Tuesday, December 27, 2016

Kedatangan Islam Dan Perubahan Masyarakat Pulau Jawa


Nama : Teguh Kasiyanto
NIM    : 140910302053
         Islam sebuah agama yang menurut para penganutnya merupakan agama terakhir bagi seluruh umat di alam semesta. Menurut penggolonganya agama Islam merupakan Dinus Samawiy atau agama langit. Agama ini diturunkan di Jazirah Arab pada abad ke 7 masehi. Nabi yang membawa agama ini adalah Nabi Muhammad. Agama ini merupakan agama penutup bagi agama-agama langit sebelumnya. Dalam perkembangannya agama ini berkembang keseluruh penjuru dunia bahkan hingga sampai ke nusantara.
         Nusantara sebuah kepulauan yang terletak diantara dua samudra ini merupakan tempat berkembangnya Islam secara pesat pada awal 15 hingga saat ini. Kisah 1 pulau di nusantara Islam membawa perubahan besar bagi masyarakatnya. Sebuah perubahan yang tidak hanya terjadi pada sistem kepercayaan akan tetapi sebuah perubahan yang juga terjadi pada sistem sosial dan relasi diantara anggota masyarakatnya. Masyarakat pulau Jawa yang sebelumnya tercatat sebagai pemeluk agama hindu-budha bahkan kapitayan secara berbondong-bondong masuk ke dalam agama Islam dengan berbagai strategi efektif dari penyebarnya. Masyarakat Jawa sebelum datangnya Islam hidup dengan kondisi sosial yang dapat dikatakan di bawah kemampuan dan hidup dibawah kepemimpinan raja raja yang tertutup.
         Kerajaan kerajaan di pulau Jawa sebelum abad ke-15 merupakan kerajaan dengan struktur masyarakat yang berbeda. Mereka menyusun stratifikasi sosial masyarakat berdasarkan tingkat ketergantungannya pada hal hal yang bersifat duniawi. Semakin bergantung seseorang terhadap dunia, maka dia semakin menempati struktur yang lebih rendah. Tentu pola struktur masyarakat ini sangatlah unik. Apalagi jika pola struktur masyarakat ini dibandingkan dengan struktur masyarakat yang berlaku di zaman modern ini. Saat ini Tingkat kemampuan ekonomi menjadi hal yang mutlak menjadi tolak ukur dari setiap stratifikasi sosial. Bagaimana sebenarnya pembagian stratifikasi sosial di masa sebelum Islam masuk.?  Bagaimanakah kondisi sosial budaya dari masyarakat pulau Jawa saat Islam belum merambah ke dalamnya.? Apa sajakah perubahan-perubahan yang dilakukan oleh para penyebar Islam sehingga terjadi perombakan sistem sosial.? Mengapa perubahan yang terjadi mudah diterima oleh masyarakat tanpa adanya konflik berkepanjangan.? Tentu hal ini menjadi menarik juga dapat dikaji dari dua sisi sekaligus yakni dari sisi historis dan di sisi sosiologis. Karena kesuksesan yang dicapai oleh para penyebar Islam terutama di tanah Jawa sangat Cemerlang dan tidak terlalu menimbulkan konflik konflik di dalam tubuh masyarakat.
         Strategi dakwah yang cemerlang membuat masyarakat Jawa pada saat itu dengan mudah berganti keyakinan untuk memeluk agama Islam. Hal yang demikian diungkapkan oleh salah seorang sejarawan yaitu Agus Sunyoto. Beliau merupakan salah satu dosen di Universitas Brawijaya Malang yang memiliki andil besar dalam penulisan kembali sejarah para penyebar Islam Tanah Jawa. Hal ini dikarenakan Agus sunyoto mengungkapkan berbagai fakta sejarah yang tidak diungkap oleh sejarawan sejarawan lainnya. Dalam bukunya yang berjudul Atlas Walusongo beliau mengganbarkan tentang struktur masyarakat Jawa sebelum dan sesudah Islam masuk ke Tanah Jawa. Pada buku tersebut dijelaskan jika di seperempat awal abad ke-15 sudah terdapat tiga golongan masyarakat sebagai dampak dari kemunduran dari kerajaan Majapahit. 3 golongan masyarakat tersebut yang pertama adalah orang-orang dari barat yang beragama Islam. kehidupan mereka sudah sangat baik dan cara berpakaian mereka juga bersih dan rapi. Golongan masyarakat kedua adalah golongan masyarakat Cina yang sudah memeluk Islam. Pakaian dan makanan mereka pun juga baik. Sedangkan golongan ketiga merupakan kaum pribumi yang memiliki pola hidup dan cara berpakaian yang cukup jorok. Mereka tidak memakai alas kaki dan rambut merekapun juga tidak pernah disisir. Masyarakat ini pun masih menyembah roh roh yang mereka yakini keberadaannya. Hal ini juga sesuai dengan catatan Laksamana Cheng Ho yang melakukan perjalanan ke Majapahit pada tahun 1411 dan 1433 M. Selain itu masyarakat majapahit juga dapat dibagi menjadi dua golongan yakni golongan Keraton dan golongan petani. Dua golongan ini memiliki perbedaan yang sangat mencolok mudah untuk diamati. Keyakinan diantara dua golongan Inipun juga berbeda. Mereka yang termasuk golongan Keraton agama Hindu ataupun agama Buddha. Sementara itu mereka yang termasuk ke dalam golongan petani mayoritas beragama kapitayan. Agama ini memiliki kepercayaan terhadap roh-roh dan dewa-dewa dalam agama Hindu dan Budha. akan tetapi mereka mengenal konsep tuhan utama mereka yang mereka sebut sebagai Sanghyang tunggal atau dapat kita sebut sebagai Tuhan yang tunggal. Perbedaan yang lain terdapat saat mereka keluar rumah. golongan petani terbiasa untuk berjalan kaki, membawa barang, naik Pedati dan membawa gerobak. Sedangkan golongan Keraton jarang berjalan kaki di saat keluar dari rumah pasti disertai oleh adanya pengawalan dari prajurit kerajaan.
            Masyarakat Majapahit juga memiliki struktur masyarakat yang lain. Seperti yang saya sampaikan di awal bahwasanya penggolongan masyarakat ini didasarkan pada keterikatan mereka terhadap hal-hal yang bersifat keduniawian. dalam buku Atlas Walisongo halaman 397 struktur masyarakat Majapahit adalah sebagai berikut:
1. Brahmana.  adalah golongan rohaniawan keagamaan yang ditandai dengan gelar- gelar acaria, Brahmana Rishi, siku, pandhita, ajar, kyayi.
2. Ksatria, Golongan ini adalah golongan menak penguasa menguasai negara yang ditandai penggunaan gelar khusus seperti Bhre, Arya, Rakryan, Rakean, Raden, Gusti, Tuanm
3. Waisya, adalah golongan karya dalam yang penuh perhitungan, tekun,  terampil, hemat, cermat kemampuan pengelolaan aset (kepemilikan) sehingga kaum Waisya hampir identik  dengan kaum pedagang atau pebisnis.
