalah dan mengakui kehebatan Prabu Yudha Kala Kresna. Mereka berdua terlempar jauh karena terkena ilmu dari Prabu Yudha Kala Kresna yaitu "aji gelap sayuto". 
Di sisi lain, Narayana dan Demang Udawa menuju ke pertapaan gunung kembang. Narayana merasa bahwa dirinya sedang dipanggil oleh gurunya yaitu Begawan Padmanaba melalui aji pameling. Sesampainya di pertapaan, noroyono disambut langsung oleh Begawan Padmanaba. Begawan Padmanaba selanjutnya memberikan dua pusaka kepada Narayana yaitu kembang Wijayakusuma dan panah kyai kesawa. 
Begawan Padmanaba kemudian memerintahkan Narayana agar bersemedi. Begawan Padmanaba mengatakan bahwa dirinya akan menjadi satu jiwa dengan Narayana. Narayana segera bersemedi. Begawan Padmanaba kemudian berubah menjadi dua berkas cahaya. seberkas cahaya masuk ke dalam jasad Narayana dan berkas yang lain pergi. Karena masuknya seberkas cahaya tersebut Narayana kemudian tak sadarkan diri. 
Batara Narada selanjutnya menemui Narayana. Dia menjelaskan bahwa, dua berkas cahaya tersebut adalah penitisan dari Batara Wisnu. Penitisan Batara Wisnu terbelah menjadi dua, pertama Narayana dan yang lain adalah Arjuna. Setelah mengatakan hal tersebut, Batara Narada mengatakan bahwa antara Narayana dan Arjuna tidak boleh terpisah. Batara Narada kemudian juga menunjukkan kereta yang menjadi tunggangan dari Batara Wisnu, yaitu Kyai Jaladara dan seekor burung garuda. di dalam kereta tersebut juga terdapat dua senjata yang dapat digunakan untuk situasi peperangan yaitu, bende poncojanyo dan salompret kalasangka. Batara Narada kemudian memerintahkan Narayana untuk berperang melawan Prabu Yudha Kala Kresna.
Di tempat yang jauh, Arjuna bersama panakawan sedang berkumpul. Arjuna ingin membantu Werkudara yang kalah berperang. Semar selanjutnya menyampaikan bahwa jika sudah ada takdirnya akan ada jalan untuk hal itu. mereka kemudian berjalan menyusuri hutan belantara. di tengah hutan belantara mereka bertemu dengan seekor harimau yang dapat berbicara seperti manusia. Harimau tersebut berniat memangsa mereka. Pertarungan pun terjadi. Akhirnya harimau itu pun kalah dan hilang wujudnya menjadi seberkas cahaya yang merupakan penitisan Batara Wisnu. Cahaya tersebut kemudian masuk ke dalam jasad Arjuna.
Batara Narada turun menemui Arjuna. Dia menjelaskan bahwa Arjuna adalah salah satu dari titisan Wisnu yang terbelah. Selanjutnya Arjuna tidak boleh terpisah dari Narayana. Selain itu, Arjuna juga diperintahkan untuk menemui Narayana. 
Setelah bertemu dengan Narayana, selanjutnya Arjuna dan Narayana menghadap pada Batara Guru. Mereka menerima tugas berat tersebut dan mendapatkan perlindungan dewata. Arjuna dan Narayana maju ke arena pertempuran. Para pembesar dari pasukan Kerajaan Dwarawati tumbang satu persatu. Namun demikian mereka berdua masih kesulitan untuk mengalahkan Prabu Yudha Kala Kresna.
Narayana kemudian memanggil tunggangannya yaitu kereta Kyai Jaladara. Arjuna kemudian diminta memilih peran Apakah menjadi kusir atau menjadi senopati. Arjuna pun pasrah pada Narayana. Arjuna kemudian menjadi kusir dari kereta tersebut. Kereta selanjutnya terbang dan mengelilingi arena pertempuran. Narayana yang telah menerima senjata warisan Sang Batara Wisnu kemudian memukul bende poncojanyo dan meniup saalompret kalasangka. kombinasi dari dua pusaka tersebut membentuk suara yang sangat berisik dan menyebar ke segala penjuru.
