Monday, June 18, 2018

Pengalaman Dua Tahun Bersama Redmi Note 1 3G

Saya membeli hp tersebut pada dua tahun lalu, tepatnya bulan Juni 2016 ketika bulan Ramadlan ketika shalat tarawih. Ketika saya membeli HP tersebut, sebenarnya sedang ramai-ramainya HP Xiaomi Redmi Note 3 yang baru saja muncul. HP Xiaomi Redmi Note 3 yang baru muncul disebut sudah mendukung 4G LTE. Akan tetapi karena finansial yang tidak mencukupi, Saya memutuskan untuk membeli HP Redmi Note 1 3G.
Secara spesifikasi HP Xiaomi Redmi Note 1 3G yang saya beli, Belumlah terlalu ketinggalan saat itu. HP Xiaomi Redmi Note 1 3G memiliki layar 5,5 inci dengan resolusi HD 720p. Layarnya bertipe IPS. Ketika pertama kali dinyalakan, sistem operasinya adalah Android 4.2 Jelly Bean. Setelah mengalami update menjadi Android 4.4.2 KitKat. HP ini tidak mendapatkan update sistem operasi Android hingga di hari-hari terakhir kehidupannya. 
Ketika saya membeli Redmi Note 1 3G, tidak banyak yang kita dapat dari kotak pembeliannya. Saya hanya mendapatkan satu buah Hp Redmi Note 1 3G, sebuah kabel micro USB, sebuah kepala charger dengan output 5 volt 2 ampere serta berbagai macam buku panduan serta dan garansi TAM. Saya membeli HP ini dengan harga 1,4 juta.
Redmi Note 1 memiliki kamera belakang beresolusi 13 MP dengan LED Flash. Sementara kamera depannya beresolusi 5 MB tanpa LED Flash. Sementara untuk urusan chipsetnya ditenagai oleh MediaTek MT6592. Baterainya berkapasitas 3100 mAh. HP ini mendukung dual SIM sekaligus. 
Dengan RAM 2 GB dan penyimpanan internal 8 GB dan support micro SD 32GB, HP ini masih cukup kuat digunakan dua tahun yang lalu. Dari HP ini saya belajar menggunakan Google Voice semaksimal mungkin untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah menggunakan WPS Office. Dengan HP ini pula, saya belajar menjadi seorang blogger sejak akhir tahun 2016. Aneka tontonan di Youtube dari kajian filsafat hingga kabar  tentang teknologi juga saya tonton menggunakan Hp ini. Berbagai trik menggunakan media sosial pun saya pelajari menggunakan Hp ini. Meskipun spesifikasi HP ini sangat rendah, Tapi HP ini telah ikut serta memberi pembelajaran tentang berbagai hal terhadap saya. HP yang sudah menemani saya mengerjakan tugas-tugas kuliah dan tulisan-tulisan blog dengan sangat baik. Tapi ini sudah rusak dan sekarang masih saya simpan beserta kardus pembeliannya. Sungguh sebuah barang yang bernilai sejarah bagi perkembangan saya.

Friday, June 15, 2018

Gemuruh Idul Fitri 1439 H


Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Suara takbir bergemuruh memenuhi malam Jum'at Legi ini. Suara kembang api memecah angkasa. Orang-orang berduyun-duyun untuk bertakbir. Desa desa menjadi semarak dalam lantunan membesarkan nama-nama Allah. 
Dengan bergemuruhnya takbir, menandakan berakhirnya bulan Ramadlan yang penuh keberkahan. Kita tidak lagi akan menjumpai berbuka bersama, shalat tarawih, Tadarus beramai-ramai serta sahur yang disertai musik-musik patrol, setidaknya hingga 11 bulan ke depan. Malam-malam yang biasanya Semarang di bulan Ramadlan, akan kembali hening keesokan harinya setelah malam takbir. 