4. Golongan Sudra adalah golongan karya yang apabila hendak menjalankan profesinya sepenuhnya mengandalkan kekuatan jasmaniah, ketaatan, kepolosan, keluguan serta bakat ketekunannya. Tugas utamanya adalah berkaitan langsung dengan tugas-tugas memakmurkan masyarakat negara dan umat manusia atas petunjuk golongan karya diatasnya seperti menjadi buruh, tukang kasar, petani, pelayan, nelayan, penjaga, dan lain-lain.
5. Golongan Candala adalah golongan yang merupakan anak hasil perkawinan laki-laki ber kasta Sudra dengan wanita berkasta diatasnya seperti Brahmana, Ksatria, dan Waisya sehingga kasta dari sang anak menjadi lebih rendah dari kasta ayahnya.
6. Golongan Meleccha adalah golongan diluar bangsa Arya termasuk semua pedagang-pedagang dari daerah lain seperti Cina, Arab, India, siam, Campa dan lain-lain.
7. Golongan Tucha  adalah golongan yang merugikan masyarakat lain Misalnya saja pencuri dan golongan-golongan lain yang merugikan.
Sementara itu di masa kerajaan Demak ulama-ulama Islam mengadakan perubahan perubahan besar terutama dalam sistem stratifikasi sosial. Jika di masa pemerintahan Kerajaan Majapahit terdapat tujuh golongan masyarakat maka pada masa kerajaan Demak stratifikasi tersebut mengalami perubahan yakni hanya tersisa tiga golongan saja. Tiga golongan tersebut adalah golongan ulama, golongan Kesatria yang meliputi kaum kerajaan dan prajurit-prajurit, serta golongan masyarakat umum yang memiliki berbagai macam pekerjaan. Pembagian ini lebih ringkas jika dibandingkan dengan struktur masyarakat sebelumnya. Hanya saja meskipun demikian dalam masyarakat umum orang-orang yang merugikan orang lain masih di ini sebagai kasta terendah dalam masyarakat. Perkawinan antar status masyarakat yang berbeda pun sudah mulai tidak diperhitungkan.
         Perjuangan para penyebar agama Islam di Pulau Jawa tidak hanya membawa perubahan agama saja, akan tetapi mampu merubah struktur masyarakat yang memegang selama ini menjadi lebih terbuka dan fleksibel. tentu saja masyarakat yang memilih untuk berpindah keyakinan tidak serta merta menerima uluran dakwah dari para ulama penyebar Islam. Akan tetapi dengan menggunakan strategi kebudayaan dan bahasa-bahasa baru yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sehingga dalam penyebarannya nilai-nilai esensial dalam Islam mampu dipindahkan dan diterjemahkan dalam bentuk yang berbeda tetapi masih dengan esensi yang sama yakni ajaran Islam yang damai. Sebagai contohnya dalam strategi kebudayaan para ulama tersebut memperkenalkan wayang kulit, tradisi sekaten, tradisi Grebeg, dan Tradisi selamatan serta lagu-lagu dan tari tari yang bernafaskan Islam. Dalam wayang kullll kulit pun ceritanya banyak yang dirubah dan dimasuki nilai-nilai esensial Islam. Jika dalam versi asli Pandawa diceritakan poliandri maka dalam versi ulama waktu itu diceritakan jika masing-masing dari Pandawa memiliki istri bahkan juga melakukan poligami. Ulama masa itu juga menambahkan beberapa cerita yang sebenarnya tidak terdapat dalam versi aslinya semisal Dewa Ruci. Cerita tersebut menggambarkan perjalanan spiritual seorang muslim dalam mencari hakikat kesejatian hidup. Atau jika dalam ilmu-ilmu Islam sering disebut dengan tasawuf. Selain itu juga diperkenalkan istilah-istilah Islam yang dimasukkan ke dalam bahasa bahasa Jawa. Diantara istilah tersebut adalah:
Allah Robbul 'Alamiin menjadi Gusti Kang Nurbeng Dumadi
Nabi Muhammad menjadi Kanjeng Nabi
Hadrotus Syaikh menjadi Susuhunan/Sunan
Al "Alim menjadi Kyai
Al Ustadz menjadi Guru
Murid/Salik menjadi Santri
MA"hadir/Halaqoh menjadi Pesantren
Shalat menjadi Sembahyang
Shoim menjadi Upawasa/puasa
Ridlo menjadi LILO dll.
Hal yang demikian merupakan strategi dakwah yang sangat ampuh dijalankan pada masyarakat Jawa yang berbudaya dan berkeyakinan. Perubahan perubahan terus terjadi tanpa diketahui betul oleh masyarakat kemana mereka diarahkan dan dibimbing.
         Perubahan yang terjadi pada sejarah tersebut sebenarnya dapat dijelaskan dengan teori-teori sosiologi. Karena menurut saya apa yang diterapkan oleh para penyebar Islam di tanah Jawa Tak ubahnya seorang sosiolog yang menerapkan teori teori yang mereka pelajari. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah menerima perubahan. Jika kita hendak menganalisis dengan teoritisi teoritisi sosiologi misalnya maka hal tersebut dapat kita analisis dengan beberapa teori. Hanya saja dalam kasus ini saya akan menggunakan teori dari talcott parson yaitu AGIL. Apa itu AGIL ? AGIL adalah kependekan dari Adaptation, goal attainment, integratif, dan Latensi. Keempat fungsi tersebut merupakan fungsi imperatif atau prasyarat berlangsungnya sistem sosial. Ada fungsi-fungsi atau kebutuhan-kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi oleh setiap sistem yang hidup. Dua  pokok penting yang termasuk ke dalam kebutuhan fungsional ini adalah pertama yang berhubungan dengan kebutuhan sistem sosial atau kebutuhan sistem ketika berhubungan dengan lingkungannya. Kedua, yang berhubungan dengan sistem sasaran atau tujuan serta sarana yang perlu untuk mencapai tujuan tersebut. secara umum teori AGIL dapat dijelaskan sebagai berikut: Adaptation fungsi ini merupakan fungsi yang sangat penting pada fungsi ini sistem harus dapat beradaptasi dengan cara menanggulangi situasi eksternal yang kompleks,  dan sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan serta dapat menyesuaikan lingkungan untuk kebutuhannya. Fungsi ini merupakan fungsi organisme atau sistem organis tingkah laku. Kedua, goal attainment fungsi ini sangat penting, yaitu sistem harus M, mendefinisikan, dan harus mencapai tujuan utam.,anya. Fungsi ini merupakan fungsi kepribadian. Ketiga Integrasi sebuah sistem harus mampu mengatur dan menjaga hubungan  bagian-bagian yang menjadi komponennya. Selain itu sistem harus dapat mengatur dan mengelola ketiga fungsi AGL. Fungsi integrasi merupakan fungsi sistem sosial. Keempat, latent paternalistik maintenance. Sistem harus mampu berfungsi sebagai pemelihara pola sebuah sistem harus memelihara dan memperbaiki motivasi pola-pola individu dan kultural fungsi ini merupakan fungsi kultural. Dengan demikian Apa yang dilakukan oleh ulama penyebar Islam di tanah Jawa setidaknya sesuai dengan penerapan teori dari talcott parsons ini.