Prabu Yudha Kala Kresna yang mendengar suara tersebut menjadi bertambah marah. Telinganya menjadi terasa sakit karena mendengarkan suara itu. Suara itu terdengar dari berbagai penjuru. Suara-suara berisik tersebut membuat Prabu Yudha Kala Kresna kehilangan kesabaran dan strateginya menjadi kacau. Pada saat itulah, Narayana melepaskan senjata cakra baskara dari dalam kereta yang dikendarai.  Prabu Yudha Kala Kresna tewas oleh Narayana. Prabu Yudha Kala Kresna pecah kepalanya seketika. Atas peristiwa tersebut, Narayana kemudian diangkat menjadi raja baru di kerajaan Dwarawati dengan gelar Sri Batara Kresna. 
Mahapatih Kerajaan Dwarawati tidak terima dengan peristiwa itu. Dia kemudian maju ke medan perang. Narayana yang menyaksikan hal tersebut kemudian mengutus Demang Udawa untuk melawan Mahapatih tersebut. Pertarungan berlangsung sengit. Demang Udawa tergigit dan tercengkram oleh maha Patih tersebut. Pada detik-detik yang menentukan, Demang Udawa segera menarik pusaka Kyai Blabar, ditikamnya Mahapatih tersebut hingga tewas. Atas jasanya, Demang Udawa diangkat menjadi Mahapatih di kerajaan Dwarawati. 
Pertunjukan wayang golek tersebut memiliki makna dan penafsiran kontekstual dengan kondisi hari ini. Dalam tradisi orang Jawa, lakon wayang menjadi sebuah pesan ataupun harapan yang ingin diungkapkan. perlu kita ingat bahwa Indonesia baru saja menyelesaikan tahapan Pemilihan Presiden tahun 2019. pemilihan ini menghasilkan pasangan presiden dan wakil presiden republik Indonesia tahun 2019-2024 yaitu. H, Ir, Joko Widodo dan Kyai Ma'arif Amin. Hal ini sangat berkaitan dengan lakon wayang kulit tersebut. 
Narayana adalah seorang pengembara dari satu daerah ke daerah lain. Dari pengembaraannya tersebut, dia memperoleh banyak ilmu dan mendapatkan kedudukan yang luhur. Sedangkan seperti yang kita tahu bahwa presiden kita juga adalah seorang yang berpetualang, dari Wali Kota, Gubernur dan Presiden. Beliau juga masih rutin melakukan blusukan ke berbagai daerah. 
Selanjutnya, adegan pemusnahan Prabu Yudha Kala Kresna adalah adegan yang memiliki pesan sangat luas. Terutama, penitisan Wisnu yang terbagi dua dan bertugas merawat kelestarian alam semesta, hal ini mengisyaratkan dua pemimpin terpilih republik ini. Kedua, Narayana dan Arjuna yang tidak boleh berpisah setelah menjadi titisan Batara Wisnu, mengisyaratkan bahwa dalam menjalankan tugasnya presiden dan wakil presiden tidak boleh berbeda sikap. mereka harus berjalan beriringan dan bersama-sama melakukan pembangunan dan perbaikan. Ketiga, kendaraan yang digunakan oleh Narayana dan Arjuna adalah kereta yang dapat berjalan di darat, air dan udara. Hal ini mengisyaratkan akan pesatnya pembangunan pada ketiga sektor tersebut. 
Keempat, dua senjata yang dipukul dan ditiup oleh Narayana dan membuat lawannya kebingungan, hari ini mengisyaratkan pengaruh yang begitu besar dari presiden terpilih saat ini, sehingga sangat hegemonik dari berbagai penjuru. Hal ini kemudian membuat lawan-lawan politiknya semakin panik. Kelima, Narayana menyerang musuhnya ketika Prabu Yudha Kala Kresna dalam kondisi kebingungan atas hegemoni yang diakibatkan dua senjata Narayana. hal ini mengisyaratkan bahwa lawan politik akan diserang ketika mereka semakin panik dan lemah. Keenam, anugerah yang diberikan kepada Demang Udawa setelah mengalahkan Mahapatih dari Prabu Yudha Kala Kresna, hal ini mengisyaratkan bahwa presiden terpilih hanya akan memilih orang-orang yang bekerja keras dan telah terbukti karyanya. mungkin strategi itu pula yang akan digunakan untuk memilih menteri menteri kabinet terbaru.