Baca juga :

Ramadlan memang tidak berakhir di tahun ini. Setelah serangkaian ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadlan, Sudah saatnya bagi kita untuk memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Kita memang dapat saling memaafkan di luar Idul Fitri. Akan tetapi, Idul Fitri adalah satu momentum Di mana kita dapat semakin memperkuat tali silaturahim. Diluar Idul Fitri orang-orang terdekat kita baik saudara, tetangga, Sahabat, juga teman-teman kita, mereka merantau ke tempat-tempat yang jauh. Ketika Idul Fitri tiba, mereka kembali ke kampung halaman masing-masing. Inilah suatu kesempatan bagi kita untuk menyambung tali silaturahim sekaligus saling memaafkan. 
Terkadang kita terlalu egois untuk memaafkan atau bahkan hanya sekedar meminta maaf. Jika demikian, Bagaimana anda akan menjalani kehidupan bersama-sama sepanjang hidup anda.? Bagaimanapun juga, kita harus mengambil suatu pelajaran dari sifat Allah, yaitu yang Maha Pengampun.
Sebagai insan yang berdosa, sayogyo yang kita berharap amal ibadah kita yang sedikit di bulan Ramadlan dapat diterima di sisi Allah. Amal ibadah kita sangat sedikit jika kita mengingat seberapa besar kenikmatan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Saya biasanya kita memohon kepada Allah, agar senantiasa diberikan petunjuk dan kesempatan untuk beribadah kepada-Nya. Semoga kita dapat berjumpa dengan Ramadlan di tahun depan. Semoga Allah meridloi kita untuk bertemu Ramadlannya. Taqabballallahu minnaa waminkum. Taqabbal Yaa Kariim. Minal aidzin wal faaizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Wednesday, June 13, 2018

Ramadlan 1439 H / 2018 M Yang Hampir Berlalu

By : Teguh Kasiyanto

Ramadlan adalah bulan yang istimewa. Bulan ini sangat tampak perbedaannya dengan bulan-bulan Hijriyah yang lain. Bukan hanya karena kita diwajibkan berpuasa saat bulan tersebut. Bukan pula karena pada bulan tersebut kita melakukan salat Tarawih dan serangkaian Tadarus Al-Qur'an di malam hari. Dua hal tersebut memang benar. Akan tetapi lebih dari itu. Ketika bulan Ramadlan amal ibadah kita dilipatgandakan nilainya. Tak tanggung-tanggung Allah melipatgandakan pahala tersebut hingga seribu kali lipat. 

Ramadlan memang adalah bulan yang benar-benar istimewa. Di dalamnya terdapat satu malam yang istimewa yaitu malam Lailatul Qadar. Malam yang dijanjikan setara dengan berbuat baik selama seribu bulan tanpa henti. Tak hanya sampai disitu, Allah menjanjikan rahmat pada sepertiga awal Ramadlan, pengampunan pada sepertiga kedua dan pembebasan dari api neraka pada sepertiga terakhir. Dalam salat tarawih yang dilaksanakan tiap malamnya, berbagai macam kenikmatan diberikan kepada manusia yang melaksanakannya. 
Ramadlan adalah bulan yang menawan. Ramadlan laksana seorang gadis berparas cantik, berkulit putih, dengan bibir merah merekah, bersuara merdu, berkerudung putih, penuh perhatian, setia dan menenangkan jiwa. Sebuah ilustrasi yang mungkin justru membuat kita Hilang Ingatan karena hal tersebut. Begitulah Ramadlan. Bulan yang membutuhkan kita tergila-gila mengejarnya, merindukannya dan ingin selalu bersamanya. 
Ramadlan memang layak dinantikan. Pertemuan kita dengan Ramadlan di setiap persimpangan satu tahun sekali, justru membuat kita semakin ingin bersamanya di sepanjang tahun. Pertemuan yang singkat itu, terkadang terasa semakin singkat manakala kita benar-benar menyambut kehadirannya. Satu bulan rasa-rasanya terlalu sedikit untuk mencurahkan seluruh kehidupan kita kepada bulan Ramadlan. 
Kini, tanpa terasa Ramadlan tahun ini telah hampir berakhir. Entah sudah seberapa seriuskah kita dalam mewujudkan Kerinduan kita kepada Ramadlan yang kita nantikan. Sudahkah kita semakin mempercantik Ramadlan yang kita cintai, agar kita semakin merindukannya. Ataukah justru kita sudah acuh tak acuh pada kekasih yang kita cintai. Mungkin kita telah salah prioritas ketika Ramadlan disisi kita. Harusnya kita asyik melepas rindu pada Ramadlan dengan serangkaian kebaikan. Ya. Mungkin kita adalah orang-orang yang selalu terlambat dalam menyadari segalanya. Mungkin penyesalan selalu datang saat perpisahan membayangi. Tapi, beruntunglah bagi kita yang menyadari semua itu sebelum benar-benar berlalu. Sekarang di akhir Ramadlan 1439 H / 2018 M, yang kita bisa adalah berharap dan memohon kepada Allah agar kita dipertemukan kembali dengan bulan yang sangat kita cintai yaitu Ramadlan di tahun depan.