Thursday, December 8, 2016

REVIEW KONSTRUKSI DAN REPRODUKSI SOSIAL ATAS BENCANA ALAM


Nama.  : Teguh Kasiyanto
NIM      : 140910302053
Prodi    : Sosiologi
Matkul : Analisis Resiko Benca
         Bencana biasanya datang dengan membawa berbagai dampak. Meskipun sebagian dari dampak tersebut adalah positif namun tak sedikit dari manusia yang merasakan dampak negatif dari perencanaan tersebut. Memang bencana alam yang terjadi seperti erupsi gunung berapi misalnya akan dapat menambah kesuburan tanah, namun dibalik itu semua ada banyak kepedihan yang tercipta karena adanya bencana. Dalam setiap bencana alam yang terjadi korban-korban kejatuhan dan banyak diantara mereka yang harus kehilangan nyawa. Namun sebenarnya penderitaan yang sangat menyayat hati justru dialami oleh mereka mereka yang masih hidup. Mereka yang tersisa dari terjadinya bencana tersebut hanya bisa memandangi Tuhan dalam Tuhan rumah mereka. Mereka hanya bisa mengharapkan jasad dari anak, istri, suami, dan anggota yang lain dari keluarga mereka agar segera ditemukan. Bagi mereka dalam sisa-sisa semangat hidupnya menemukan jasad dari anggota keluarganya sangatlah penting. Tekanan-tekanan psychologist dan mental harus mereka hadapi. Di tengah ketidakpastian hidup yang mereka jalani dan semangat semangat yang sudah mulai memudar, maka mereka haruslah Tetap bertahan. Mereka tak boleh berputus asa Walaupun mungkin mereka hidup ini sudah tak memiliki makna. Ratap ratap tangis anak kecil merindukan kehadiran ayahnya, ibunya, bahkan saudara-saudaranya akan terdengar dalam setiap kehadiran bencana. Di tengah ketidakmengertian mereka akan garis kehidupan mereka hanya bisa menangis, meratap, bahkan mengadu pilu pada dirinya sendiri. Sosok yang selama ini selalu hadir dalam hidup mereka kini telah pergi jauh suatu tempat yang tidak mungkin dapat mereka jangkau. Kesedihan kesedihan yang terus merajalela dalam lingkaran ternak mereka tak boleh dibiarkan terlalu lama. Mereka harus kembali bangkit. Hidup mereka Belumlah sepenuhnya berakhir. Masih banyak hal yang dapat mereka lakukan. Anak-anak itu dan seluruh korban yang lain mereka harus kembali mendapatkan semangat hidupnya. Hal ini bukanlah sebuah pelarian dari permasalahan, akan tetapi merupakan suatu kewajiban untuk suatu penyelesaian. Setiap mereka yang datang atau bahkan sukarelawan harus mengerti mengenai bagaimana seharusnya seluruh korban dari bencana tersebut agar dapat memperoleh semangat hidupnya kembali. Ya. Emang hari ini Bukankah 1 perkara yang mudah untuk diselesaikan. Akan tetapi dengan mengetahui kondisi konstruksi dan struktur sosial yang berlaku pada masyarakat tersebut dapat menjadikan setiap setiap pihak yang terlibat dalam penanggulangan lebih mudah dalam mencari jalan keluar.
         Bencana memang tampaknya tidak jauh dari kita semua. Sudah bukan rahasia lagi jika Indonesia memiliki banyak potensi bencana. Jika kita belajar dari pengalaman bahkan hingga catatan-catatan sejarawan, naga kita akan menemukan Banyak fakta tentang bencana bencana yang telah memporak-porandakan kehidupan masyarakat. Pada era modern telah terjadi gempa dengan kekuatan yang sangat dahsyat berskala9,2SR di sekitar Samudra Hindia. Gempa yang terjadi pada tanggal 26 Desember tahun 2004 ini mengakibatkan tsunami yang begitu Dahsyat. . Ratusan ribu rakyat Indonesia menjadi korban tewas dari bencana ini. Bahkan negara-negara disekitar Indonesia seperti halnya Thailand, Vietnam, Sri Lanka, dan negara-negara di bagian Afrika Timur juga turut menjadi korban.  Tentu bukan hanya itu saja korban jiwa yang harus dipaksa merasakan penderitaan karena ditinggal keluarganya sangat banyak ditemui. Bencana tsunami ini sudah menimbulkan begitu banyak kekacauan. Padahal sebelumnya Aceh begitu berat dan begitu terkenal dengan agamanya. Hal yang serupa juga pernah terjadi sekitar 174 tahun sebelumnya dimana banyak penduduk Aceh yang juga menjadi korban. Selain tsunami Aceh yang dahsyat kita juga mengetahui letusan Gunung Tambora yang begitu mematikan. Letusan Gunung Tambora ini menghancurkan peradaban  empat kerajaan yang berada di sekitarnya. Letusan yang terjadi pada tahun 1815 ini menimbulkan dampak yang besar bagi kehidupan umat manusia di belahan bumi utara. Gunung Tambora yang semula memiliki ketinggian 4.200 meter di atas permukaan laut setelah meletus kini tingginya hanya tinggal 2.800 meter diatas permukaan laut. Sepertiga dari gunung ini ikut meledak dalam letusan di tahun 1.815. Abu vulkanik dari letusan gunung ini bertiup ke arah utara hingga menciptakan suatu kondisi dimana belahan bumi utara tidak mengalami musim panas dalam satu tahun. Dengan kondisi ini seluruh proses cocok tanam di belahan bumi utara menjadi gagal panen. Sehingga kelaparan kelaparan terjadi disegenap penjuru belahan bumi utara. Selain dua peristiwa bencana besar ini masih terdapat bencana bencana alam lain di negara kita sangat menggemparkan dunia. Pada tahun 1.883 Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda meletus. Letusan gunung ini menimbulkan guncangan yang besar pada lempeng-lempeng tektonik bumi, sehingga tsunami besar pun terjadi dan tsunami ini bahkan hingga mencapai daratan Amerika. Letusan besar Danau Toba di masa purba hingga kini masih tercatat sebagai bencana dahsyat yang pernah terjadi di bumi. Penatusan tokoh tersebut membentuk sebuah danau dan pulau ditengahnya yang hingga kini masih dapat kita saksikan keberadaannya. Dari paparan laporan diatas sungguh tidak dapat kita elakkan Jika negara kita memang memiliki kerentanan bencana yang sangat tinggi terutama dalam hal bencana alam. Faktor geologis dan geografis dari negara Indonesia menyebabkan negara kita menjadi sangat jenis bencana alam. Hampir segala jenis bencana alam dapat kita temui di negara kita. Namun demikian pengetahuan manusia tentang bencana dan penanggulangannya serta pencegahannya saat ini sungguhlah masih minim. Kecerdasan manusia dalam menciptakan berbagai barang-barang canggih masih belum mampu mengendalikan alam sepenuhnya.
         Di kalangan kaum intelektual terdapat beberapa pandangan mengenai posisi bencana dan manusia. Dalam pandangan pertama penjahat diletakkan terpisah dari kerangka pengalaman manusia. Bencana diidentikkan dengan sesuatu yang tidak dapat diprediksi serta menjadi kekuasaan mutlak dari alam. Oleh sebab itu pada masa-masa pemikiran ini berkembang masyarakat banyak menjadi korban dari bencana. Karena masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang cukup dalam merespon dan menghadapi setiap bencana yang datang. Dalam pandangan kedua bencana dan manusia diletakkan saling sejajar sehingga diantara mereka berdua saling bertaut pengalaman manusia menjadi bahan pertimbangan. Dengan demikian manusia dapat mempersiapkan dan mengantisipasi setiap bencana yang akan terjadi. Dengan adanya pengetahuan pengetahuan tentang bencana terutama bencana alam maka masyarakat menjadi semakin cerdas dan siap dalam menghadapi bencana. Di era modern ini masyarakat harus memiliki banyak pengetahuan sebagai bekal bagi mereka untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Dalam pandangan kedua ini juga dipertegas bahwasanya bencana dapat terjadi tidak hanya karena alam sendirinya, akan tetapi eksplorasi dan eksploitasi terhadap alam yang berlebihan oleh manusia dapat memicu munculnya sebuah bencana.
         Dalam upaya mengenai pendefinisian dari istilah bencana menimbulkan berbagai pertentangan dari belahan pihak. Mereka saling berebut mendefinisikan saling berebut mengartikan dan saling berebut untuk menggambarkan dampak dari bencana. Tentu hal ini Bukankah karena mereka adalah orang-orang mulia yang senantiasa peduli pada manusia dan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi Malaysia memiliki kepentingan masing-masing berkaitan dengan terjadinya sebuah bencana. Tentu mereka tidak terlalu berkepentingan apalagi mencari muka di depan manusia-manusia yang sedang ditimpa kesialan. Tetapi faktor material atau faktor ekonomi menjadikan mereka semangat kiat dalam berbincang tentang bencana. Hal ini tentu dapat kita katakan sebagai usaha untuk memangsa saudara sendiri. Akan tetapi silaunya materi membuat mereka menyurutkan langkah.
        Bencana alam dalam pandangan struktural dapatkan dengan Arabnya hubungan antara manusia dan bencana alam itu sendiri. Tentu hal ini juga berkaitan dengan dijadikannya masyarakat sebagai tumpuan analisis dari setiap peristiwa bencana. Sejarah manusia dari zaman ke zaman dari masa ke masa juga akan dapat memberi gambaran tentang evolusi dan sikap manusia terhadap bencana dalam kurun waktu tertentu. Setelah bencana terjadi akan terdapat dua kemungkinan dimana kemungkinan pertama masyarakat akan berusaha mempertahankan kehidupan mereka sebagaimana sebelum terjadi bencana. Akan tetapi dapat pulang anggota masyarakat yang lain melihat celah dan peluang untuk memajukan dirinya dan anggota masyarakat di sekitarnya. Semua ini memang tergantung pada konteks dan kondisi masyarakat di suatu tempat. Dan dengan hal ini pula kita dapat mencari gambaran tentang hal yang ideal pada masyarakat setelah terjadinya bencana alam. Sebagai contoh sebelum gempa Jogja terjadi pada tahun 2005 sebagian besar masyarakatnya hidup di bawah kemiskinan dengan pemukiman yang sangat tidak layak. Tetapi dengan terjadinya gempa masyarakat dapat melihat peluang perubahan. Singa mulai berubahlah pola pikir mereka dan yang sangat tradisional menjadi titik modern dan pemukiman pemukiman mereka menjadi lebih layak huni. Tentu Mereka bisa saja tidak menyebakan di pembangunan dan membangun rumah yang sesuai seperti sedia kala. Namun karena mereka belajar dari pengalaman maka mereka memutuskan untuk menerima perbaikan perbaikan dari pemerintah, Walaupun mungkin diantara mereka ada yang tidak sepakat dengan konsep yang ditawarkan.