Wednesday, May 1, 2019

Jenis-Jenis Penelitian

Materi tentang penelitian dapat dikatakan sebagai materi tersulit dalam pelajaran sosiologi untuk tingkat SMA. Sebenarnya penelitian dapat dikatakan sebagai sebuah upaya untuk mencari tahu hal-hal yang kita inginkan. Proses untuk mencari tahu segala sesuatu tersebut memiliki cara-cara tertentu yang ilmiah. Oleh sebab itu, kita akan dapat menemukan berbagai jenis penelitian, tergantung dari sudut mana penelitian itu dilakukan. Berikut beberapa klasifikasi penelitian:

Berdasarkan Bidang Ilmu:
  • Ilmu Alam, penelitian ini dilakukan untuk meneliti hal-hal yang sudah pasti dan memiliki alat-alat tertentu dalam pelaksanaannya. Contoh: penelitian mengenai jumlah massa udara di suatu daerah tertentu.
  • Ilmu Sosial, penelitian dalam bidang ilmu sosial memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan objek penelitiannya adalah interaksi manusia yang memiliki sifat sangat dinamis. Contoh: perubahan struktur masyarakat di suatu daerah tertentu karena pengaruh globalisasi.


Ditinjau Dari Pendekatan 
  • Kualitatif, penelitian ini bersifat lebih mendalam namun memiliki jangkauan ruang yang sempit. Penelitian ini akan memudahkan kita untuk mengetahui segala fenomena dengan lebih mendalam. Misalnya: penelitian tentang sosial budaya masyarakat di daerah tertentu.
  • Kuantitatif, penelitian ini bersifat dangkal dan memiliki jangkauan yang luas. Pada penelitian kuantitatif biasanya digunakan generalisasi terhadap objek penelitian. Kelemahannya adalah, generalisasi tersebut tidak dapat digunakan pada semua tempat. Misalnya: survei elektabilitas calon presiden.


Ditinjau Dari Tempatnya
  • Penelitian laboratorium, penelitian ini dilakukan di laboratorium atau ruangan khusus untuk pelaksanaan penelitian. Biasanya yang mau kan penelitian di laboratorium adalah penelitian dalam bidang kajian ilmu alam. Meskipun demikian ilmu alam juga dapat melakukan penelitian di lapangan.
  • Penelitian kancah / lapangan, penelitian ini dapat dilakukan di berbagai tempat umum.



Ditinjau Dari Pembahasan 
  • Penelitian deskriptif, pada penelitian ini data disampaikan apa adanya tanpa apa upaya untuk mengambil sebuah keputusan ataupun kesimpulan. Misalnya: penelitian mengenai struktur sosial masyarakat.
  • Penelitian inferensial, penelitian ini mengolah data untuk selanjutnya diambil sebuah kesimpulan atau generalisasi. Misalnya: penelitian tentang kepuasan rakyat terhadap pemimpin.


Ditinjau Dari Wujud Data
  • Kualitatif, penelitian ini memiliki wujud data berupa rekaman wawancara, catatan observasi, serta dokumentasi berupa gambar atau video yang menjelaskan setting sosial penelitian.
  • Kuantitatif, wujud data penelitian kuantitatif berupa angka-angka ataupun variabel-variabel serta kuesioner survei.