Wednesday, November 23, 2016

MAKAM DATUK IBRAHIM

Berziarah ke Makam Syekh Abdur Rohim atau sering dikenal dengan sebutan Datuk Ibrahim pada Hari Selasa Pukul 21.00 . Terletak disebelah Utara Kota Banyuwangi sekitar 2 Km. Letaknya Di Masjid Al Aqdi Kelurahan Lateng Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Sewaktu saya kesana bersama salah satu teman yang bernama Muhammad Fatikhun Nada, waktu itu kondisi di dalam begitu ramai. Ada belasan orang yang sedang berdoa bersama. Sehingga kami memutuskan untuk menunggu diluar, ya sekaligus istirahat'. Mengingat perjalanan Jember- Banyuwangi lumayan melelahkan. Maka setelah rombongan tersebut keluar, kami pun masuk ke dalam untuk berdoa. Kondisi ruangan di dalam lumayan luas. Sehingga cukup untuk tiga puluhan orang.

.





Tuesday, November 22, 2016

Contoh Catatan Observasi

CONTOH CATATAN OBSERVASI SEDERHANA DAN SINGKATSOSIOLOGI INDUSTRI
   
   Observasi Pertama
         Pada Observasi Pertama ini, saya mengajak seorang teman yang dapat mengendarai sepeda motor. Sore itu sekitar pukul setengah empat sore saya dan sahabat yang bernama Muhammad Fatihun Nada berangkat dari Kampus menuju BOBIN di daerah Candi Jati Kecamatan Arjasa. Sore itu cuaca mendung di iringi angin yang berhembus mesra meniupkan kabar bahagia.
        Dengan semangat kami berangkat menuju BOBIN. Dari FISIP kami berjalan ke Utara dengan perlahan. Di jalan Kalimantan seperti biasa begitu ramai. Sampai di Pertigaan lampu merah Jambu Mastrip, kami belok kanan menuju arah Bondowoso. Di jalan jalan tersebut kondisinya tidak jauh berbeda. Sembari terus melaju sesekali kami membahas tugas tugas kuliah. Ya begitulah, meskipun berbeda jurusan kami sangat akrab karena sering mengadakan diskusi diskusi kecil. Sampai di POM bensin Baratan kanan jalan, kami memutuskan untuk mengisi bensin. Karena setelah survei kami akan ke Gumukmas. Kondisi di SPBU Baratan sore itu begitu Rama. Padahal biasanya di siang dan malam hari tidak begitu ramai. Antrean kendaraan kendaraan baik bermotor maupun yang beroda empat agak menular. Sepertinya para pekerja Kantoran dan pabrik sudah mulai undur diri dari kesibukannya hari ini. Berapa Mas...? Pertanyaan petugas SPBU itu sedikit membubarkan serangkaian tanya dalam hati. Aduuuh.....!!!! Ya begitulah dampak terlalu fokus pada tugas mata kuliah yang belum pernah ku alami sebelumnya. Tugas yang sangat membuat aku dan teman-teman kebingungan. Tapi tentunya hal ini akan bermanfaat bagi kami di kemudian hari. "Ayo Guh selak sore." Kata Nada temanku.
        Setelah selesai mengisi bensin kami kembali tancap gas. "Ayo lanjut Nad." Kataku. Arjasa tak jauh lagi. Dengan perlahan kami terus melaju. Sampai sebelum lampu merah Nada bertanya. "Endi Iki Guh.?" Aku menjawab. "Karena Mbak Risa kongkon terus pabrike kanan dalam." Kata saya. Kami lantas berhenti untuk bertanya. "Pak pabrik cerutu di daerah mana.?" Tanyaa Nada. "Teros beih Cong deggik e kangannah embung." Jawab bapak itu. "Mator keselangkong Pak, Toreh." Begitu jawabku. Kami pun terus melanjutkan perjalanan menuju BOBIN. Melintasi SPBU Arjasa di kiri jalan terlihat dalam jangkauan pandanganku yang sang minim terlihat kondisi juga sangat ramai. . Empat menit kemudian kami sudah sampai di lokasi yang dimaksudkan. Kondisi di lokasi sangat ramai. Waktu itu ada seorang satpam yang mengatur lalu lintas. Sepertinya beberapa pekerja dan pegawai pabrik sedang pulang. Terus terus, begitulah satpam mengatur lalu lintas sesekali diiringi bunyi peluit. Kami berhenti di seberang pabrik sembari memperhatikan dan mendengarkan suara suara dari sekitar. Sekitar dua puluh menit kami mengamati sekeliling. Sekitar pukul empat dua puluh menit kami memutuskan untuk berangkat ke Gumukmas. Demikian Observasi singkat saya yang pertama. Pada Observasi ini saya masih kurang paham dengan kondisi. Mungkin karena terlalu singkat atau karena aku terlalu bodoh dalam membaca kondisi.
   Observasi Kedua
        Saya melakukan observasi Kedua pada hari Jumat tanggal 22 Oktober 2016. Terdengar mepet UTS memang. Tapi memang pada hari inilah saya tidak memiliki kesibukan kecuali nanti sore harus menjadi Imam Sholawat Nariyah rutinan tiap Jumat di mushola balai Kelurahan Sumber Sari. Selain itu baru hari ini juga saya mendapat teman untuk Observasi. Ya maklumlah saya tidak dapat mengendarai sepeda motor sendiri. Saya melakukan observasi ini bersama dengan teman satu kelompok yang bernama Muhammad Muslim Al Hasani. Saya terlebih dahulu menuju Kos kosan Muslim. Sampai di Kos Muslim sekitar pukul dua siang. "Beremmah Keh deddih Observasi.?" Kata Muslim. "Yeh deddih Keh, majuh Mon melemah." Jawabku.  "Arep nangdi Mbah Dukun.?" Tanya Mas Izzuddin padaku. "Arep Observasi Mas Din." Jawabku. Majuh Mon jelennah Helman yeh.? Kata Muslim. Ok Bos. Jawabku. Pukul 14.15 kami berangkat. Matahari saat itu bersembunyi di balik awan awan tipis yang menghiasi wajah langit Kota Jember.
        Dengan semangat kami berangkat menuju ke tempat Observasi yang sama dengan sebelumnya di BOBIN. Dari Jalan Halmahera kami belok kiri menuju Jalan Jawa. Jalan Jawa Siang itu. Sampai bundaran DPRD kami menuju Jalan Kalimantan. Kondisi yang sama seperti yang terjadi di Jalan Jawa. Untuk mengusir sepi kami ngobrol sekitar kehidupan sehari-hari. Sampai di Lampu merah Mastrip kami mengambil belok kanan. Muslim lantas berkata. "Biasanah e lampu merah Patrang beddeh Pak Silup (polisi)." Saya menjawab. "Adek Silup setiah. mareh jum'atan." Lampu merah Patrang telah berlalu. Kami terus berkendara ke arah timur laut. Kondisi jalan ke arah Arjasa, siang itu lumayan lancar. SPBU Baratan disana nampak sepi. Kami terus melanjutkan perjalanan ke arah Candi Jati.
        Tak lama berselang kami sudah sampai di lokasi Observasi. Sampai di depan BOBIN Kam menoleh ke arah pabrik di seberang jalan. kondisi sepi dan lengang. Hanya satu dua kendaraan yang melintas. Muslim berkata, "tojuk edimmah se nyaman.?" Kareplah jawabku. Lantas kami ke Utara Hingga depan tempat jualan yang tidak dipakai. Lantas kami memutuskan untuk berbalik arah dan terdapat sebuah toko kecil yang terbuat dari bambu. Toko itu terletak didepan sebuah rumah' yang sangat sederhana. Aruah beddeh Mbak Risa tojuk e adek en bungkoh budinah toko. Kata Muslim. Kami kemudian meletakkan sepeda motor di pinggir jalan. Helm kami letakkan tempat duduk yang terbuat dari bambu itu. Kami kemudian menghampiri Mbak Risa yang duduk didepan rumah pemilik toko yang sederhana dan agak kurang layak huni. Kami duduk menghadap tepat ke arah BOBBIN. Waktu itu cuaca sudah agak mendung. Angin berhembus dari timur laut membawa awan awan gelap. "Sudah Dari tadi Mbak Risa.? Tanyanku. "Mulai tadi sekitar sebelum dan jam dua siang." Jawab Mbak Risa. Kami mengamati sekitar. Seorang nenek nenek keluar dari dalam rumah dan berkata, "Lebbuh Bing jek e luar." Ia Mbah jawab Mbak Risa. Kami tetap duduk di kursi kayu yang sudah agak rusak. Muslim duduk di kursi plastik. Sedang yang di kursi kayu adalah Mbak Risa, kerupuk, helm milk Mbak Risa dan saya diujung kursi yang paling rusak. Tempat yang saya duduki sudah agak ambles ke bawah. "Ayo dimakan kerupuknya." Kata Mbak Risa. Sembari duduk sambil melakukan observasi kami sesekali memakan kerupuk.
        Gerimis gerimis manja mulai menetes ke Arcapada. Meskipun demikian Kami tetap berusaha fokus. Semakin sore situasi jalan semakin sore semakin ramai. Kendaraan yang melintas Semakin beragam. Angin bertiup semakin kencang. Udara semakin terasa menusuk tulang. Sudah Nemu tema Slim.? Tanyanku pada Muslim. Belum jawab Muslim kamu.? Aduh paddeh belum. Ayo lanjutkan merenung mengamati dan merenungkan tema. Jawabku. Gerimis makin semangat menghujam bumi. Waktu sudah hampir pukul 15.45 sudah hampir jam empat sore. Padahal jam setengah lima aku sudah harus memulai Sholawat Nariyah. Ayo pulang sebelum hujan benar-benar mengepung kita. Begitu kataku. Setelah itu kami mengendarai sepeda motor untuk kembali ke Jember. Hujan semakin deras mengguyur daerah Candi Jati. Kami mengendarai sepeda motor dengan memakai mantel karena hujan semakin deras dengan disertai angin kencang. Dalam perjalanan pulang kami tidak lagi banyak mengamati sekitar Karena celana sudah mulai basah terkena tetesan tetesan air hujan yang ditambah hembusann angin kencang. Sampai di Jalan Kalimantan ada pohon tumbang terkena angin yang berhembus kencang. Robohnya pohon menyebabkan jalan Kalimantan sedikit  terhambat. Sampai di Kontrakan aku langsung berganti pakaian. Ya beginilah rutinitas di hari kiamat sore. Saya harus segera menuju ke tempat Sholawat Nariyah. Demikianlah Observasi yang kedua.

REVIEW PERANGKAT UNTUK MENGARUSUTAMAKAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA BAB 1-4

REVIEW PERANGKAT UNTUK MENGARUSUTAMAKAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA
BAB 1-4
Nama  : Teguh Kasiyanto
NIM     : 140910302053
Tugas  : Analisis Risiko Bencana
         Bencana merupakan peristiwa yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Kata ini sangat sering muncul di berbagai tempat, dari panggung berita televisi hingga panggung panggung pengajian. Masyarakat pada umumnya sangat bersedih jika bencana terjadi. Bencana tak jarang menimbulkan dampak yang begitu dahsyat. Misalnya saja BENCANA Tsunami yang terjadi di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, ratusan ribu nyawa melayang. Korban luka luka Sangat banyak, harta benda merekapun juga ikut lenyap. Nah itulah dampak dari sebuah bencana. Bencana terdiri dari dua macam yaitu bencana alam dan non alam. Bencana non alami dapat berupa kegagalan teknologi atau bahkan krisis ideologi.
         Bencana juga menimbulkan Adanya konsekuensi. Konsekuensi tersebut berupa risiko-risiko yang diakibatkan oleh berbagai peristiwa kebencanaan. Risiko-risiko tersebut harus diatasi karena jika tidak maka dampak yang ditimbulkan dari sebuah bencana menjadi sangat besar. Penanganan resiko menjadi hal yang mutlak harus dilakukan oleh seluruh umat manusia. Dengan ditekannya risiko maka manusia mengalami sedikit dari kemungkinan dampak yang diterima dari setiap bencana. Untuk menekan adanya resiko kita membutuhkan perangkat untuk memperkecil nasi goreng sebut. Hal ini dijelaskan lebih lanjut dalam buku Perangkat Untuk Mengarusutamakan Pengurangan Risiko Bencana. Dalam buku itu diulas 14 harapan tentang mengarusutamakan risiko bencana.
         Mengarusutamakan risiko bencana sangat penting dilakukan dalam pembangunan di masa kini dan masa depan. Hal ini harus dilakukan karena pembangunan tidak diperuntukkan di masa kini saja, akan tetapi lebih lanjut juga diberlakukan untuk masa-masa mendatang. Mengabaikan bahaya yang berada di sekitar kita dampaknya akan sangat merugikan bagi kita. Karena bukan mustahil kita akan terkena dampak dari bahaya dan potensi bencana yang terdapat di sekitar kita. Untuk itu pembangunan harus benar-benar dirancang tahan terhadap segala potensi bahaya dan bencana yang berada di sekitarnya. Apalagi di era yang semakin mutakhir ini teknologi sudah sangat memadai dan mumpuni dalam mengatasi berbagai kesulitan yang dialami oleh manusia.
         Pada masa kecanggihan teknologi ini Alam masih memiliki peranan dominan dalam mengatur kehidupan manusia. Entah manusia menyadari atau tidak Namun yang pasti kehidupan manusia hingga kini masih sangat bergantung pada alam. Dalam bagian kedua dari buku ini dipaparkan tentang bagaimana informasi-informasi tentang alam tersebut digunakan. Seperti yang sudah banyak kita ketahui bahwa saat ini sudah banyak informasi-informasi mengenai alam dan lingkungan. Tak terkecuali tentang berbagai jenis bencana yang berada di sekitar kita. Permasalahannya adalah Sudahkah kita menggunakan informasi-informasi tersebut untuk menekan adanya risiko dari bencana.? Padahal seharusnya informasi-informasi tersebut dapat membuat kita menjadi generasi yang tahan terhadap berbagai macam ancaman dan bencana. Apalagi bencana alam. Karena bencana alam memiliki kecenderungan untuk kembali terulang kejadiannya. Sebagai contohnya saja adalah gempa bumi, angin topan, gunung meletus, dan yang lainnya. Bencana bencana ini memiliki kemungkinan berulang yang sangat tinggi terutama di daerah-daerah tertentu yang memang beresiko tinggi. Cara pencatatan informasi tersebut harus membuat kita membenahi berbagai sesuatu yang berada di sekitar kita. Misalnya, jika di sekitar tempat tinggal kita sering terjadi gempa bumi maka yang harus kita lakukan adalah memperkokoh kekuatan pondasi dari bangunan rumah dan memberikan pengetahuan akan bahaya gempa terhadap seluruh anggota masyarakat. Sehingga masyarakat mengetahui cara penyelamatan saat terjadi gempa.
         Dalam peristiwa bencana yang menerima dampak paling besar adalah kelompok-kelompok yang memiliki kerentanan tinggi. Salah satu kerentanan terbesar yang menyebabkan semakin besarnya dampak dari sebuah bencana adalah kemiskinan. Memang secara sepintas kemiskinan lebih mirip dan lebih cocok jika dijadikan faktor ekonomi atau persoalan persoalan yang berkenaan dengan perekonomian. Namun kemiskinan memiliki peluang yang sangat besar untuk menjerat setiap yang mengalaminya menjadi orang yang tidak memiliki kemampuan dalam bidang-bidang lain. Sehingga kemiskinan adalah hal yang wajib diberantas ketika kita menginginkan memperkecil risiko dari setiap bahaya dan bencana. Masyarakat harus memiliki kekuatan secara ekonomi sehingga dia dapat meloloskan diri dari lingkaran setan. Kemiskinan merupakan faktor utama dalam menyebabkan faktor-faktor lain yang memperkuat kerentanan. Sebagai contoh misalnya orang yang miskin maka tingkat pendidikannya juga menjadi rendah, tingkat kesehatannya pun juga rendah, dan tingkat kesadaran mereka juga menjadi sangat rendah. Ketahanan ekonomi kerakyatan harus diwujudkan untuk mengatasi kemiskinan yang membelenggu kita.
         Negara adalah pihak yang terlibat secara langsung dan aktif dalam setiap peristiwa bencana. Negara memiliki andil besar dalam menentukan dan menyelesaikan dari setiap permasalahan yang muncul. Negara sebagai salah satu Lembaga resmi Yang menaungi sejenak masyarakat harus menjamin kehidupan dari warga negaranya. Hak-hak dari seluruh anggota masyarakat terutama hak hidup harus benar-benar dilindungi dan diperjuangkan. Dalam konteks keindonesiaan negara menjamin hak hidup dari setiap warga negaranya. Negara juga mengatur dan menjamin hak-hak lain seperti pendidikan, keamanan, bahkan kebebasan berpendapat. Undang-undang dasar tahun 1945 secara tegas menjamin kehidupan warganya. Oleh sebab itu dalam setiap perencanaan pembangunan negara harus memperhitungkan dampak yang akan muncul dari pembangunan tersebut. Selain itu dalam hal kebencanaan negara juga harus menyediakan fasilitas yang layak untuk setiap warga negaranya jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Dengan besarnya peranan negara ini maka negara mutlak hadiri dalam setiap unsur kehidupan masyarakat. Bukan hanya penyediaan sarana dan prasarana yang layak untuk masyarakat akan tetapi kesadaran diri masyarakat tentang bencana harus ditanamkan oleh negara sedari awal. Dalam setiap pembangunan yang dirancang oleh negara harus mewadahi semua golongan, tidak hanya golongan Elite secara status ekonomi akan tetapi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi juga harus difasilitasi. Keadilan bagi setiap warga negara juga harus diperhatikan. Dengan besarnya dampak positif yang akan muncul ketika pengarusutamaan terhadap risiko bencana ini seharusnya dilakukan maka hari ini menjadi sangat urgent untuk segera diterapkan di berbagai belahan negara di dunia.