Ditinjau Dari Tujuan
  • Mengungkapkan kebenaran sebagai manifestasi hasrat ingin tahu manusia.,
  • Mengembangkan ilmu pengetahuan.,
  • Sebagai sarana untuk memecahkan berbagai masalah dalam masyarakat.



Istilah-istilah 
  1. Variabel adalah objek penelitian yang bervariasi. Contoh variabel adalah: jenis kelamin, tingkat pendapatan, tingkat kepemilikan, dan lain-lain.
  2. Validasi adalah proses memeriksa kebenaran dari suatu data.
  3. Reliabilitas adalah keandalan data yang konsisten.
  4. Hipotesis adalah anggapan dasar, dugaan awal atau jawaban sementara dari sebuah fenomena. Contoh: ada pengaruh antara tingkat kecerdasan dengan tingkat kedisiplinan dalam belajar. 
  5. Kodifikasi adalah proses pengkodean terhadap data penelitian.


Referensi:
Cresswell, John W. 2014. Penelitian Kualitatif & Desain Riset Memilih Diantara Lima Pendekata. Yogyakarta: Pustaka 
Pelajar
Ruswanto, 2009, Sosiologi Untuk SMA/MA Kelas XII, Jakarta, Pusat Perbukuan Depdiknas.

Monday, April 29, 2019

Resensi Buku Sultan Agung Menelusuri Jejak-jejak Puncak Kekuasaan Mataram


Penulis            : Krisna Bayu Adji & Sri Wintala Achmad
Penerbit           : Araska
Tahun Terbit   : 2019
Tebal               :  296 Halaman
Ukuran             : 14x20,5 cm
Harga               : Rp50.000,00 
ISBN.              : 978-602-5805-80-6

Buku yang ditulis oleh penulis buku buku sejarah ini adalah sebuah buku yang menarik. Selama ini telah banyak buku-buku sejarah terutama tentang sejarah jawa. Akan tetapi, buku-buku sejarah tentang Jawa tersebut sangat minim mengungkap latar belakang seorang tokoh secara mendalam. Buku ini adalah sebuah buku yang khusus membahas tentang perjalanan hidup seorang raja besar Kerajaan Mataram Islam yang fenomenal. 
Buku ini diawali dengan pembahasan sejarah leluhur Sultan Agung. Meskipun pembahasannya tidak terlalu mendalam, namun bagian awal ini cukup memberikan kita informasi-informasi yang penting mengenai leluhurnya. Kisah tentang perselisihan antara Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Sebuah perselisihan di antara keduanya dikarenakan Ki Ageng Pemanahan an setelah meminum air kelapa keramat milik Ki Ageng Giring.

Buku ini sangat bagus dalam menyusun narasi sejarah Sultan Agung. Akan tetapi, buku ini hanya memuat sedikit sekali informasi mengenai masa muda Sultan Agung. Sebagian pembahasan pada buku ini adalah sejak Sultan Agung naik tahta. Di tengah kontestasi perebutan wilayah-wilayah di pulau Jawa oleh kerajaan bercorak Islam, Sultan Agung mampu membawa Mataram ke atas puncak kejayaan terbaiknya. Mataram berkembang dengan pesat dalam 32 tahun kepemimpinan Sultan Agung. 
Kerajaan Mataram Islam sebagai salah satu kekuatan besar di tanah Jawa tidak didapatkan secara mudah oleh Sultan Agung. serangkaian penaklukan dan pergolakan pemberontakan terjadi pada masa kepemimpinannya. Perlawanan berdarah Surabaya adalah salah satu perjuangan paling berdarah dalam proses penaklukan. Lebih dari setengah pulau Jawa dikuasai oleh kerajaan Mataram kala itu. Namun, Mataram dibawah kepemimpinan Sultan Agung masih gagal untuk menyingkirkan VOC dari Batavia. Selain kegagalan tersebut, Sultan Agung berhasil memadamkan pemberontakan Pragola II, Dipati Ukur dan pemberontakan Pajang. 
Sebagai salah satu pemimpin terbesar kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung telah banyak meninggalkan perubahan besar bagi masyarakat Jawa. Pada masa Sultan Agung berkuasa, di susunlah sebuah kalender Jawa yang didasarkan pada kalender Hijriyah. Pada masa Sultan Agung filsafat Jawa sangat hidup dan berkembang dengan pesat. Perkembangan filsafat Jawa tersebut diiringi dengan perkembangan sastra gending Jawa wa. Para pembaca yang budiman, akan lebih baik lagi jika Anda membaca buku tersebut hingga bagian akhir, karena kita akan menemukan berbagai hal hal menarik di dalam perjalanan kepemimpinan Sultan Agung.