Monday, November 21, 2016

INOVASI BIOGAS DI DESA PANARUKAN

INOVASI BIOGAS Di DESA PANARUKAN
Oleh: Teguh Kasiyanto
         Desa Panarukan terletak di Kabupaten Situbondo. Warga desa daerah ini banyak yang berternak sapi. Mereka memiliki sapi sapi yang cukup produktif dalam berkembang biak. Tak jarang keluarga keluarga di desa ini memiliki sapi yang jumlahnya lebih dari dua ekor. Para peternak biasa mencari rerumputan di ladang ladang disekitar pedesaan dan dan perbukitan. Dengan banyaknya sapi sapi yang membutuhkan makanan di daerah ini maka kebutuhan akan pakan di daerah ini sangat tinggi.
         Kehidupan warga desa ini berlangsung sebagaimana kehidupan warga desa pada umumnya. Saat musim penghujan Banyak permasalahan permasalahan lingkungan yang dialami oleh penduduk desa. Permasalahan-permasalahan lingkungan tersebut tak lain diakibatkan oleh menumpuknya kotoran-kotoran dari hewan ternak mereka. Warga desa ini memiliki satu kebiasaan yang sangat kurang baik dilakukan yakni mereka memiliki kebiasaan membuang kotoran kotoran binatang ternak tersebut sungai-sungai yang mengaliri Desa mereka. Bahkan tak jarang dengan banyaknya kotoran ternak yang dibuang di sungai membuat air di musim hujan sulit mengalir ke hilir. Semakin banyaknya kotoran yang dibuang di aliran sungai juga akan dapat mengakibatkan pendangkalan aliran sungai. Dalam jangka panjang pendangkalan yang terjadi di sungai ini akan dapat mengganggu dan merusak ekosistem sungai.
         Kotoran sapi merupakan salah satu jenis kotoran hewan ternak yang memiliki banyak manfaat. Jika saja Kotoran Kotoran sapi tersebut dioptimalkan maka akan dapat mensejahterakan kehidupan para pemiliknya. Namun hingga saat ini warga desa masih belum terpikir untuk mengolah kotoran sapi menjadi sesuatu yang memiliki banyak kegunaan dan fungsi. Pemilik ternak ternak sapi masih sangat cenderung untuk membuang kotoran kotoran ternak mereka di aliran sungai sekalipun saat itu adalah musim hujan, dimana air sungai menjadi sangat melimpah dan akan sangat dibutuhkan oleh  ladang-ladang padi masyarakat. Diantara manfaat yang dapat diperoleh masyarakat dari kotoran sapi adalah pupuk kompos dan biogas.
         Biogas adalah salah satu hasil dari pengolahan koran hewan ternak terutama sapi. Biogas sangat berbeda dengan gas-gas lain yang diperjualbelikan oleh Pertamina selama ini. Nah dalam kasus Desa Panarukan kelompok kami makan fokus pada pembuatan biogas dari kotoran ternak sapi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim Pengabdian masyarakat Universitas Sriwijaya pada tahun 2010 tentang Pembuatan Digester Biogas Skala Rumah Tangga Menggunakan Kotoran Ternak Sapi dijelaskan beberapa bahan-bahan yang dibutuhkan sebagai berikut:
1.  Bak Inlet & outlet
       Batako   100 buah
       Pasir.     0,50 mobil
       Semen        4 sak
       Paralon  4". 1 Batang
       Elbow .4".    4 buah
2. Digester
       Plastik tabung PE berdiameter 2 meter dan panjang 21 meter
       Tedmond sock 3/4" satu buah
       Paralon 3/4" satu buah
       Paralon 1/2" satu buah
       Klepkeran pipa 3/4"  2 buah
       Klepkeran pipa 1/2    2 buah
       Selang berserat 3/4"   15 buah
       Selang berserat  5/8"     3 buah
       Selang berserat  1/2"     3 buah
       Selang berserat.  1/4"    8 buah
       Sock T 3/4"            1 buah
       Bambu dengan panjang 3 meter sebanyak satu bayang
       Selang karet 1/2" sepanjang 2 meter
       Tali karet ban dalam sepanjang 10 meter
       Lem dextone  1 Buah
       Lem Aica Albon 1 buah
       Lem PVC 1 buah
       Tape sale 1 buah
       Klem besi  1" 4 buah
       Klem besi  3/4" 4 buah
       Klem besi  5/8" 4 buah
       Klem besi 1/2" 4 buah
3. Penampung gas
       Plastik PE berdiameter 1 meter dengan panjang 12 meter
4. Kompor gas 1 lubang sebanyak satu buah
Kebutuhan selang dan pipa sangat bergantung pada jarak antara dapur dengan tempat penampungan gas. Sehingga dapat berubah sesuai kondisi di masing-masing rumah tangga. Kekuatan cari instalasi dapat mencapai waktu lima tahun. Sehingga biaya dan kebutuhan dapat ditekan dengan daya tahan instalasi.
         Dalam pembuatan biogas dibutuhkan tahapan-tahapan hingga gas yang dihasilkan dapat dinikmati oleh masing-masing rumah tangga. Dalam bak tahapan-tahapan tersebut sangat dibutuhkan pengetahuan yang memadai dan pengalaman dalam membuat dan mengolah kotoran sapi. Selain itu bahan bahan yang dibutuhkan adalah kotoran ternak sapi atau kambing, sampah organik, bak pengaduk dan saluran kotoran. Tahap-tahap pembuatan digester adalah sebagai berikut: pertama plastik PE digelar dialas yang sudah dibersihkan untuk menghindari kebocoran. Panjangnya sesuai dengan panjang digester yang diinginkan oleh masing-masing rumah tangga. Pembuatan digester bambu, tiap-tiap sambungan bambu dilakban/ dilapisi tali karet hingga tidak ada bagian yang tajam yang dapat merusak plastik digester. Selanjutnya kerangka bambu dimasukkan ke dalam plastik PE yang sudah dilapisi. Jika lubang tanah digester panjangnya 4 meter maka panjang kerangka bambu juga 4 meter sedangkan plastik PE panjangnya 6 meter setiap sisinya dilebihi satu meter satu sisi sebagai pemasukan dan satu sisi yang lain sebagai keluaran dari pipa. Plastik juga akan menjadi pipa pada akhirnya. Berikutnya di bagian tengah digester dilubangi dari dalam dengan hati-hati untuk memasang socket drat TEDMON. Setelah socket drat TEDMON terpasang diatasnya dipasangi tipe dan peran dan dilakukan dengan hati-hati agar tidak ada kebocoran pada plastik digester. Digester kemudian dibawa ke lubang yang telah disiapkan sebelumnya. Di salah satu ujung lubang dibuat sebuah bak penampungan dengan ukuran 60x70 cm. Dasar lubang dibersihkan dari sisa-sisa akar dan kayu untuk mencegah terjadinya kebocoran pada plastik digester. Digester kemudian dimasukkan pada lubang sesuai dengan ukuran lubang. Ujung-ujung digester diikat dengan tali karet dan disesuaikan posisinya sesuai dengan posisi kemiringan lubang. Untuk lubang pemasukan kemiringannya seperti pada kemiringan sudut jam 11.00. Untuk kemiringan pengeluarannya seperti kemiringan pukul 114.00 siang. Bak penampungan mulai dipasang bata dan pipa pemasukan diatur sedemikian rupa. Selanjutnya tahap-tahap pengisian gas secara garis besar adalah sebagai berikut:
1. Digester dapat langsung diisi dengan kotoran sapi atau sampah organik yang telah     diencerkan dengan air.
2. Perbandingan antara air dan kotoran sapi adalah 1:2-3. Artinya Satu ember kotoran sapi diencerkan dengan dua hingga tiga ember air.