Tuesday, April 23, 2019

KRL, Ruang Aktual Masyarakat Organik

Stasiun Gondang Dia

KRL atau yang lebih kita kenal dengan Kereta Rel Listrik adalah salah satu moda transportasi terpadu yang beroperasi di DKI Jakarta peserta daerah penyangganya. Kereta Rel Listrik tersebut menghubungkan daerah-daerah di kawasan Jabodetabek.  Moda transportasi terpadu ini dalam sehari dapat mengangkut lebih dari satu juta orang. 
Penumpang dari moda transportasi ini didominasi oleh orang-orang yang bekerja di kawasan ibu kota maupun mahasiswa yang sedang melaksanakan studi di daerah Depok dan sekitarnya. Pada jam-jam tertentu, terutama jam keberangkatan kerja dan pulang kerja, penumpang moda transportasi ini sangat membludak dan berdesak-desakan. Pada jam-jam sibuk kerja, akan sangat sulit menemukan tempat duduk bagi penumpang KRL. Sebagian besardiantara mereka berdiri dan berpegang pada tempat pegangan yang telah disediakan. 
Penumpang KRL mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan penumpang kereta api pada umumnya. Pada saat kita menumpang kereta api, kita akan dengan mudah menemukan orang-orang yang saling sapa meskipun mereka tidak saling kenal sebelumnya. Penumpang kereta api terutama tujuan jarak jauh, sangat dimungkinkan bagi mereka untuk berkenalan dengan orang-orang baru sebagai teman mengobrol di perjalanan. 
Namun, hal yang jauh berbeda terjadi pada penumpang KRL. Mereka adalah orang-orang dengan jadwal teratur dan tujuan yang relatif tidak terlampau jauh. Saat di stasiun misalnya, mereka akan cenderung diam sembari duduk ataupun berdiri. mereka hanya akan mengobrol dengan orang-orang yang telah mereka kenal sebelumnya. Belum lagi, ketika di stasiun, mereka dituntut mendengarkan setiap pengumuman yang diberikan oleh petugas. Jika mereka sampai salah mendengarkan informasi tentang keberangkatan kereta, sangat dimungkinkan akan salah mengambil jurusan. 
Saat KRL tujuan telah datang, mereka yang telah dari tadi menunggu akan saling berebut untuk masuk. Tak sampai beberapa lama, pintu KRL akan segera tertutup dan mulai melaju. Di dalam KRL yang penuh sesak ketika jam efektif kerja, gerbong penuh sesak dengan manusia. Saling berdesakan satu sama lain untuk mendapatkan tempat yang nyaman. Masing-masing dari mereka ada yang sekedar terdiam dan ada pula yang membuka ponsel masing-masing. Sangat sedikit terdengar obrolan di antara mereka. Sesekali mereka yang membuka ponsel memainkan game game online seperti halnya PUBG mobile. hanya suara tembak-tembakan dari game tersebutlah yang lebih sering muncul di atas gerbong KRL. Hal yang demikian membuat mereka layak disebut sebagai masyarakat organik.
Emile Durkheim (1858-1917) salah satu sosiolog Prancis membagi masyarakat menjadi dua bagian, yaitu: masyarakat mekanik dan masyarakat organik. Pada masyarakat mekanik masyarakat yang memiliki ciri-ciri yaitu: volume masyarakat yang penuh, memiliki intensitas perjumpaan yang tinggi, masyarakatnya kaku dan terdiri dari kelompok religius yang taat serta adat istiadat. Sedangkan masyarakat organik memiliki ciri-ciri berkebalikan dari masyarakat mekanik (Ritzer, 2012:145-151). Masyarakat organik cenderung individualis, memiliki pembagian kerja yang spesifik, hubungannya bersifat kepentingan serta lebih luwes dalam pergaulan. Luwes di sini dalam artian dapat bergaul dengan suku bangsa manapun serta golongan apapun asalkan sejalan dengan kepentingan.
kondisi yang muncul pada penumpang KRL tidak jauh berbeda dengan apa yang telah diungkapkan Durkheim tentang masyarakat organik. sesekali obrolan hanya terdengar antara ibu-ibu yang telah saling kenal. sementara pada penumpang lain semua sibuk membuka handphone masing-masing, baik untuk bersosial media ataupun hanya sekedar bermain game online. Sangat wajar memang hal tersebut terjadi, karena mereka memiliki kesibukan dan pekerjaan yang berbeda-beda.