3. Untuk pengisian pertama kali digester diisi hingga penuh yang ditandai dengan tumpahnya air pada lubang pengeluaran.
4. Biarkan kondisi tersebut hingga membentuk gas secara sendirinya yang ditandai dengan menggelembungnya digester biasanya membutuhkan waktu 2 hingga 4 Minggu.
5. Untuk mempercepat fermentasi pembetukan gas maka dapat probiotik.
Gas yang terbentuk pertama kali harus dibuang dengan cara menekan nekan digester atau menggunakan pembetukan,  hal ini pertama dilakukan karena gas yang terbentuk belum didominasi Gas metan atau tetapi Gas Gas lain seperti hidrogen dan CO2.
         Dalam inovasi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas ini makan banyak dilibatkan pihak-pihak yang berkaitan. Dalam hal ini kami melibatkan baik dari pemerintahan maupun dari non pemerintahan. Dari pihak pemerintahan kami agar melibatkan segenap perangkat desa dan instansi instansi yang dapat diajak bekerjasama. Dari pihak non pemerintahan kami akan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama yang memiliki peran cukup besar di kalangan masyarakat luas. Proses difusi dari inovasi ini sangat bergantung pada tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama mengingat Desa Panarukan kondisi penduduknya masih sangat tradisionalis. Rangkaian-rangkaian analisis rencana kerja kami sesuai dengan buku Difusi dan Inovasi. Gambaran yang lebih jelas mengenai konsep kami akan kami jabarkan pada bagian-bagian selanjutnya.
UNSUR POKOK DIFUSI INOVASI
         Desa Panarukan merupakan desa yang penduduknya memiliki banyak ternak sapi sehingga terdapat banyak kotoran sapi yang dapat dioptimalkan keberadaannya. Kotoran Kotoran sapi tersebut oleh masyarakat setempat biasa dibuang di sungai sehingga dapat mengganggu dan merusak kelangsungan ekosistem sungai. Selain itu dengan semakin banyaknya kotoran sapi yang dibuang di sungai maka akan dapat menyumbat aliran air menuju persawahan. Hal yang demikian akan semakin mengkhawatirkan jika musim penghujan datang. Karena pada musim penghujan persediaan air menjadi sangat melimpah dan membutuhkan saluran air yang memadai untuk mengalirkannya. Padahal jika penduduk setempat mau banyak belajar dan mencari tahu manfaat dari kotoran sapi tentu mereka tidak akan membuang kotoran sapi tersebut secara cuma-cuma. Dengan latar belakang kondisi lingkungan tersebut, maka kelompok kami memutuskan untuk memanfaatkan kotoran ternak sapi tersebut menjadi biogas. Karena dengan merubah kotoran sapi tersebut menjadi biogas maka ketergantungan masyarakat setempat akan kayu bakar dan gas elpiji menjadi berkurang. Selain itu malaikat juga akan menjadi masyarakat yang ramah terhadap lingkungannya sendiri.
         Setiap rencana-rencana yang akan melibatkan masyarakat tentu sangat tidak mudah untuk diwujudkan. Komunikasi yang intens menjadi salah satu kunci yang sangat menentukan apakah suatu inovasi akan dapat diterima oleh masyarakat atau justru ditolak dan diabaikan. Maka dalam tahap difusi sangat dibutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan memadai dalam hal berkomunikasi. Pada masyarakat Desa Panarukan yang mayoritas penduduknya merupakan suku Madura juga dibutuhkan orang yang memiliki keahlian dalam berkomunikasi terutama dengan bahasa Madura. Oleh sebab itu kami mengoptimalkan tokoh-tokoh masyarakat desa mereka sendiri mulai dari kepala desa, perangkat desa, sesepuh desa, dan yang juga tidak kami lupakan sosok seorang Kyai. Selain tokoh-tokoh tersebut kami juga mengoptimalkan ruang ruang publik yang menjadi sarana bagi masyarakat untuk berkumpul dan bertukar informasi. Ruang ruang publik yang termasuk i adalah pengajian pengajian, muslimatan, jamaah tahlil, dan pertemuan-pertemuan wargavyang lain. Waktu pelaksanaan dari program yang kami rencanakan adalah pada bulan Desember hingga April. Mengingat pada bulan-bulan tersebut curah hujan sangat tinggi sehingga terdapat banyak kelebihan air. Sungai-sungai pada bulan tersebut juga menjadi sangat penuh oleh air. Sehingga warga desa akan berpikir dua kali untuk tidak menjalankan inovasi yang ditawarkan. Apalagi pada bulan-bulan tersebut mereka juga merasakan dampak langsung dari membuang kotoran sapi di sungai.
        Sistem sosial pada masyarakat juga memiliki peranan penting dalam menentukan sukses dan tidaknya suatu inovasi. Bahkan tak jarang inovasi yang sebenarnya sangat bagus justru tidak dilirik dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan baik karena berlawanan dengan sistem sosial yang berlaku. Pada masyarakat Madura suatu sistem sosial dimana Kyai menjadi tokoh penting dalam masyarakat. Jika tokoh Kyai sudah dapat menerima inovasi dengan baik maka sebagian besar dari anggota masyarakat tersebut juga akan menerapkan inovasi tersebut. Dengan demikian makam sistem sosial yang berlaku di Desa Panarukan Sama persis dengan sistem sosial yang berlaku pada masyarakat Madura. Maka dalam inovasi ini Kyai dilibatkan secara aktif dan diposisikan sebagai inovator dan golongan Elite.
PERTUMBUHAN INOVASI
         Sebuah inovasi tidak boleh terbengkalai. Karena setiap inovasi diciptakan dengan latar belakangnya masing-masing. Sebuah inovasi biasanya lahir dari adanya keterbatasan yang dialami oleh masyarakat. Sehingga ketika sebuah inovasi dibiarkan terbengkalai maka kesulitan-kesulitan yang dialami oleh masyarakat tidak akan pernah terselesaikan. Pada tahap pengenalan inovasi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas ini kami akan bekerjasama dengan tokoh tokoh masyarakat Desa Panarukan. Tokoh-tokoh masyarakat tersebut yang akan cara mengajak kerjasama adalah Kyai jalan para perangkat desa. Di rumah-rumah merekalah inovasi ini akan mulai diperkenalkan dan mulai dipraktekkan. Apalagi jika Kyai tersebut juga memiliki pondok pesantren, makan Pondok Pesantren tersebut juga menjadi tempat percontohan dari inovasi biogas ini.
         Sistem sosial ekonomi memiliki peranan yang sangat besar dalam pengembangan inovasi. Karena suatu inovasi membutuhkan tidak sedikit biaya dalam pengembangannya. Namun demikian status sosial di masing-masing daerah dan tempat sangat beragam dan tak seperti status ekonomi yang selalu dapat diukur. Pada masyarakat Madura seorang Kyai memiliki kedudukan sosial yang sangat tinggi pada masyarakat karena mereka menganggap sosok Kyai sebagai seorang yang berpengetahuan lebih dan memiliki kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Status sosial dalam masyarakat memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan status ekonomi. Karena masyarakat memiliki kecenderungan untuk ada orang yang memiliki pengaruh aksi nyata lingkungan seorang Kyai.
         Setiap inovasi tentu memiliki hambatan-hambatan dalam penyebarannya. Tak terkecuali inovasi biogas dari kotoran sapi. Hambatan dalam sebuah inovasi dapat berasal dari eksternal kelompok tersebut atau bahkan berasal dari internal anggota masyarakat. Dalam inovasi ini yang menjadi kendala terbesar adalah kondisi masyarakat yang masih sangat tradisional dan sedikit tertutup dari perubahan. Aktor tingkat pendidikan pun menjadi salah satu sebab yang akan mempersulit penyebaran dari inovasi biogas ini. Masyarakat akan cenderung tidak mau tahu dengan inovasi yang diciptakan karena mereka merasa tidak nyaman dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup akan penggunaan biogas ini.
PROSES KEPUTUSAN INOVASI
         Inovasi inovasi yang diciptakan pada akhirnya tergantung pada masyarakat penggunanya Apakah akan terus digunakan atau justru ditinggalkan. Pada tahap tahap awal atau tahap pengenalan inovasi biogas ini akan diperkenalkan pada tokoh-tokoh masyarakat Desa Panarukan. Mulai dari Kyai perangkat desa sesepuh desa lainnya. Pada tahap awal ini diharapkan tokoh masyarakat mengetahui dengan baik manfaat dari adanya biogas. Sehingga pada tahap tahap berikutnya mereka akan dengan mudah menyebarluaskan inovasi yang telah mereka kuasai.
         Pada tahap berikutnya tokoh-tokoh masyarakat yang sudah menggunakan inovasi akan berperan besar dalam tahap penyebarluasan. Tahap ini sering disebut sebagai tahap persuasi. Pada tahap ini inovasi biogas akan diperkenalkan secara luas dan gencar kepada segenap warga masyarakat. Pada tahap persuasi masyarakat diperkenalkan dengan inovasi biogas ini. Dengan ketokohan Tunjukkan oleh mengenal inovator maka dengan mudah masyarakat akan mengikuti inovasi tersebut. Pada akhirnya masyarakat lah yang akan mengambil keputusan apakah mereka akan menerapkan inovasi baru yang diperkenalkan atau justru mereka mencari inovasi baru yang lain. Jika mereka menyukai inovasi tersebut masyarakat desa Panarukan makan secara kontinyu memakai dan mengukuhkan inovasi tersebut.
SIFAT INOVASI DAN KECEPATAN ADOPSI
         Setiap inovasi kecepatan yang berbeda-beda dalam tahap artinya. Dalam beberapa kasus terkadang inovasi diadopsi dengan cepat oleh masyarakat. Namun tak jarang inovasi juga sangat lambat untuk diadopsi oleh masyarakat. Sebagai contoh media media sosial seperti WhatsApp misalnya memiliki kecepatan daya adopsi yang sangat tinggi. Tentu hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan proses adopsi dari listrik bertenaga surya. Itu artinya kesesuaian masing-masing inovasi dengan kondisi masyarakat saling berkaitan. Masyarakat juga memiliki kecenderungan untuk mengadopsi hal-hal yang memiliki keuntungan secara ekonomis. Semakin menguntungkan suatu inovasi maka akan semakin cepat inovasi tersebut diadopsi oleh masyarakat. Dalam inovasi biogas yang berbahan dasar kotoran sapi tentu memiliki aspek ekonomi semakin berkurangnya pengeluaran untuk membeli tabung gas elpiji.
         Kesesuaian merupakan faktor penting yang berperan besar dalam proses adopsi suatu inovasi. Jika tidak terdapat kesesuaian dalam suatu inovasi proses adopsi nya menjadi sangat lambat. Kesesuaian dalam hal ini dapat berupa kebutuhan masyarakat akan inovasi dan juga kesesuaian dalam segi nilai dan norma tata tertib yang berlaku pada lingkungan masyarakat. Pada masyarakat desa Panarukan mereka memiliki kesesuaian terutama dalam segi kebutuhan. Hanya saja perlu disesuaikan dengan sistem nilai yang berlaku di kalangan penduduk desa Panarukan sehingga proses adopsi dapat dipercepat dilakukan.
KEINOVASIAN DAN KATEGORI PENGGUNA INOVASI
          Pengguna sebuah inovasi kelompok golongan saja. Akan tetapi terdapat banyak golongan golongan dalam masyarakat yang sangat kompleks. Pengguna inovasi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa golongan yaitu: inovator atau petualang, ketokohan, mayoritas awal, mayoritas akhir, dan lagurd. Inovator atau petualang adalah orang yang mencoba langsung inovasi yang paling baru mereka paling sedikit dibandingkan dengan golongan-golongan lain. Melangkah bersedia menanggung resiko yang ditimbulkan cari adanya inovasi. Kelompok kedua biasa disebut dengan tokoh.  Kelompok ini menerapkan suatu inovasi setelah para petualang mencobanya terlebih dahulu. Kelompok ingin menjadi jembatan antara inovator dengan mayoritas awal dan mayoritas akhir. Kelompok ketiga adalah mayoritas awal. Kelompok ini merupakan kelompok yang memiliki kekritisan terhadap suatu inovasi. Mereka cenderung menunggu tokoh-tokoh yang mereka percayai untuk menggunakan suatu inovasi. Kelompok keempat adalah mayoritas akhir. Kelompok ini adalah orang-orang yang memakai suatu inovasi setelah semakin banyak yang menggunakan inovasi tersebut. Dan kelompok terakhir adalah tradisional kelompok ini paling sulit perubahan. Mereka cenderung tertutup dan Menolak adanya pembaharuan. Secara analisis makam maka dapat digolongkan penduduk desa Panarukan sebagai berikut; Kami adalah sebagai inovator, para tokoh masyarakat Kyai merupakan tokoh atau golongan kedua. Para kaum terpelajar menjadi golongan mayoritas awal. Warga masyarakat biasa menjadi mayoritas akhir, dan warga desa yang sudah lanjut usia dan yang memiliki pendidikan rendah mereka menjadi golongan tradisional.
KETOKOHAN
         Dalam sebuah kelompok terdapat berapa orang yang dapat dikatakan menjadi inti dari kelompok tersebut. Orang-orang ini selalu dipandang pendapatnya diikuti tingkah lakunya dan dihargai apa apa yang ia sarankan. Mereka ini biasa dikenal sebagai tokoh masyarakat. Antara satu tokoh masyarakat dengan yang lain sangat berbeda pengaruhnya terhadap masyarakat. Hal ini sangat tergantung kepada ketokohannya. Ketokohan biasanya cepat bersumber dari status sosial status ekonomi.  dalam masyarakat Desa Panarukan maka yang menjadi tokoh masyarakat paling mencolok adalah sosok seorang Kyai. Oleh sebab itu maka kami mengajak mereka bekerja sama dalam rangka menyebarluaskan sebuah inovasi yaitu biogas berbahan dasar kotoran ternak sapi. Dengan adanya kerjasama dengan Kyai atau tokoh masyarakat penyebarluasan dari inovasi menjadi lebih cepat.
Daftar Pustaka
TimPengabdian Masyarakat Dana DIPA, 2010, Pembuatan Digester Biogas Skala Rumah Tangga berbahan Kotoran Sapi, UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Difusi inovasi