Referensi :
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Edisi ke-8. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Monday, March 18, 2019

Menuju PEMILU Berkualitas Dengan Partisipasi Disabilitas

Pemilihan umum tahun 2019 tak lama lagi akan digelar. Perhelatan akbar ini merupakan salah satu upaya untuk menemukan sosok sosok pemimpin bangsa dan wakil rakyat yang dapat menjalankan roda pemerintahan dengan sebaik mungkin. Pemilihan umum tahun ini merupakan an besar yang rutin dilakukan oleh bangsa Indonesia sejak tahun 2004 silam. 
Untuk pertama kalinya pemilihan umum tahun ini mempersatukan dua jenis pemilihan secara langsung. Setiap pemilih akan menerima 5 surat suara sekaligus pada pemilihan umum tahun ini. Akan ada lima surat suara dengan ditandai warna yang berbeda pada ada sisi depan surat suara tersebut. Warna abu-abu untuk pemilihan presiden dan wakil presiden, warna kuning untuk pemilihan DPR RI, warna merah untuk DPD RI, warna biru untuk DPRD provinsi dan warna hijau untuk DPRD Kabupaten/Kota. 
Secara umum semua warga negara Indonesia yang telah memenuhi syarat sebagai pemilih dapat menggunakan hak pilihnya pada saat pencoblosan. Meskipun demikian, bagi setiap warga negara yang menyandang disabilitas netra, masih belum dapat secara penuh mengetahui surat suara yang ada. Hal ini dikarenakan template yang tersedia hanya untuk pencalonan presiden dan wakil presiden, sementara untuk 4 kertas suara lainya tidak tersedia. Akan tetapi, penyandang disabilitas netra dapat meminta bantuan kepada orang yang dipercaya untuk membacakan kertas suara.
Partisipasi disabilitas dalam pemilihan umum tahun 2019 secara umum dilindungi oleh undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, dan Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Pada Undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas Bab 3 pasal 5 ayat 1 poin h, dijelaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak politik.meskipun ikut serta dalam pemilihan umum adalah sebuah hak politik bagi penyandang disabilitas, namun hal tersebut masih belum mampu menambah partisipasi penyandang disabilitas secara penuh. 
Pemilihan umum adalah jalan terbaik untuk memilih orang-orang yang berpengetahuan luas, serta memiliki kapasitas dalam pengembangan setiap warga negara yang menyandang disabilitas. pemilu adalah cara terbaik untuk menempatkan wakil-wakil yang terpercaya bagi penyandang disabilitas. Dengan cara tersebut, maka berbagai macam kesulitan yang ada pada ruang publik hingga ruang pendidikan dan ruang kerja dapat diupayakan penyelesaiannya.
Oleh : Teguh Kasiyanto